Celotehan Tentang Doa dan Perjalanan Saya :)

Selamat malam Tumbang Titi-Ketapang, beberapa bulan ini di sinilah saya akan bekerja dan belajar. Saya tidak mau rugi, tidak hanya menjalankan uji coba penelitian sebaik-baiknya, tetapi saya ingin belajar sebanyak-banyaknya. Tentang budaya dan  masyarakat, tentang sudut pandang Indonesia dari kelompok terpinggirkan, tentang pendidikan dan beragam  tantangannya atau tentang sudut pandang lain kemanusiaan. Saya sekarang tinggal di sebuah keluarga Melayu muslim dengan logat yang amat kental, tidak sulit bagi saya beradaptasi soal makanan karena bagaimanapun ini masih Kalimantan. Mungkin akan banyak cerita di tanah ini kelak, dan semoga cerita itu akan terus dibalut kebaikan sebagai bagian proses saya menjadi manusia yang lebih baik.

Lucu ya,  beberapa tahun lalu, saya pernah bercita-cita mempelajari kebudayaan Melayu Muslim dan Dayak sekaligus, karena sejarah dan bagaimana kebudayaan ini berkembang adalah sesuatu yang amat menarik bagi saya. Bagaimana bacaan saya menceritakan bahwa Dayak memiliki budaya hafalan yang kuat, dan Melayu Banjar memiliki budaya tulisan. Tentang hikayat bahwa mereka saudara seperguruan yang kemudian memilih jalan sendiri-sendiri. Kerajaan yang kemudian berjaya di wilayah masing-masing dengan budaya toleransi dan saling menghormati. Imajinasi saya ketika itu berpetualang bahwa suatu saat saya akan masuk ke pedalaman Kalimantan dan mengenali mereka lebih banyak, mengerti adat istiadatnya dan suatu saat  bisa menuliskannya. Ah, impian asal disela keganjringan saya datang ke perpustakaan daerah dan melahap habis jurnal-jurnal tentang suku Dayak dan Melayu Banjar.

Sahabat saya berkata “Tuhan menjawab semua doamu ya Bude”. Well, saya kemudian merefleksikan bagaimana perjalanan hidup saya, bagaimana ada satu masa saya begitu ngotot dengan Tuhan, mulai menantangnya, kemudian menyerah dan pasrah. Ada satu masa juga saya betul-betul meragukan kuasaNya, dikuasai logika dari penalaran hasil bacaan-bacaan saya, apatis, kemudian terjeda kembali dan sadar bahwa saya tidak bisa menjawab semuanya. Waktu yang kemudian membuat saya lebih memahami. Satu hal yang kemudian mulai terjawab, ada banyak definisi yang dulu terlalu abstrak sekarang sudah mulai terang benderang sebagai panduan. Perpaduan keras kepala dan kepasrahan kepada Tuhan kemudian membawa saya kepada satu kesimpulan bahwa keyakinan kepada Tuhan, atas apapun, itulah yang disebut Iman. Jadi pertanyaannya, apakah saya selesai dengan Tuhan saya, ah…. Terlalu dini berujar demikian, saya hanya berharap disisa perjalanan hidup saya, akan selalu ada Tuhan di depan, di belakang dan di samping saya, bahkan Dia merangkul dan menggendong hambanya ini saat sudah tidak mampu lagi berjalan.

Sahabat saya kemudian bertanya lagi tentang apa doa saya sekarang?  Saya menjawab ingin terus menjadi orang baik. Saya tidak tau apakah selama ini saya sudah menjadi orang baik atau tidak, entah siapa yang layak menilainya, hanya saja saya ingin terus bermanfaat dan tidak merugikan orang lain. Belakangan saya kemudian berusaha mendefinisikan bagaimana orang baik itu, yang selalu menjadi doa saya ketika laporan kepadaNya. Mungkin sesederhana tidak melanggar lampu merah atau tetap antri dengan tertib dan menghormati hak-hak orang lain. Menjadi orang baik tentu saja ada ujiannya! ketika saya kemudian beberapa kali di tempatkan dalam situasi yang menguji konsep baik tersebut, saya menyadari bahwa Tuhan tidak akan tiba-tiba menjadikan seseorang baik, tetapi banyak tantangan dan proses yang harus dilewati agar saya terus belajar tentang konsep baik tersebut. Saya berterimakasih kepada Mbk Tita yang menyakinkan ketidakpercayaan diri saya dengan kalimat sederhana “ your life may begin earlier before you turn 40 ”, menanggapi celotehan saya tentang apa yang saya fikirkan. Kadang-kadang, saya cuman butuh musuh untuk berperang melawan logika dan mengatakan ini adalah sesuatu yang benar.  Bisa jadi, banyak hal yang harus segera saya pelajari sekarang adalah rejeki dari Tuhan untuk membuat saya  lebih bijak dalam memandang kehidupan.

Saya menambahkan doa sederhana dibertambahnya usia saya kemudian, tentang “ dia”  yang ada di dalam puisinya Daoed Joesuf. Buku yang menemani perjalanan hidup saya mencari logika pembenaran atas Tuhan dan pencarian dalam hidup saya. Puisi yang semakin berkurangnya usia saya membuat saya lebih mengerti maksud di baliknya.

Aku bertemu dia di jalur waktu, menempuh relung kehidupan nan berliku-liku. Dia manusia bijak bestari  dan aku seorang pencari. Semula kucari pengetahuan, lalu kukaji ilmu pengetahuan. Kemudian kugali kebenaran melalui disiplin keilmuan. Dia mengajarkan aku apa-apa yang belum aku ketahui dan membiasakanku membuat hal-hal  terpuji. Dia menggugah nalarku agar kritis dan berfungsi. Dan pertanyaannya menantang aku supaya merespon dengan teliti. Dia memberi kesempatan aku untuk berkarya, di bidang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Bagai latihan bertanggung jawab dan berfikir serta bertindak mandiri. Kemandirian itu tidak membuat dia dan aku tidak selalu sepakat. Di samping persamaan dan perbedaan dalam pendapat. Aku terus melangkah di jalan yang kupilih dan tetapkan sendiri. Jalan lurus kearah kebenaran yang tetap kucari. Aku tahu inilah yang Dia ridho’i. Inilah sekedar riwayat seorang pencari”  (Daeod Joesoef, Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran).

Menjadi orang baik, bertemu dia dan orang-orang baik lainnya itulah doa saya. Saya selalu percaya, Tuhan merangkul doa hambanya dengan cara yang kadang sulit kita duga.

Mari terus belajar.

27 September 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: