Mari Menepuk Pundak Sendiri

Gak kerasa ya, hampir tujuh bulan saya di Ketapang Tumbang Titi, menjadi seorang fasilitator yang jatuh bangun dalam berproses. Rupanya, konsep rajin belajar yang selalu saya usung di setiap kesempatan bertemu dengan masyarakat juga berlaku kepada diri sendiri. Yak, saya belajar amat banyak sekian bulan terakhir, jauh melebihi ekpektasi saya sendiri, perintil-perintil proses yang sedikit demi sedikit membuat saya lebih dewasa memandang banyak hal. Seorang rekan bertanya, pembelajaran terbesar apa yang saya dapatkan ketika menjadi fasilitator KIAT Guru, jawabanya ternyata sederhana, saya belajar menjadi orang yang lebih berani. Mengalahkan banyak kekhawatiran dan ketakutan saya sendiri. Huhh… pada akhirnya saya bisa berujar, mari menepuk pundak sendiri atas banyak usaha yang sudah saya upayakan.

 Saya belajar melewati medan yang cukup sulit, memilah jalan yang bisa saya lakukan sendiri, atau mengukur kemampuan bahwa saya membutuhkan orang lain untuk mengantarkan saya. Sesederhana lebih yakin melewati jembatan yang biasanya selalu membuat dek-dekan, atau mengindahkan rasa takut tergelincir dijalan lumpur dan aneka kubangannya.  Saya belajar lebih berani, menghadapi beraneka ragam konflik, resistensi, dan kejijikan politik kepentingan sambil belajar untuk berfikir jernih atas apa yang  yakini. Bahwa ada nilai yang menjadi pegangan saya, sekeruh apapun situasi yang saya hadapi. Nilai itu adalah membuat anak-anak bisa belajar jauh lebih baik dari yang mereka rasakan sekarang. Well, pada akhirnya saya belajar lebih berani berkata tegas atas yang seharusnya, menarik batas dimana saya harus berdiri, dan terus maju atas sesuatu yang memang wajar apa adanya.

 Bolehkan saya mengapresiasi diri sendiri, atas pembelajaran luar biasa yang saya dapatkan. Saya tidak tahu ilmu ini akan bermanfaat apa kelak di dalam hidup saya. Menyelesaikan memfasilitasi lima desa dengan pernak-pernik tantangan yang berbeda, merasa  gagal di satu waktu, merasa frustasi di masa lainnya, tetapi ada saat dimana saya bisa menarik nafas lega dan berkata “ semoga anak-anak bisa lebih baik”.

Dan semoga, nanti….. saya akan jauh lebih berani memperjuangkan apa yang benar, dan berkata tidak terhadap apa yang batil.

Semoga Dia selalu menjaga

Catatan Malam

Dibuat saat saya akhirnya bisa merefleksikan apa yang saya lakukan sekian bulan terakhir. Doa saya tetap saya… semoga bermanfaat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: