Tentang Rokok

Sejujurnya saya agak frustasi dengan diri saya sendiri akhir-akhir ini… Shitt… saya menjadi sangat sensitif dengan asap rokok yang di setiap pertemuan di masyarakat yang saya fasilitatori penuh dengan ahli hisab. Apa saya bisa melarang, ternyata saya belum merasa sanggup menghentikan  kesenangan mereka ini. Rokok, bagi sebagian orang di kampung yang menghadiri pertemuan  semacam pemacu adrenalin untuk berani berbicara dan ngotot-ngototan. Begini perilaku yang saya amati, para bapak-bapak itu, akan mengangkat kakinya sebelah, dan tetap membiarkan kaki lainnya bersila, mengambil korek di depannya, mengebulkan asap sehisab dua hisab, lalu memadupadakankannya dengan kopi. Budaya rokok sejalan dengan budaya minum kopi di beberapa kampung. Beberapa batang rokok sebanding dengan secangkir kopi. Tapi, Herannya saya, tuan rumah biasanya langsung menyajikan teh kepada ibu-ibu dan kopi kepada bapak-bapak. Kecuali ada permintaan sebaliknya dari yang disuguhi barulah diambilkan yang berbeda.  Bapak-bapak biasanya setelah merokok akan berusaha mendengarkan dan mengamati tema pembicaraan, beberapa detik kemudian  bisa jadi  mengangkat tangan untuk bicara atau langsung main potong aja pembicaraan rekannya.

Beberapa ibu juga ada yang perokok, tapi pengamatan saya ketika ibu-ibu merokok adalah jenuh atau gerah dengan pertemuan tetapi ibu-ibu  yang perokok jarang beragument kecuali ditodong pendapatnya. Ibu-ibu yang fokus dan semangat untuk berdiskusi adalah mereka mengarahkan pandangannya selalu kepada saya, kadang mangguk-mangguk, mengerutkan kening, tersenyum atau berguman sendiri, ada yang berani langsung unjuk jarinya tanda mau bicara, ada yang harus saya lempar bolanya dulu.

Pengalamannya saya di Kampung Petebang Beberapa hari lalu adalah masih soal rokok sodara-sodara. Ketika berkunjung ke rumah kepala desa dengan beberapa orang desa dan  teman saya. Sebenarnya, saya tetap konsisten percaya bahwa saya tidak akan sesak nafas hanya karena asap rokok. Secara orang rumah saya perokok semua. Kecuali kalau saya lagi batuk-batuknya. Tetapi ternyata kali ini berbeda, saya akhirnya mengaku kalah dengan asap rokok dimama semua orang terus mengambil batang demi batang lalu terus bercerita sambil mengisap barang menjengkelkan ini. Kefrustasian saya bertambah ketika kepala desa kemudian berdiri, dan mengambil cadangan rokoknya yang berkotak-kotak lalu mempersilahkan lagi tamunya merokok (Saya hanya bisa melongo melihat puluhan bungkus cadangan rokok kepala desa). Baiklah, sebagai orang yang berniat untuk belanja sosial untuk kelancaran pertemuan yang agak berkonflik besok harinya, sekuat tenaga saya dengan wajah manis dan ceria harus menunaikan tugas dan misi sehingga harus bertamu malam-malam begini. Endingnya bisa ditebak, ketika pulang melewati hutan dengan taburan indah bintang-bintang dan planet yang bersinar terang tetapi dingin yang mencekam. Hohh… paling tidak obat yang sebelumnya kadaluarsa sudah dibeli ulang.

Intinya dalam tulisan ini, saya ingin menghujat para perokok…lha…berarti menghujat ayah, kakak, dan adik saya sendiri dong ya. Juga beberapa teman dekat saya. Ah, bodoh…Sadar gak si, rokok itu merusak kesehatan, bukan kesehatan kalian aja si, tetapi kesehatan orang lain juga. Akhirnya saya hanya bisa berucap “bagaimana anaknya mau tidak merokok, kalau bapaknya juga merokok”,  sindiran yang mungkin bagi masyarakat hanyalah bentuk petuah aja, tetapi tidak menggambarkan kefrsutasian saya.

Walaun saya sedikit mencoba ambil hikmah, bukankah lebih baik dari pada mereka minum (Tuak) dan hadir di pertemuan sambil ngoceh… Well, rokok mungkin lebih bisa ditolerir kali ya!

*Bagian kesalnya ketika jadi fasil di masyarakat…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: