Harapan itu Bernama Perubahan

Hari ini saya kembali meneteskan air mata, bukan sedih seperti beberapa bulan lalu ketika menginjakan kaki di kampung ini, tetapi saya terharu. Di perjalanan menyusuri rimbunnya hutan tadi, saya bisa tersenyum sedikit lega, lega karena anak-anak kampung ini bisa belajar lebih baik lagi. Di bulan ke delapan saya di Tumbang Titi, saya semakin percaya bahwa perubahan itu bisa diusahakan perlahan dan bersama-sama. Hari ini saya belajar kembali bahwa bergerak bersama itu memang membutuhkan kesabaran, tetapi akan lebih ringan kemudian.

Kampung Sempekolan adalah kampung yang sangat spesial buat saya diluar pekerjaan sebagai seorang fasilitator yang harapannya memampukan semua pihak. Dua puluh empat anak di kampung ini mampu mengobati rindu untuk anak-anak saya di Moilong dulu. Kepolosan, kesederhanaan, dan semangat anak-anak juga masyarakat membuat saya jatuh cinta dan menikmati pekerjaan saya sekarang.

“ banjir ya Pak tadi…” ucap saya kepada Pak Quan salah seorang komite pengguna layanan yang terpilih.

“ iya mbk e… sepinggang saya, ini masih basah celananya”, ucap beliau kemudian.

IMG_0173

Belajar semangat dari orang tua

Sejenak saya menatap beberapa orang tua wali yang punya semangat luar biasa ini. Beberapa  anggota komite harus berjalan lebih dari satu jam untuk datang ke pertemuan kami. Kadang ini di luar ekpektasi saya, apa yang bisa menggerakkan kaki mereka menuju tempat pertemuan yang begitu jauh jaraknya? “ ini untuk anak-anak kami”, Jawab salah seorang ibu. Jika anak-anak mereka setiap hari berjalan menyusuri hutan untuk sampai sekolah, apalah artinya meninggalkan rutinitas keseharian untuk menghadiri pertemuan. “komite pengguna layanan ini tidak ada honornya ibu bapak, ini adalah untuk anak-anak kita”,  ucap saya di waktu lampau. Tak surut, juga tak urung niat mereka yang membuat sayapun menjadi semangat. Refleksi saya, tidak ada orang tua yang tidak peduli dengan anak-anaknya. Mungkin para orang tua yang sebagian tidak tamat sekolah atau hanya lulusan SD ini terbatas mendampingi membaca atau menjelaskan bagaimana rumus matematika dikerjakan, tetapi saat mereka terus berkata “ayo sekolah, belajar yang rajin, patuhi bapak guru, jangan lupa sarapan, PRnya dikerjakan..? ”, Ah…bukankah kepedulian itu begitu sederhana.

“ Pak guru bulan ini belum bisa dikasih nilai bagus karena masih suka terlambat”, kata ketua komite pengguna layanan. KPL adalah wakil-wakil dari wali murid dan masyarakat secara umum yang melakukan penilaian terhadap kualitas layanan guru di sekolah. Tidak seperti komite sekolah pada umumnya, program uji coba penelitian yang sedang dijalankan di kampung ini mencoba melihat apakah ketika masyarakat terlibat langsung dalam penilaian guru di sekolah, maka kualitas pelayanan akan semakin meningkat. Di luar itu, tentu saja ingin menciptakan suasana kerja sama antara orang tua murid dan pihak sekolah dengan kesepakatan atau janji  yang harus dilakukan kedua pihak untuk anak-anak mereka. “ ini juga sebagai peringatan buat guru-guru biar sidak* lebih baik lagi”.  Penilaian pertama kami di kampung untuk guru di sekolah diwarnai dengan semangat akan perbaikan, itu yang saya rasakan sebagai seorang fasilitator.

Saat berkunjung ke sekolah, sayapun merasakan hawa yang berbeda dibandingkan berbulan-bulan lalu ketika pertama saya datang. Sebagai seorang mantan guru, saya mampu melihat ada perubahan sederhana menuju kebaikan. Datang tepat waktu, guru selalu berdiri di depan kelas dan mengajar sesuai aturan, ada ceramah pagi untuk memotivasi anak-anak, kegiatan pramuka yang mulai rutin, tiang bendera yang sudah terpasang untuk upacara. Ah, saya percaya bahwa harapan itu bernama perubahan, tidak harus yang besar tetapi hal-hal kecil yang membuat lebih baik. Saat seorang guru berkata “ kalau memang masyarakat menilai objektif, kami sama anak mereka juga akan objektif.. misanya tidak mampu tidak akan naik!” Jika dicermati, mungkin kalimat ini bernada ancaman,  tetapi saya yakin dibalik ucapan ini, ada upaya perbaikan untuk lebih disiplin kemudian. “ ya, bulan ini berarti kami tau apa yang harus diperbaiki”, ucap guru lainnya kemudian. Bisa jadi terdengar basa basi, tetapi saya selalu optimis bahwa umpan balik dari orang lain akan berujung pada pembenahan.

" kami hari ini pramuka bu e"

” kami hari ini pramuka bu e”

Saya pernah menjadi seorang guru dimana banyak keterbatasan di dalamnya. Di empat belas bulan masa penugasan saya, salah satu refleksi yang saya dapatkan adalah apresiasi untuk para guru di daerah terpencil itu bukan hanya melulu soal tunjangan dan segudang fasilitas, walaupun harus diakui itu juga amat penting untuk mempertegas peningkatan kesejahteraan guru, konsepnya bukan pengawasan terhadap guru, tetapi bagaimana guru merasa mempunyai teman dalam berjalan dan bersama-sama untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Teman untuk mengingatkan idealisme sebagai guru, teman untuk untuk mencaci ketika salah, memberikan apresiasi ketika baik, teman yang bisa mengajarkan ketika tidak tahu, atau saling menjadi penopang untuk untuk sama-sama menumpu dalam bergerak. Di dalam sebuah sekolah, tema ini bernama kekompakan guru dan tidak dipungkiri peran kepala sekolah sangat penting untuk mewujudkannya.   Sangat indah kemudian jika didukung oleh orang tua murid dan masyarakat, dukungan bernama kepedulian yang bukan melulu soal uang tetapi perilaku-perilaku yang membantu anak semakin baik belajarnya. Sekali lagi, sesederhana memastikan anak mandi ketika pergi sekolah, membawa pensil, atau memastikan anak tidak mencampur bukunya saat belajar. Oleh karena itulah saya suka membahasakan program KIAT Guru tidak melulu soal pengawasan dari masyarakat, tetapi bagaimana semua lingkungan bersama pelayanan pendidikan yaitu guru berjabat erat membuat anak mereka lebih rajin belajar di rumah dan di sekolah.“terimakasih bu, kami menjadi menjadi lebih semangat kalau ada program seperti ini”, ucap guru lainnya lewat sms. “ kami siap melaksanakan apa yang disarankan oleh pak guru sesuai dengan kesepakatan kita dulu”,  tulis salah satu orang tua di buku penghubung anak. Saya tidak tahu bagaimana sekolah ini kemudian, tetapi saya memilih percaya bahwa kerja sama dan berjalan beriringan itu bisa diwujudkan perlahan.

 Well penutup tulisan ini, saya hanyalah seorang fasilitator kacangan yang sedang belajar berproses untuk sama-sama memampukan. Bukan hanya mereka, tetapi saya sendiri atas banyak hal yang harus dibangun. Saya tidak bisa memaksa semua orang datang, duduk, dan berpendapat, apalagi melakukan perubahan untuk pendidikan. Kepedulianlah yang menggerakkan mereka, bahwa akan ada masa, walaupun perubahan itu sangat sederhana, tetapi anak-anak mereka mendapatkan kesempatan untuk lebih baik lagi belajar.

Semoga…. Dan sayapun juga begitu.

Bapak ibu orang tua…bapak ibu guru semua…hormat saya untuk kalian semua 🙂

* sidak : anak

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: