Doa Untuk Mama!

Dulu, saya tidak pernah paham kenapa ada orang lain yang sama sekali tidak punya kepentingan terhadap hidup kita bisa menjadi begitu tulus dan peduli. Mama… seorang janda yang kemudian menerima saya menjadi bagian dari keluarganya adalah salah satu orang yang mengajarkan itu kepada saya.

Mama…bolehkah saya panggil begitu?”, sambil merangkul tangan mama memasuki rumah baru saya di Moilong, lebih dari dua tahun lalu saat menjadi guru di sana. Masih jernih ingatan pertama saya sampai di desa Moilong, tanpa keluarga, tanpa tau harus tinggal dimana, apalagi ketika saya dikira laki-laki oleh pihak sekolah, sehingga tidak ada persiapan tempat tinggal untuk guru perempuan. Kepada keluarga inilah kemudian saya dititipkan. Hanya ada Mama dan Ida yang menjadi teman sekamar saya kemudian. Lebih dari empat bulan saya tinggal bersama mama dan Ida. Saya terpaksa harus pindah karena Mama pergi ke Kalimantan. Dengan berderai air mata mama mengantar saya ke tempat keluarga baru saya. Lalu Mama mengatakan,”setelah Mama dari Kalimantan, kamu tinggal di sini lagi ya Yanti”, permintaan yang tidak bisa saya penuhi hingga akhir waktu saya di Moilong. Di Desa itu, tidak ada lagi orang yang bisa saya panggil Mama selain Mama pertama saya. Mama yang pertama kali menerima saya dengan tulus dan ikhlas tanpa kecurigaan dan banyak pertimbangan. Keluarga sederhana yang membuat saya begitu bahagia.

Hari ini saya mendengar Mama sakit dan sudah tidak sadar beberapa hari. Air mata saya tiba-tiba saja mengalir, banyak hal yang dilakukan mama saat dulu tinggal bersamanya.  Mama selalu membuatkan saya teh di pagi hari, memastikan saya sarapan sebelum pergi ke sekolah dan ketika pulang makan siang sudah siap untuk disantap. Mama tidak terlalu sehat, dan bukan dari dari kalangan ekonomi mampu, tetapi  beliau selalu mengusahakan ada lauk tersedia untuk saya dan Ida makan di rumah. Menjelang magrib Mama biasanya mengingatkan saya untuk segera bersiap-siap pergi ke masjid, tidak lupa mengatakan hati-hati, dan selepas pulang makanan akan tersedia di meja makan.

Saya tidak pernah suka makan kepiting dan sayangnya Mama tidak tahu itu, suatu malam Mama dengan bahagia mengatakan ada kepiting disajikan untuk saya. Khusus dibuat Mama untuk saya. Melihat ekpresi mama yang begitu tulus, untuk pertama dan terakhir kali saya akhirnya makan kepiting masakan mama. Begitu juga dengan sayur, karena saya tau usaha Mama untuk membuat makanan untuk kami, menjadikan saya begitu menghargai kesederhanaan dan usaha orang lain di sekitar saya kemudian. Yah..saya belajar menghargai hal-hal kecil dan menghormati yang tidak kita sukai dari Mama.

 Mama selalu mengingatkan saya untuk sholat, mendoakan orang tua, dan baik kepada orang lain. Mama bilang “yanti… anak saya yang lain juga diperantauan, semoga dia juga dibantu dan dilindungi walaupun jauh dari saya”. Mama dulu mengingatkan saya pentingnya menghargai keluarga terutama orang tua. Beliau selalu menangis ketika bercerita tentang ibunya lalu memberikan nasehat untuk membahagiakan mereka sebelum Allah mengambil mereka dari dunia ini.

Ma… semoga cepat sembuh ya, Mama yang selalu dekat sama Allah dan menyelipkan doa untuk anak-anaknya. Termasuk untuk saya, itulah kata Mama dulu kepada saya.

Semoga Allah memberikan yang terbaik untukmu Ma… Sangat ingin bertemu denganmu saat pulang ke Moilong. Rindu dari Jauh Ma…

Orang lain yang kemudian jadi anakmu

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: