Curhat Soal Medan, Belajar Lebih Pelan!!!!!

Jujur, saya merasa amat frustasi kemaren, bukan dengan masyarakat atau kemampuan memfasilitasi saya yang juga dalam tahap berkembang. Tetapi medan, jalanlah yang membuat saya begitu frustasi, bagaimana tidak dihari pertama saya kembali bekerja di desa diselingi dengan dua kali jatuh tergelincir, dua kali masuk lumpur selutut saya, dan tak terhitung berkali-kali masuk lumpur yang masih bisa saya kuasai keadaanya.  Ok, untuk memperparah keadaan cerita saya, saat motor saya masuk lumpur, saya sedang berada di sekitar hutan, tidak ada satupun yang lewat, hahhhh….mau jadi tarzan teriak-teriak juga gak ada yang denger. Saya mau mundur, tapi badan saya terlalu kecil untuk ngangkat tu motor, maju malah semakin anjlok… Akhirnya, saya maju saja dengan lumpur yang kemudian menggenang di atas paha saya, doa saya cuman satu, semoga ni air lumpur tidak bikin mati motor saya. Ah masa!, mana fotonya????,  ya kali saya sempat foto… bisa jalan dengan tenang  aja udah syukur.. Percayalah, dan di motor sambil nyanyi lalalalalalallalalal…saya juga menangis. Hiksss…. Tumben banget saya mengasihani diri sendiri kemaren. Tapi saya memang kasian si…Hiksssss!!!!!

“Jatuh ya…kata ibu kepala sekolah menyambut saya di sekolah”,  sejujurnya saya agak malas mengaku dan menjadi perbincangan lagi.. “ biasa bu, jalannya kayak setan, masuk lumpur”,  Saya kemudian membasuh celana baru saya (hikkksss,,,baru dari penjahit pas saya pulang), dan sepatu kets yang baru dicuci di kamar mandi sekolah (parahnya, seorang guru hampir marah sama anak-anak karena difikir menginggalkan sepatu ketsnya di sekolah, ibu….itu sepatu sayaaaaa!!!!). Seketika, kamar mandi berubah menjadi kuning lumpur….”beginilah bu, sekolah terpencil, susah jalannya”  kata ibu kepala sekolah yang menghampiri saya dengan wajah kasian. “ gak papa bu, udah biasa kok saya begini”,  ucap saya, yang sebenarnya mewek di jalan.

Saya masuk ruangan guru, dan ditawari makan. Kebetulan saya datang juga karena undangan dari sekolah disyukuran tahun baru.  Tak malu-malu lagi, habis baca doa, saya yang kelaparan langsung ngelahap tu opor ayam, sayur nangka, dan mentimun acar. Untung saja saya tidak makan jengkol ya… kalau gak sudah khilaf juga. “ ayo tambah bu…”, kata salah satu guru. Ah, fikir saya, tak perlu disuruhpun saya akan segera nambah nasinya. Saya lapar selaparnya, dan sepertinya saya butuh dua  kali tenaga untuk kembali ke kecamatan dengan jalan aroma syaitan begitu.

Masih soal jalan, saya kemudian berkunjung ke kader desa, dan how lucky I am,  hujan deras mulai turun. Well, saya pikir mungkin lebih beruntung kalau hujan , paling gak jalannya gak selicin tadi. Tetapi catatan untuk saya yang mudah sesak nafas dan kedinginan ini, jangan terlalu bangga dengan hujan, karena benar saja, sampai rumah, selain efek sakitnya jatuh, saya juga langsung demam.

Ok, mari kita lanjutkan, positifnya saya kemudian bertemu dengan kader impian saya…Yeayyyy…. Semoga kami bisa bekerja sama. Jujur saja, saya tidak terlalu suka dengan desa sekompleks ini, jadi dengan adanya kader desa, mungkin bisa menetralkan. Semoga kami bisa sama-sama berproses. Dari rumah bu Ati, saya kemudian menuju desa berikutnya, sebenarnya saya bisa saja pulang dan istirahat, tetapi rasanya nanggung aja. Yah,,,, Nanggung yang juga ada konsekuensinya. Jalan menuju desa berikutnya ternyata tidak lebih baik. Walaupun saya sudah belajar dengan maksimal mengenali jalan. Catatan saya, lebih baik kamu mengambil jalan yang ada bekas ban motornya walaupun agak dalam, dari pada jalan bubur lumpur yang terlihat surut.. Why?, seperti pengalaman saya beberapa jam sebelumnya, nafsu akan ketenangan bubur lumpur inilah yang menggenangkan saya. Bubur lumpur, mungkin istilah yang tepat kali, atau lebih lumak lagi, macam bubur femina makanan bayi itu. Saya biasanya sangat suka perjalanan ke Pemuatan Batu yang di kiri-kanannya biasanya ada padang ilalang yang sangat indah. Tapi kemaren, hahhhh….saya hanya ingin segera sampai.

            Saya memarkir moror di rumah penduduk, agak jauh dari jembatan yang harus saya lewati kemudian. Lho…. Kenapa gak naik jembatannya aja motornya?,  pertama, saya pernah jatuh dari jembatan yang tingginya gak seberapa, jembatannya juga lebih lebar. Kedua, jembatan pemuatan batu hanya cukup untuk satu motor aje, gak ada penyangga kiri-kanannya lagi. Kalau jatuh dan musim pasang begini, sudah dipastikan saya akan larut. Lalu, di papan jembatan, ada beberapa yang ilang, kalau saya salam ambil strategi, bisa dipastikan banya akan masuk tu papan, dan oh iya….saya sudah sekali mencoba melewati tu jembatan, yang berakhir dengan keringat dingin, dan pulangnya minta seberangin orang. So, cukuplah ya pengalaman traumatik saya dengan jembatan. Saya masih tetap ingin pulang dengan selamat!!

            Senangnya saya, sampai dusun bertemu beberapa anak dan mereka bertanya, kapan akan belajar lagi. “ sabar ya sanyang, nanti kita belajar lagi ya”, lalu ada anjing agak galak yang mengaung dan mengikuti saya, anak-anak kemudian membantu saya mengusir tu anjing. Saya sebenarnya mau duduk dan mengambil nafas di rumah pak Kadus, well, how lucky I am again!!!,  beliau sedang di kebun dan tidak ada di rumah. Pelajarannya adalah jangan asal datang aje…janjian dulu kek…emang kamu presiden main asal datang aja!!!!

Saya akhirnya memutuskan pulang dengan rute yang cukup jauh, mengambil alternatif hampir menuju kecamatan lain. Ah, bodoh amat, yang penting saya tidak berhadapan dengan lumpur yang bikin istigfar berkali-kali. Eits… jangan senang dulu, siapa bilang??? Tuhan memang memberikan kesenangan di beberpa kilo meter jalan beraspal, tetapi di beberapa titik, saya bertemu jembatan rusak licin dan lumpur yang cukup dalam. Hahhh…. Saya ingat, dua hari sebelumnya saya harus antri di jalan ini, karena ada mobil yang amblas dan saya kebelet pipis. Rasanya menyiksa, padahal sudah dekat dengan kecamatan saya. Tapi apalah arti beberapa kali masuk lumpur untuk menggenapkan hari saya.

Sampai kecamatan saya kemudian mampir cucian motor, alasannya selain untuk membersihkan motor saya juga membersihkan diri saya. Saya gak mau ibu kos saya agak khawatir melihat penampilan saya yang udah mirip pembajak sawah yang salah kostum. “ Pak saya minta disemprot juga ya”,  kata saya sama di bapak. Ha…kasian ya saya, saya udah sama kaya motor, disemprot dari pinggang mpek kaki, tinggal disabunin aja lagi yang belum.

“Saya jatuh lagi mas… “, ngadu saya kepada teman-teman setim, yang berujung dengan banyak pertanyaan dan nasehat untuk segera mengganti motor saya. Yang aslinya ini soal si kemampuan driver yang gak canggih-canggih, dan saya yang suka terburu-buru. Lalu saya terlalu demam untuk banyak menanggapi, dan untunglah saya mengikuti saran teman saya yang dokter untuk minum obat.

Well, pelajaran apa yang saya ambil dari mengasihani diri sendiri. Saya sadar, saya tidak  boleh terburu-buru. Sisi lain kepribadian saya mungkin ya… Jadi, ketika saya terburu-buru, saya menjadi tidak fokus dan ingin cepat selesai. Akhirnya tidak menikmati proses, hikmahnya adalah setelah kontemplasi kejatuhan saya ini, saya kemudian berfikir bahwa di masyarakatpun tidak boleh terburu-buru, saya dan mereka harus sama-sama belajar dan berproses untuk membangun kesepakatan, persetan dengan output, saya hanya ingin segala hal yang dilewati menjadi sama-sama bermakna. Lucunya, jatuh dan masuk lumpur berkali-kali yang menyadarkan saya, membuat segera menelfon korkab dan mengusulkan jadwal baru. (emang sembarangan si saya…ha). Saya berharap semoga persiapannya menjadi lebih matang, tidak seburu-buru saya ketika ingin sampai tujuan.

Hahh…. Akhirnya, sekarang saya tidak sefrustasi kemaren, saya lega sudah tidur seharian, meluangkan waktu membaca buku, dan menulis sumpah petuah di laptop ini.

Well,  just take a deep breath and try to see how you can make things work rather than complain about they’re wrong. Semoga selalu demikian, karena pasti banyak hal sudut pandang positif di dunia ini bukan. Dan tentu saja, saya harus try to have a perfect balance (buat tuhan, diri, dan lingkungan sekitar)

Semoga bukan tulisan nyampah yang gak penting ya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: