Belajar Pendidikan Dari Akar Rumput (Edisi Belaban Tujuh)

Apa yang membuat saya kemudian begitu jatuh cinta dengan pekerjaan saya sekarang? Jawabanya adalah karena saya bisa mengenal lebih banyak perspektif akar rumput terutama tentang pendidikan.  Bertemu dengan banyak kebuntuan di satu sisi, tetapi juga keoptimisan di sisi lainnya. Saya menjadi semakin percaya bahwa banyak orang yang peduli dengan kualitas pendidikan di negara ini.

Beberapa hari yang lalu saya menghabiskan waktu di salah satu desa di Tumbang Titi, namanya adalah desa Belaban Tujuh. Salah satu desa trans yang tumbuh dengan amat pesat lima tahun belakangan. Desa ini mulai berdiri sekitar tahun 1996 saat kaum trans mulai berdatangan. Dari 250 kepala keluarga sekarang, sebagian besar penduduknya berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Barat. Menurut Pak Aris salah satu penjaga sekolah di SDN 27, alasan beliau ikut program trans adalah saat ada bencana merapi di tahun 2006. Beliau diberikan tanah setengah hektar untuk digarap dan jatah hidup satu tahun dari pemerintah. Begitu juga dengan para trans yang lain. Di lingkup Tumbang Titi, mungkin desa ini adalah desa yang paling muda, mengingat ada kampung Petebang dan Beringin yang usianya sudah lama dan ada di peta Kalimantan Barat. Namun, jika di sana tidak ada listrik sama sekali dengan infrastruktur terbatas, di Belaban Tujuh saya melihat sebaliknya. Semua tampak hidup dan berkembang, ada warung makanan yang buka hingga malam, ada tempat fotocopy dan printer, ada bengkel motor, juga listrik 24 jam. Saya melihat miniatur desa di Jawa yang penduduknya saling mengenal dan menyapa.

Yasinan dan bersanji ala ibu-ibu

Yasinan dan bersanji ala ibu-ibu

Ketika saya tiba di desa, saya diajak oleh bu Rita pergi ke yasinan. Ada budaya “jimpitan” di yasinan tersebut, di mana ibu-ibu datang membawa beras dari rumah, dikumpulkan untuk dijual kembali. Hasil uangnya masuk kas bersama. Yasinannya disertai bersanji, Semacam pujian untuk Nabi Muhammad dengan  menggunakan rebana  khas Jawa Timuran, setelah itu ada makan nasi bersama-sama. Tuan rumah akan mendapatkan uang dari iuran sebagai ganti menyediakan konsumsi dihari itu. Desa Belaban Tujuh kegiatan keagamaannya sangat aktif, Ada 12 RT di desa ini, dan ada 12 kelompok yasinan juga.  Belum lagi yasinan PKK dan yasinan desa, sampai kata Pak Tarmizi (kepala sekolah), kalau ada yang masuk neraka di desa ini keterlaluan, karena sudah banyak siraman agamanya.  Selepas magrib banyak penduduk berjamaah ke masjid dan ada anak-anak yang mengaji di sana. Perasaan saya seperti kembali ke desa Moilong tempat dulu bertugas sebagai pengajar muda (Ah, anak-anak dan masjid selalu bikin bahagia memang yak!).

Kunjungan pertama saya sekitar sebulan yang lalu. Saya masih ditemani oleh UPPK Tumbang Titi. Saya sungguh terkesan dengan bangunan masjid yang begitu megah. Bahkan lebih megah dari pada masjid di kecamatan. Saya diceritakan bahwa masjid ini dibangun dari swadaya masyarakat. Tidak ada bantuan sepeserpun dari pemerintah. Penduduknya menyisihkan tiga persen setiap bulan dari total pendapatan sawit mereka untuk membangun tempat ibadah bersama. Saya kemudian mulai terkesan dengan desa ini.

Kunjungan berikutnya, saya berkenalan dengan kepala desa yang ciamik, namanya Bu Surtini. Semangat membangun desanya sangat tinggi, dan cerminan perempuan yang yang ingin maju (bangga saya jadi perempuan kalau ketemu pribadi seperti beliau), sangat mengerti isu pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan bagaimana semua pihak harusnya terlibat dalam pembangunan desa.  Dari bu Surtini saya belajar untuk peka menjadi pemimpin baik terhadap warganya sendiri, ataupun peka terhadap banyak informasi dan kesempatan dari dunia luar yang dapat memberikan kontribusi positif terhadap desa. Program PNPM paling sukses mungkin ada di desa ini. Banyak kader yang aktif, dan kelompok simpan pinjam terus berkembang. Kemampuan Bu Surtini mendorong orang-orang di sekitarnya untuk ikut maju patut diacungi jempol. Caranya begitu sederhana, dengan memberikan kesempatan menjadi MC di sebuah acara untuk melatih percaya diri, atau mengirim masyarakat yang berpotensi untuk mendapatkan pelatihan menjadi kader. Menjadi pemimpin menurut saya bukan sekedar kemampuan mengelola manusia, tetapi memampukan mereka agar lebih berdaya. Secara organis, bu Surtini memiliki kemampuan tersebut.

Saya melihat perkembangan desa yang begitu pesat selain karena faktor ekonomi yang semakin membaik, juga semangat membangun dan saling menjaga yang tinggi. Ada kegiatan  keroyongan kampung, kegiatan bersama pemuda di bidang olah raga, dan saat pembangunan fisik seperti gedung TK di desa, masyarakat juga memberikan swadaya berupa sumber daya alam. Wajar jika desa ini mendapatkan juara lomba desa hingga tingkat provinsi, penilaiannya tentu bukan hanya soal infrastruktur yang tersedia dengan baik, tetapi bagaimana masyarakat ikut aktif membangun desanya.

Mari Menilik Pendidikan di Desa Belaban Tujuh

Saya pernah menjadi guru selama empat belas bulan di Banggai, entah bagaimana saya menjadi memiliki kepekaan tersendiri tentang sekolah yang auranya positif atau sebaliknya harus banyak yang dibenahi. Menginjakan kaki ke SDN 27, jujur hati saya sangat bahagia, bahkan hanya melihat bangunannya saja dan belum berinteraksi dengan anak-anak ataupun guru.  Bukan soal kemegahan bangunan, tetapi bagaimana sekolah dirawat dan dijadikan seperti milik bersama yang harus dijaga.

Arham, murid kelas dua di beranda sekolahnya

Arham, murid kelas dua di beranda sekolahnya

Halaman sekolah luas dan bersih dan ada warung kecil dengan jajanan dan nasi untuk anak-anak jika tidak sarapan di rumah. Papan nama sekolah dan gugus pramuka di depan sekolah, dan di depan gerbang sekolah ada tulisan selamat datang yang di bawahnya bertuliskan visi sekolah “terciptanya siswa yang unggul dalam berprestasi, memiliki kecakapan hidup, beriman dan bertakwa serta berbudaya”. Menengok ke dalam, ada bunga dan tanaman di depan kelas yang cukup terawat, ada lapangan voly di halaman sekolah banyak tulisan di teras sekolah yang sengaja dibuat untuk mengingatkan para siswa. “Terapkanlah Lima 5 (sapa, salam, senyum, sopan, sayang);  Bahasa menunjukan bangsa, Budi menunjukan diri, iman menunjukan pedoman;  Lestarikan budaya malu. Malu datang terlambat, malu tidak disiplin, malu tidak mengerjakan PR, malu melanggar peraturan sekolah;  Laksanakan Program Desa, liat sampah langsung ambil; bersih itu sehat dan Indah”. Hemat saya, hanya orang-orang yang peduli yang bisa menambahkan detail positif seperti ini untuk anak-anak.  Memasuki ruang perpustakaan ada tulisan besar kembali “Sebelum masuk perpustakaan, pastikan hati dan kakimu bersih”, Ada piket perpustakaan oleh anak kelas 5 dan 6 setiap harinya, sehingga perpustakaan terkesan rapi dan bersih. Administrasi di ruang kantor juga cukup lengkap, informasi soal sekolah, guru, murid, dan komite sekolah dapat dilihat dari papan pengumuman. Lantai sekolah dari kayu ulin, anak-anak dan guru melepaskan sepatu sebelum masuk ruangan atau kelas, dan kamar mandi siswa dan guru juga bersih untuk digunakan.  Jujur, saya pribadi hampir lupa berada di sekolah kategori daerah terpencil dengan puluhan hektar sawit yang mengelilinginya (berasa sekolah di kota)

Upacara yang khidmat di hari senin

Upacara yang khidmat di hari senin

Saya di sana bertepatan dengan hari senin. Pagi sebelum sekolah masuk diputar lagu perjuangan yang cukup keras didengar oleh penduduk desa, saat guru berdatangan ke sekolah murid-murid menghampiri dan mencium tangan guru sambil menyapa. Petugas upacarapun dilatih cukup baik, dengan selempang khusus untuk petugas, dan anak-anak yang datang terlambat atau tidak lengkap pakaiannya barisannya terpisah dengan orang lain. Menjelang masuk ke kelas, ada beberapa anak yang memanggil guru mereka ke kelas untuk segera belajar, dan ada anak lainnya yang membantu membawakan buku ke kelas.  Istirahat belajar dua kali, dan ada guru piket yang bertugas mengingatkan guru masuk dan membunyikan bel. Suasana sekolah begitu riang dan akrab.

Terpukaunya saya berlanjut ketika ngobrol bersama guru-guru, tantangan pendidikan yang dirasakan bukan lagi berkutak soal tunjangan, lokasi rumah yang jauh, atau manajemen sekolah yang jelek. Mereka berbicara soal kurikulum 2013 yang bisa sangat menyenangkan bagi anak jika sarana sebagai media ekplorasi belajar lengkap (wow… baru kali ini saya mendengar guru begitu tulus mengatakan senang kurikulum 2013, thanks to Pak Nuh). Guru-guru yang ingin belajar dan kesadaran bahwa walaupun mereka berada di lokasi yang jauh dari kota, bukan berarti secara pemikiran juga tertinggal. “apa yang membuat sekolah bisa menjadi lebih baik seperti sekarang bapak dan ibu”,  tanya saya pada diskusi bersama kami kemudian. Bu Eko menjawab “ ada tiga hal yang membuat sekolah semakin bagus, pertama keterbukaan dan manajemen kepala sekolah, masyarakat yang ikut terlibat membantu dalam pendidikan, dan suasana keakraban, kekeluargaan di antara guru-guru sehingga ingin berbuat yang terbaik untuk anak-anak”.  Yup, itulah ide besarnya, bukan soal melulu akses dan lengkapnya sarana yang membuat pendidikan semakin bermutu, tetapi keterlibatan dan rasa memiliki semua pihaklah yang membuat pijakan untuk terus bergerak menjadi semakin mudah.

Keterlibatan masyarakat?  di daerah terpencil? semangat saya semakin menjadi di desa ini. Dukungan seperti apakah yang membuat guru-guru merasa tidak sendiri?. Di desa ini saya belajar tentang kedekatan guru dan masyarakat. Bertempat tinggal di desa dan banyak terlibat dalam kegiatan bersama sehingga banyak intraksi yang bersifa apa adanya. Orang tua menghormati keberadaan guru karena guru memberikan contoh yang baik kepada anak, anak-anak dekat terhadap guru karena dalam keseharian bersama-sama tinggal di lingkungan yang sama. Saya kemudian menjadi memaklumi salah seorang guru yang menjadi tidak optimal dalam mengajar ketika setiap hari harus menempuh perjalanan satu jam dari rumahnya untuk sampai sekolah. Secara fisik dan psikologis saja sudah cukup melelahkan, bagaimana mau berfikir mengajar dengan baik. Rumah dinas untuk guru yang jauh menurut saya sama pentingnya dengan penambahan lokal baru untuk anak-anak belajar.

 “Program yang sedang berjalan adalah membangun pagar sekolah dari semua warga desa”  Ucap komite sekolah kepada saya.  “kenapa jadi semua warga desa Pak, bukannya anaknya ada yang tidak sekolah di sana”. Tanya saya kemudian. “karena ini kemauan hampir semua masyarakat, sekolah soalnyakan milik desa, mungkin tidak sekarang anaknya yang bersekolah, bisa jadi cucunya, atau keluarganya yang lain, masyarakat di sini merasa ikut bertanggung jawab juga terhadap pendidikan”. Nice…, pikir saya, jika semua orang peduli, mungkin kita tidak perlu terus mengeluh tetapi langsung bertindak untuk perubahan. Diskusi saya dan Pak Aziz berlanjut tenang peran komite sekolah, bagaimana seharusnya komite menjadi patner sekolah dalam kemajuan pendidikan. Teman diskusi sekaligus pengawas kinerja guru-guru dalam memberikan pelayanan pendidikan. Saya sepakat dengan ucapan beliau, dalam skala Tumbang Titi saja dari 40 lebih sekolah, tidak ada satupun pengawas yang aktif bertugas, entah bagaimana perbandingan skala nasional. Kasus pengawas di daerah terpencil mungkin sama sulitnya dengan kehadiran guru-guru di depan kelas untuk mengajar. Padahal belum dulu kita bicara peningkatan kualitas guru, kontrol dan pengawasan saja belum dilakukan. Keberadaan masyarakat yang terus pedulilah yang kemudian harus lebih digalakkan.

Diskusi yang menyenangkan bersama orang-orang positif

Diskusi yang menyenangkan bersama orang-orang positif

Desa ini pun dibulan oktober ini menggagas Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) untuk anak-anak. Lagi-lagi tanpa bantuan pemerintah, semua guru berasal dari tokoh agama setempat dan orang tua membayar sejumlah iuran setiap bulan. “bagi-bagi pahala, jadi anak kita suruh bawa buku mengaji sendiri, biar orang tua yang menyediakan dan mengingatkan anak-anak membawanya”  Ucap Pak Aziz kepada saya. Pak Aziz benar, bisa saja orang tua membayar lebih dan membeli buku dari pengurus TPA, tetapi itu tidak dilakukan agar orang tua juga punya kontribusi pendampingan kepada anak, tidak hanya sekedar membayar dan menitipkan anak-anak untuk belajar.

Sekolah bukunya terbatas, tetapi orang tua di sini meminta sekolah membelikan buku, dan mereka yang membayar” cerita kepala sekolah kepada saya. Pak Tarmizi kepala sekolah yang dipuji-puji banyak orang ini memang memiliki visi dan misi yang baik untuk perkembangan pendidikan di desanya. Keberadaan beliau sebagai pengurus dewan kemakmuran masjid juga membantu pendekatan tersendiri kepada orang tua murid, tidak hanya soal bagaimana anak belajar dengan baik di sekolah, tetapi perkembangan perilaku keseharian.  “saya selalu bilang ke orang tua, walaupun kita berada di daerah terpencil, bukan berarti pemikiran kita juga ikut terpencil, itu dilakukan dengan pendidikan, anak-anak harus belajar dengan baik”.  Saya kagum sekolah bisa membeli proyektor dan laptop sendiri untuk membantu proses belajar di sekolah, ada dua ektra (pramuka dan senam untuk anak-anak), dan untuk menambah kekurangan guru sekolah membayar 3 guru honor termasuk penjaga sekolah.  Dana bos, jika dikelola dengan baik sebenarnya cukup untuk keperluan sekolah.

“Saya memfasilitasi saja maunya guru dan masyarakat, seperti pagar sekolah dan pengadaan buku, idenya datang dari orang tua bukan dari pihak sekolah”. Sadar bahwa semua orang bisa berperan itulah prinsip pemberdayaan dalam pendidikan, langka rasanya kepala sekolah daerah terpencil memiliki hal ini, tetapi saya menemukannya di sosok Pak Tarmizi yang setiap bulannya juga melakukan feedback terhadap kinerja guru ataupun dirinya sebagai kepala sekolah.  Begitulah tugas kepala sekolah, tidak hanya sekedar menjadi administrator untuk sekolah, tetapi seharusnya bertindak sebagai educator, motivator, bahkan inovator. Saya membayangkan jika semua kepala sekolah mempunyai keterampilan memampukan dan memberdayakan semua pihak, dalam tataran sistem paling rendah di dunia pendidikan yaitu sekolah, akan terbangun budaya kepedulian yang sangat baik.

IMG_0385

” ibu, ini pak guru kami”

Bagaimana dengan anak-anaknya?, mereka mendatangi saya ketika di sekolah, mencium tangan saya dan menyapa “ibu…kakak….”  sambil tersenyum tentunya. Saya terharu mendengar mereka menyanyi lagu Indonesia Raya dan Indonesia Pusaka dengan nada benar (mengingat dulu saya setengah mati mengajarkan nada kepada murid saya di Banggai), beberapa anak menarik saya ke kelasnya yang sangat bersih dan minta di foto. Ada anak lainnya juga yang menceritakan foto besar yang tertempel di dinding sekolah (foto seluruh dewan guru). Ketika pertemuan bersama anak-anak, ada beberapa anak yang membantu membawakan tumpukan barang bawaan saya dan membagikan konsumsi kepada teman-temannya. Semua anak ingin berbicara, kalimat yang mereka keluarkan runtut dengan subjek predikat dan objek yang baik. Anak-anak kelas lima dan enam juga mampu memberikan alasan di balik pernyataan yang dikeluarkannya. Well, insting saya sebagai mantan guru adalah anak-anak ini diajar dengan sangat baik, tidak hanya melulu soal logika tetapi bagaimana bersikap kepada orang yang lebih tua. “Mengajar di sini saja kakak, tidak usah pulang ke Jakarta” (ha…jujur ya, saya rela mengajar di desa yang semuanya serba positif seperti ini, walaupun jauh dari mana-mana).

Di luar uji coba penelitian, saya belajar belajar banyak dari desa ini.  Saya belajar bahwa semangat perantauan membuat yang menjalaninya berfikir lebih ke depan, bagaimana persoalan pendidikan tidak melulu selesai dengan kayanya penghasilan dan terpenuhinya fasilitas tetapi lebih kepada kepedulian bersama. Saya memungut ilmu akan peran aktor-aktor lokal yang terus mengajak untuk berbuat lebih baik, modalnya ternyata begitu sederhana yaitu panutan dan kepercayaan. Nilainya kepercayaan ternyata bukan soal besarnya uang, tetapi keterbukaan baik terhadap kesempurnaan ataupun masalah yang harus diselesaikan bersama. Benar adanya, bergerak bersama memang membutuhkan kesabaran dan proses panjang, tetapi jika itu bisa dilakukan maka kita akan lebih berkembang dan tidak merasa sendirian.

Salut dan Angkat Topi Buat Belaban Tujuh

 

Catatan Kaki (kok panjang yak!!!) :

Hemmm…kesalahan saya berkunjung ke Belaban Tujuh adalah minimnya persiapan (Emang dodol si!!!). Merasa berhasil sampai dengan selamat ketika mencoba sendiri ke sana, bikin saya sotoy meremehkan perjalanan. Gak bawa jaket, membiarkan tas yang hampir putus tanpa menjahitnya, gak bawa obat yang biasa saya bawa, ditambah pakai sepatu cantik dan rok pula dalam perjalanan. Perjalanan ke desa menurut saya tidak sesulit desa lainnya, saya hanya mengkhawatirkan banyak jempatan kecil (sebatang dua batang kayu ulin) yang harus saya lewati untuk sampai ke desa. Pelajaran berharganya setelah dengan anggun terpeleset dari jembatan dan nyemplung sungai adalah:

  1. Kosentrasilah dalam berkendara ya, jangan melamun,!!!!! (Saya gak melamun kok, cuman dengerin musik aja!)
  2. Jangan ragu, kalau ragu mending duduk anteng di tengah hutan, sambil berdoa ada yang lewat dan nolongin ya!!! (Tuhankan maha baik, pasti tahu apa yang dibutuhkan hambanya…), paling tidak Yanti….belajarlah untuk lebih berani dan yakin sama jembatan (ha…hikmah apa ini)
  3. Jadi fasilitator ternyata belajar ikhlas yak, ikhlas smartphone saya rusak, ikhlas badan biru karena terbentur, ikhlas malu habis tercebur ke sungai, dan belajar untuk selalu tersenyum lalu mengambil hikmah dalam setiap kejadian.
ini lokasi saya jatuh, ya ampun...gak banget ya

ini lokasi saya jatuh, ya ampun…gak banget ya. ” mbk…harusnya ambil jalan tengah”  kata bapak yang nolong saya

Well, saya masih bersyukur dalam setiap kejadian. Saya bersyukur jatohnya ke sungai, kebayang kalau batu (tambah memar kali ya, ha). Dan Untunglah selepas itu ada orang lewat yang membantu saya keluar dari air dengan badan basah dan berlumpur.  Terlepas perkenalan yang mengharukan dengan desa ini. Jujur, saya jatuh cinta dengan bagaimana desa ini berproses menjadi seperti sekarang, membuka mata saya bahwa sinergi dan kepedulian akar rumput itu bisa dibangun. Saat elit politik sedang rusuh berbagi kekuasaan, masyarakat Belaban tujuh merajut kerja sama untuk kemajuan bersama.

Terimakasih Belaban Tujuh

Iklan

2 Komentar (+add yours?)

  1. Cak Shon
    Nov 08, 2014 @ 07:54:58

    yasinan, berzanji, TPA, membaca kondisi desa yang sampean ceritakan, seperti melihat desa masa kecil saya di pelosok Jawa Timur, yang sebagian besar warga NU. Terima kasih sudah berbagi inspirasi.

    Suka

    Balas

  2. embundankaca
    Nov 11, 2014 @ 07:08:37

    Sukaa skaliii saayyy…. :-*
    Tulisanmu slalu enak dibaca.. Suka caramu ngambil hal2 positif n penting… Mga slalu sehat dsana yak.. 🙂

    Suka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: