Mempertegas Kasta

“Mengapa orang harus mempertegas kasta? tidak bisakah kita membuat manusia setara?!”

Suatu malam di pertengahan bulan November, saya dan beberapa teman pergi ke sebuah pernikahan mewah di Hotel Darmawangsa. Menurut Google, untuk menikah di sana diperlukan uang paling tidak setengah miliyar.  Harga wajar untuk teman saya ini, master lulusan luar negeri, bekerja di perusahaan minyak international, dan anak seorang petinggi partai besar negeri ini.

Undangan yang hadir termasuk saya tentu saja sangat menikmati suguhan makanan yang super enak dan mewah. Dimulai dari daging beraneka masakan, bebek panggang, udang, sate, sushi, salad, hingga beragam kue, es krim, dan buah sebagai makanan penutup. Juga disediakan mini bar kecil untuk tamu undangan yang ingin memesan minuman beralkohol. Di sisi lain pelaminan, tersedia band yang bergenre clasic-jazz sebagai pengiring tamu untuk menikmati hidangan. Sang penganten,  menggunakan baju kebaya merah dengan model terusan-semi tradisional yang dipadukan dengan batik untuk bawahannya. Terkesan sederhana, tetapi saya yakin payet di kebaya teman saya ini di buat dengan detail dan dengan biaya yang tidak sedikit.  Ditambah lagi, kami sebagai tamu undangan, juga dimanjakan dengan video mempelai dari mereka kecil, hingga proses akad pernihakan. Sejenak, menonton video ini menyajikan bahwa kehidupan mereka benar-benar beruntung.

Tetapi di salah satu sudut ruangan, saya melihat seorang perempuan berpakaian babysitter sedang menjaga anak kecil. Sangat mencolok di tengah ratusan para undangan yang menggunakan setelan baju terbaik, dan riasan wajah yang membuat seseorang menjadi lebih lebih cantik. Perempuan ini memberi makan kepada si kecil di saat sang majikan menikmati hidangan atau mungkin belanja sosial dengan undangan lainnya.

Pemandangan ini membuat saya berefleksi,  tidak bisakah sang majikan memintanya berpakaian keseharian saja, yang membuatnya menjadi sama dengan para undangan lainnya, yang membuat saya tidak mencirikan sang perempuan sebagai orang bayaran sang majikan.  Apakah tidak bisa, perempuan yang sudah menjaga anak majikan ini juga sama-sama menikmati makanan yang super mewah ini, tanpa harus melihat tatapan manusia lain bahwa dia berbeda.

Entah apa yang difikirkan sang majikan. Mungkin ingin mempertegas kasta, memperjelas bahwa manusia itu setara dinilai dari harta. Pemandangan yang membuat saya berjanji, tidak akan memperlakukan orang lain seperti itu.

 ***

Lagi, saya berfikir dalam atas apa yang saya lihat belakangan. Ini adalah tentang Bos yang saya hormati, ketika dalam sebuah acara yang melibatkan pemerintahan diminta membawakan tas kecil bermerk mahal kepunyaan sang eselon satu.

“seberat apa tas itu, sampai harus ada orang yang membawakannya, yang saya lihat itu hanya tas kecil yang bisa diselempangkan di bahu”.

Sepanjang acara, otak saya tidak pernah berhenti untuk bertanya. Mengamati bos saya berdiri, berjalan, dan mengikuti kemanapun sang eselon pergi. Bos saya tampaknya begitu amanah, sampai tak satu detikpun dia letakan tas tersebut dari genggaman tangannya.

Hari itu saya sedih, pertama karena sang eselon adalah orang yang saya anggap berbeda dengan pejabat tinggi negara lainnya, yang kedua karena orang yang membawa tas tersebut adalah bos yang saya hormati.

Bos saya kemudian berkata “menjadi aspri seperti hari ini, membuat saya sadar bahwa saya tidak akan punya aspri untuk membawakan tas seperti itu”.

Ya… sekali lagi saya kembali belajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: