Kumpulan Puisi

Lalu Dimana Peranmu Kawan…. (Sebeuah Refleksi akan ironisme pendidikan negeri)

Sebuah paradoks dari ibu pertiwi
Ada anak putih bersih harum mewangi
Berseragam rapi seolah kebanggaan sebuah negeri
Menuntut ilmu di sekolah dengan mana gengsi
Sementara di tengah pasar yang kumuh dan kotor itu
Baju lusuh mereka bermandikan keringat, beraromakan sampah
Pergi ke sebuah tempat yang mereka sebut sekolah
Bersuasanakan bising dan lalu lalang kehidupan, sekolah bawang namanya…
Karena siswanya adalah kuli mengangkut bawang dan kuli serampangan.
Sisi lain dari Anak negeri yang sekedar ingin mengecap barang mewah bertema pendidikan…
Lalu kawan..dimana peranmu

Inronisme kecil sebuah dunia
Ketika pulang anak melepas lapar di restoran yang superwah
Memesan apapun yang disuka, belanja semau saya
Kemudian pergi berwisata, Amerika atau mininal pulau dewata!!!
Bermain dengan teknologi serba guna dan indahnya dunia berputar di sekitar mereka
Lalu Si kecil yang berjualan es itu, umurnya yang baru 7 tahun
Dalam lusuh dia berkata “ biaya mengaji 3000 rupiah saja menunggak tiga bulan sekarang harga beras sudah tambah mahal”.
Waktu istirahat Sekolah dia menunggu dagangan, pulang sekolah masih menjaja di kampung dan perumahan..
Ini untuk membantu ibu dan biar saya tetap bisa sekolah ucapnya dengan sederhana..
Lalu kawan… Dimana letak peranmu

Pilu dan harapan sebuah bangsa
Saat anak kaya mendapat fasilitas sempurna,pelayanan super prima
Sekolah nomor satu, rumah sakit nomor satu, semua serba nomor satu
Sementara mereka yang buruh, nelayan, pengamen, tukang becak, atau pedagang kaki lima
Jangankan fasilitas nomor satu
Bercita-citapun kadang tidak berani, berhadap lebihpun tak kuasa
Di sela-sela nafas mereka…hidup adalah hari ini besok kita pikir nanti
Lalu kawan dimana peranmu….

Derita dan bahagia sebuah negara
Saat mobil jemputan dengan supir pribadi mengantar anak tanpa hujan dan teriknya panas
Berlarian ceria masuk pintu gerbang berlebel tempat belajar masa depan
Sarapan bergizi dan persiapan maksimal untuk mengisi kognisi
Lihatlah mereka…. Menyingsing celana, mengangkat rok dan melepas sepatu melewati beceknya tanah
Berkelok, meloncat, menghindar diantara arus sungai dan kayu-kayu pegunungan,
Bahkan melewati jembatan gantung yang hampir putus
atau menghindari hewan buas yang tak bersahabat
inilah nasib anak-anak di pelosok negeri
Bahkan untuk menuju sebuah tempat bernama cita-cita
Mereka hampir melepas separo nyawa…
Lalu kawan dimana letak peranmu….

Saat anak-anak harusnya tumbuh dengan ceria
Kemudian disuguhi buku bermakna dan dimanjakan dengan pembelajaran sederhana
Kini mereka diasupi lagu-lagu dewasa, puisi-puisi cinta, bahkan tontonan asusila
Kekerasan menjadi toleransi yang terbuka
Nilai-nilai entah menghilang kemama
Ditambah dengan tumpukan pelajaran yang menyesakan logika,
Prestasi yang dinilai dengan angka dan moral yang diukur dari harta
Beginikah anak bangsa harus tumbuh
berprestasi tanpa rasa, berkembang tanpa peduli
Lalu kawan…dimana letak peranmu

Saat remaja harusnya menemukan jati diri,
Menjadi pemuda pemudi yang tak berfokus pada diri
Melek sesama dan mencapai prestasi kemudian pelan-pelan menjadi bagian kejayaan negeri
Sekarang.. banyak mereka yang kehilangan diri
Lebih bangka dengan korean atau holywod stlyle
Tak mengerti lagi esensi perjuangan ibu kartini apalagi punya kebanggaan menjadi bagian negeri

Negeri ini bak kerajaan dongeng bagi mereka yang punya
Menjadi asa dan nestapa bagi kaum papa
Negeri ini bak limpahan surga dan utopia bagi mereka yang berkuasa
Bagai neraka bagi mereka yang tidak punya
Sebagai Anak negeri yang katanya merdeka…
Lalu kawan….dimana peranmu

Hei mahasiswa yang katanya berstatus maha
Hei pekerja yang katanya sibuk mengejar harta
Hei pengusaha yang berhitung dengan laba
Bahkan pengangguran yang sibuk mencari kerja
Dimana peranmu…..bahkan di titikmu sekarang yang mungkin sulit engkau jabarkan

Walaupun hanya dengan sedikit koin yang engkau buang percuma
Walaupun hanya dengan buku usang yang kau jadikan bungkus kacang
Walaupun dengan tenaga yang kau keluarkan dengan biaya…
Dimana Peranmu…
Untuk tidak egois dengan diri sendiri
Untuk lebih peduli terhadap mereka yang punya mimpi
Untuk melihat warna pelangi di semua anak negeri.

Mereka memanggil tanpa kata
Bahkan tidak sempat lagi untuk mengadu dan huru hara
Ketika sesama…untuk sedikit saja memperbaiki nasib dengan ilmu
Dan kesempatan yang sama untuk untuk menjadi warga yang bergelar tanah ibu pertiwi
Apakah pendidikan hanya untuk mereka yang bergelar guru
Bercita-cita mulia untuk berbagi
Atau terpanggil untuk mengabdi
Lalu kawan…dimana peranmu untuk negeri

 
 (Mei 2012…dibuat atas permintaan seorang sahabat)
 
Puisi Ku Untuk Mereka
 
Andai aku jadi burung, kan kukepakan sayapku
Terbang kesana dan menghibur mereka dengan siulan indahku
 
Andai aku jadi bintang, kan kukerlipkan semua cahayaku
Agar tak ada gelap gulita disana
 
Andai aku jadi matahari
Senyuman pagiku yang ampuh akan membuat mereka bahagia
 
Andai aku jadi kata-kata
Kan kutiliskan pesan perdamaian dan kebahagiaan di hati mereka, agar tak ada lagi sakit, sedih dan menderita
 
Andai aku Obat
Kemujarabanku akan menyembuhkan sakit mereka hanya dengan sekali minum
 
Andai aku nada
Nada indah akan selalu terngiang dalam kedamaian di hati mereka
 
Bunga…
Ya andai aku jadi bunga, keharumanku akan membuat mereka seua melupakan rasa kepedihan dan kehilangan
 
Tuhan…Aku tidak ingin jadi engkau
Engkau yang maha tinggi, maha berkuasa dan apapun bisa engkau lakukan
Kalau boleh aku memberikan saran kepadaMu Tuhanku
Jangan..jangan dan jangan ada lagi kesengsaraan dan kepedihan disana
Berilah kedamaian kepada kami semua..
 
Dan Andai…andai aku akan menjadi sesuatu
Sesuatu apapun itu. Ataupun menjadi aku sekarang
Aku ingin selalu… membantu dan membuat mereka bahagia
 
(2006)
 
 
AKU CEMBURU… TAPI AKU BELAJAR DARI NYA!!!
 
Aku cemburu… pada karakternya yang santai dan bijaksana..tak ada larangan keluar dari mulutnya
Keoptimisan sekaligus kebisuan yang begitu lama untuk bisa dipahami
Dia mengajarkan bahwa hidup harus dinikmati
Dia yang mulai mengajarkanku untuk berbagiAku cemburu… pada pola pikirnya yang sederhana
Pada tingkah lakunya yang sederhana… tetapi begitu terasa
Akan nasehatnya yang begitu sederhana..tetapi itu sesungguhnya
Dia yang begitu bermakna… dan membuat banyak orang begitu istemawa
Dia mengajarkan ku untuk melihat dengan sederhanaAku cemburu.. pada prinsipnya yang luar biasa
Luar biasa keras, luar bisa teguh
Pemikirannya yang berbeda… dan tidak menuntut pemahaman dari mereka
Itulah dia… menjadi dia… dan itu adalah dirinya
AKu mencoba belajar darinya..untuk menjadi diri sendiri dimanapun berada.

Aku cemburu padanya… yang tidak mengeluh dan berkata lelah
Pada prinsip ibadahnya… pada sesuatu yang dia perjuangkan tanpa dia katakan
Tetapi begitu lekat dihati untuk dirasakan
Dia begitu luar biasa… tanpa harus merasa luar biasa
Aku mencoba belajar darinya… bahwa keiklasan itu membuat langkah serasa ringan

Aku cemburu…. Pada rasa penasarannya akan ilmu
Pada kesediaanya untuk berbagai… dan antusiasmenya untuk selalu berbagi
Pada kesederhanaan yang mencerahkan
Aku mencoba belajar darinya…. Untuk selalu menghargai apa yang kita punya dan memanfaatkan kesempatan yang tidak selalu ada

Aku cemburu padanya… dengan sikap gila dan nekadnya
Tak peduli seberapa banyak orang meragukannya
Karena kadang kala niat tidak harus dipahami oleh semua orang
Karena kadang kala pembuktian memang menunggu saatnya
Aku mencoba belajar darinya… untuk memandang positif dari banyak keterbatasan yang kita punya

Aku cemburu… dengan cita-cita yang begitu tinggi dari nya…
Dengan rencana-rencana spektakuler di dalam hidupnya
Dan semua langkah yang dilakukannya untuk meraih mimpinya
Semua dimulai dari langkah-langkah kecil dia berkata
Aku mencoba belajar darinya… untuk menentukan prioritas dan serius dalam menjalani sesuatu

AKu cemburu… akan api semangatnya yang luar biasa
Pada ketiadaan prasangka kepada sesama
Pada caranya menjadi pemimpin… menjadi sumbu… menjadi penerang dalam kebuntuan
Menjadi solusi dalam ketiadaaan
Menjadi contoh dalam setiap langkah
AKu mencoba belajar darinya… akan banyak keteguhan di dalam hidupnya

Aku cemburu.. pada kemampuannya mendengarkan
Pada ketenangan yang luar biasa walaupun hatinya berkata tidak
Pada semua masalah yang membuat kehati-hatian dalam melangkah
Pada keraguan yang selalu berusaha diselesaikan
Aku mencoba belajar… bahwa sahabat adalah segala-galanya

AKu cemburu… pada semua pencariannya
Soal hidup dan soal Agama
Soal banyak pertanyaannya yang mulai terjawab
Pada akplikasi atas semua ilmu yang didapatkannya
Aku mencoba belajar darinya… bahwa setiap hari kita harus menjadi lebih baik dan lebih baik lagi

Aku cemburu kepada mereka…
Mereka yang begitu luar biasa
Mereka yang begitu istemewa
Aku mencoba belajar dari mereka.. Terimakasih Tuhan

 
(Januari 2011)
 
Ruang
Ruang
Aku membutuhkannya… saat dimana hanya ada aku, aku, dan aku
Maaf tidak untuk kalian kawan, ibu, ayah, atau semua orang yang mempedulikanku
Ruang yang hanya ada pikiranku, hatiku, dan segenap jiwa ku
 
Ruang..
Aku membutuhkannya… tidak untuk lari dan menghindar
Hanya untuk reflektif kepada diri sendiri
Mengasah empati untuk jiwa dan bericara dengan hati untuk sebuah rasa
 
Ruang…
Aku membutuhkannya… bukan karena aku tidak mau berbagi apalagi menutup diri
Hanya saja, kadang ada pertanyaan dalam diri yang hanya bisa dijawab dengan pertanyaan kembali
Bukan hanya persoalan merigankan diri apalagi mencari solusi…
 
Ruang…
Aku membutuhkannya… Dimana pencarian mencoba di raba dan dimaknai kembali
Bisakah tidak dipertanyakan… bukannya setiap fase di dalam diri membutuhkannya
 
Ruang… bukan berarti kekosongan
Bukan berarti ketiadaan
Apalagi kehampaan hidup
Justru… dari ruang itulah… aku mencoba tetap menjadi diri
 
Ruang… aku benar-benar membutuhkannya
Janganlah dipersoalkan lagi
(Januari 2011)
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: