Nak, Terus Semangat Ya !! (Cerita Sempekolan)

“Saat kita dilahirkan lebih beruntung, Tuhan pasti ingin kita melakukan sesuatu untuk sesama”

Kemaren saya berkunjung kembali ke sebuah kampung bernama Sempokolan, kampung kecil dengan sekolah yang hanya diisi 24 siswa. Mini ya sekolahnya, seharusnya dengan siswa sejumlah itu akan banyak hal yang bisa dipelajari oleh anak-anak dengan total empat guru yang mengajar. Harusnya walaupun mereka berada di daerah terpencil, kesempatan untuk mereka jangan sampai terpinggirkan bukan!!!. Saat tiba di rumah, saya kemudian menjadi begitu sentimental. Seketika, saya tidak bisa berhenti menangis, entah karena sedih, atau marah dengan keadaan. Saya merasa hidup menjadi sangat tidak adil bagi anak-anak yang harusnya punya kesempatan yang sama untuk bersekolah.

Saya akan bercerita sedikit soal kampung ini. Kampung ini tidak jauh dari pusat kecamatan, mungkin sekitar 7 Km. Hanya saja perjalanan menuju ke sana harus melewati hutan rimbun, perpaduan antara karet, bambu, juga ladang penduduk. Dulu, jalan menuju ke sana begitu sulit dilewati, sekarang sudah lebih baik karena ada bantuan pembangunan jalan oleh PNPM. Jujur, saya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib saya harus bolak balik jika jalannya tidak diperbaiki. Ada dua alternatif jalan menuju kampung ini, yaitu menggunakan motor, atau jalan kaki. Di kampung Sempokolan ada satu sekolah lokasi penelitian saya. Separo anak yang bersekolah berasal dari kampung Lubuk Barus, yang berarti harus menempuh sekitar satu sampai dua jam berjalan kaki dari kampung Sempekolan. Jalan di sini masih sepenuhnya hutan dengan tanah berlumpur dan rawa. Motorpun sangat sulit menuju ke sana, sehingga anak-anak untuk sekolah biasanya berangkat pukul setengah enam pagi setiap hari untuk bisa merasakan mewahnya pendidikan.

" Saya lagi bunuh belalang yang makan ladang bu"

” Saya lagi bunuh belalang yang makan ladang bu”

Sebagian penduduk kampung mengandalkan hidupnya dari bertanam karet. Harga karet sekarang begitu anjloknya bahkan tidak sampai sekilo beras. Untuk mendapatkan satu kilo karet, penduduk harus menoreh puluhan pohon dan hanya dihargai 3-6 ribu per kilonya. Mereka berangkat sebelum matahari menampakkan cahayanya, biasanya kemudian dilanjutkan dengan berladang untuk mencukupi kebutuhan beras sepanjang tahun. Sedihnya, ada serbuan belalang yang memakan habis ladang penduduk. Dampaknya ekonomi masyarakat sekarang semakin susah bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk keperluan anak sekolah. Anak-anak bahkan kerap harus ikut orang tuanya tidur di ladang yang jauh dari rumah (biasanya berpindah-pindah) dan tidak masuk sekolah.

Di perjalanan menuju kampung Sempekolan, saya bertemu dengan beberapa anak sedang berjalan ke luar hutan.
“ Mau ke mana kalian?”, Tanya saya kepada anak-anak ini.
“ Mau ke Tumbang Titi e Ibuk, besok mau lomba tarik tambang sama gerak jalan”. Jawab salah satu anak
“ Jalan kaki?!!!! Tidak mau tunggu ibu dulu sebentar, ibu mau ke kampung, nanti langsung pulang” , Jujur memikirkan mereka berjalan kaki, rasanya saya ingin membatalkan perjalanan saya dan mengantarkan mereka terlebih dahulu satu persatu. Cuaca sedang tidak bersahabat, dan sayapun harus segera bertemu dengan salah satu warga di kampung.
“ tidak apa-apa ibu, sambil santai” jawab anak lainnya.

Saya segera melaju dengan motor menuju kampung, bertemu dengan salah satu warga, mendiskusikan beberapa hal dan pamit dengan segera. Mungkin lebih dari 30 menit saya ada di kampung, dan saat saya bertemu anak-anak ini kembali, mereka baru saja keluar dari hutan dan menuju pusat desa untuk ke kecamatan.
“ Mau ibu antar?”, Ucap saya kepada mereka.
“ Tidak usah ibu, sudah dekat, jalan saja” Tolak mereka

Saya memandang anak-anak ini satu persatu, mereka benar-benar tidak mau saya antar. Mungkin karena jalannya berempat, jadi mereka lebih memilih jalan bersama-sama dari pada saling tunggu. Ah, Anak-anak ini toh sudah terbiasa jalan kaki setiap harinya, bagi saya saja mungkin jalan sebegitu jauhnya adalah luar biasa. Jujur, saya masih belum sentimental pada bagian yang ini. Saya masih memberikan semangat buat mereka besok, dengan mengatakan “besok juara ya sayang, kan kalian udah latihan jalan, besok nanti ibu datang ke lapangan”. Anak-anak ini sangat pemalu, mereka cuman tersenyum menanggapi ucapan saya.

Anak-anak yang membuat saya belajar banyak tentang syukur

Anak-anak yang membuat saya belajar banyak tentang syukur

“ Ayo ibu foto kalian ya, buat kenang-kenangan”, saat ingin mengambil HP dari kantong, seketika mata saya tertuju kepada salah satu anak yang memeluk tasnya. Beberapa detik saya terdiam dan tiba-tiba merasa benar-benar patah hati karena tasnya sobek parah. Saya tau anak ini dari Kampung Lubuk Barus. Membayangkan anak ini berjalan pagi dan siang hari dengan tas sesobek itu rasanya hati saya benar-benar hancur. Rasa sedihnya mungkin sama ketika murid saya Andi dulu hampir tidak naik kelas karena belum bisa membaca atau sesedih saat saya harus mengucapkan perpisahan kepada anak-anak saya di Moilong dengan banyak kekhawatiran tentang mereka. Bedanya, untuk anak-anak di Sempekolan ini, saya tidak bisa melakukan banyak hal seperti saya menjadi guru saat saya di penempatan Pengajar Muda dulu.

WP_000128

Jalan menuju kampung ketika banjir

Saya pulang dengan perasaan sangat galau. Mereka hanya terbatasi 7 Km dari pusat kecamatan, tetapi untuk mendapatkan pendidikan yang layak begitu sulitnya. Bagaimana dengan anak-anak daerah terpencil lainnya yang jaraknya puluhan kilometer?. Saya rasanya begitu marah, tapi entah harus kepada siapa. Membayangkan hujan deras dan jalan menuju hutan banjir, anak-anak ini jelas tidak ada yang ajar karena tak ada satupun guru yang akan datang. Ketika malam mereka ingin belajar (ah, sudahlah…), apakah mereka akan belajar jika tidak ada penerangan di kampung, apalagi ketika tidak diingatkan orang tua yang sudah lelah berladang setiap harinya?. Apa perasaan mereka setiap hari berjalan dari hutan menuju sekolah dan mengetahui tidak ada satupun guru yang datang?, Sungguh, saya benar-benar patah hati.

Melihat robeknya tas salah satu anak ini adalah puncak kesedihan saya atas banyak interaksi di kampung ini. Bagaimana seharusnya semua orang bisa tersinergikan kepeduliannya. Saya selalu ingin berteriak “mari kita tempatkan kepentingan anak-anak, seterbatas apapun kita!!!”, mau sampai kapan mengandalkan alam untuk bertahan hidup. Jujur, saya juga tidak menyangka bisa menjadi mellow melankolis begini saat tiba-tiba teman saya mengingatkan, “jadi fasilitator dan pemberdaya itu tidak boleh kebawa emosi lho”, dan saat guru saya bilang kalimat sederhana “ above all, ini semua masalah duniawi”.

IMG_1296

Ini mereka dalam formasi lengkap satu sekolah

Hari, ini saat saya bertemu anak-anak ini lagi di lapangan selepas gerak jalan, entah kenapa saya lebih tenang. Mereka masih malu-malu kepada saya walaupun sudah cukup sering bertemu. “ besok senin kita belajar bersama ya sayang…”, mereka hanya menjawab “iya..”, ya ampun, pelit banget sama kata yak!, baru kali ini saya belum bisa menaklukan anak-anak di pertemuan pertama (mulai songong ni yan!!). Hah…well, saya percaya ada alasan kenapa semua orang dilahirkan dan dikasih hidup sama Tuhan di dunia ini. Begitu juga saya dan anak-anak ini saat kami kemudian saling dipertemukan. Anak-anak ini membuat saya lebih belajar bersyukur atas banyak hal di dalam hidup saya, dan menyindir telak bahwa dengan ilmu atau apapun yang saya punya harusnya banyak hal yang bisa saya lakukan.

Saya belajar lagi bahwa :

Sebenarnya di luar kampung kecil mereka masih banyak orang yang peduli, tetapi tidak saling terhubung dengan mereka. Membayangkan tas sobek, tidak pakai sepatu, buku bacaan, akses jalan yang sulit, ataupun penerangan bukanlah itu masalah yang sederhana? Saya belajar kembali bahwa bagaimana menyambungkan kepedulian agar tidak bergerak sendiri, itulah mungkin yang harus dilakukan.
Sambil kemudian terus bertanya kepada diri sendiri? Di luar pekerjaan saya sekarang, apa yang bisa saya lakukan untuk ke 24 anak ini?

Nak, terus semangat ya!, itu doa saya dipenutup malam ini untuk kalian 🙂

Iklan

1 Komentar (+add yours?)

  1. nunungnhd
    Des 02, 2014 @ 15:42:54

    Akkkk aku pengen sharing banyak. Huwaaa… Gabisa ke Jogja Desember ini 😥

    Suka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: