Gagan, Anjan, Petebang, dan Saya!

WP_20160126_005[1].jpg

Gagan dan Anjan dengan mata dan senyumnya yang indah

Gagan dan Anjan adalah beberapa hal hari ini yang membuat saya tersenyum dengan lapang. Di sela banyak hal yang membuat saya marah dan geram, menjadikan uring-uringan seharian, dan malas melakukan sesuatu. Saya bersyukur hari ini pergi ke Desa Petebang, walau sebentar paling tidak saya bisa menemukan banyak alasan kebahagiaan di sana.

Gagan dan Anjan, tiba-tiba langsung ada di sisi meja tempat saya saya duduk di kantor guru. Mereka tersenyum manja, dan berkata “ ibu…….”, reflek saya mengambil handphone dan memfoto mereka berdua. Gagan dan Anjan, mengingatkan saya betapa senangnya saya bermain dan menghabiskan waktu bersama anak-anak Petebang. Butuh waktu hampir satu tahun untuk saya menjinakan hati Anjan, yang suka cemberut dan marah-marah, sedangkan Gagan, cukup beberapa jam pertemuan, dia bermanja ria dengan saya. Saya senang dipeluk dan disambut hangat oleh mereka.

Masih dengan kemarahan saya, selepas magrib tadi, saya berfikir apa yang bisa meredakannya. Apa yang bisa membuat hati saya lega selain saya menuliskan alasan kenapa marah di selembar kertas kemudian membuangnya. Ternyata jawabannya adalah dengan mengingat kunjungan singkat saya ke desa Petebang tadi siang.

Saya kemudian ingat Pak Liang yang tidak sengaja bertemu di jalan, menyapanya saat mengambil kayu bakar. Pak Liang tampak sehat kali ini dan bercerita istri dan Winan anaknya sudah kembali ke rumah. Lega dan bahagia…. Itulah yang saya rasakan untuk keluarga ini. Keluarga yang dulu pernah menjadi tempat tinggal saya saat melakukan fasilitasi. Walaupun dengan lika-liku masalah yang kami lewati, saya berterimakasih kepada  Pak Liang karena melupakan perbedaan, dan menerima saya dengan pelayanan tamu yang luar biasa. Tanpa jasa awal Pak Liang, mungkin kegiatan saya di desa, tidak akan berjalan lancar seperti sekarang.

Saya masuk ke ruang guru dengan hati yang ringan, berbeda sekali dengan beberapa bulan lalu. Semua guru menyambut saya dengan hati yang tulus. Paling tidak itulah perasaan saya sekarang. Tidak ada perasaan curiga seperti dulu, dan kami bisa tertawa bersama. Menertawakan Pak Tri yang tidak sadar tunjangannya dipotong, menceritakan jalan yang sudah semakin parah, menyaksikan Pak Kadek yang dekat dengan semua guru, atau bercerita santai dengan bu Murni tentang benang rajutan yang saya belikan di Jakarta. Saya bahagia mengambil nafas lega untuk satu tahun di Petebang. Satu tahun penuh konflik yang kemudian memulai babak baru bertema kerja sama. Saya sekarang bisa berkata, senang tidak meninggalkan mereka dulu dan memilih karir yang lebih baik.

Terakhir kunjungan saya adalah bertemu dengan Pak Wanto, kader desa SDN Petebang. Mendengarkannya bercerita jatuh dari motor, soal calon bupati pilihannya yang kalah, atau ketidaktahuan saya bahwa saat rapat di Ketapang, beberapa kepala desa menghabiskan waktu dengan minum-minum. Saya hanya tersenyum menggelengkan kepala. Cerita Pak Wanto kemudian berlanjut dengan cerita kepala desa sudah siap memberikan dana talangannya. Bahwa saya tidak perlu khawatir, pertemuan bulanan penilaian dan diskusi kesepakatan pelayanan pendidikan dapat dilakukan secara mandiri. Huhhh…. Apakah saya benar-benar lega?, saya tidak bisa mendefinisikan dengan pasti. Hanya saja, di titik ini, hal inilah upaya terbaik yang bisa saya lakukan. Bagaimana mereka kelak, saya percaya ketika sama-sama punya kepentingan baik untuk anak-anak, pasti akan selalu mudah untuk berjalan beriringan.

WP_20160126_004[1].jpg

Dan membayangkan alam Petebang yang sejuk, membuat malam saya lebih baik. Bahwa seburuk apapun jalan munuju Petebang, saya selalu bisa mengambil nafas panjang dan bersyukur kepada Tuhan karena memberikan udara, langit, dan alam seindah itu. Mengingatkan saya kembali malam ini, selepas hujan yang deras, biasanya akan muncul pelangi untuk dinikmati. Lalu masalah dan rasa marah, bukankah akan berlalu ketika dekat masa kadaluarsanya.

Benar… menulis, membuat perasaan lebih lega 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: