Harapan  

           Ibu itu melepaskan kaca mata dan mengusap air mata yang secara reflek keluar. Saya hanya duduk di samping sang ibu, mendengarkan dan mencoba mengerti bagaimana perasannya ketika berada di posisi demikian.  Berumur hampir 45 tahun dan merupakan guru dari salah satu sekolah adalah awal cerita tentang sang ibu. “ada murid di sekolah saya…, sekarang kelas enam, ganteng sekali orangnya, pintar, nurut sama orang tua dan rajin, tapi divonis leukimia”.  Baiklah, satu lagi cerita anak cerdas yang divonis kanker, saya membantin. Beranjak dari muridnyalah sang ibu kemudian bercerita tentang ibu kandungnya yang terkena kanker di bagian lambung, mulai menyebar sampai akhirnya meninggal. “Saya masih ingat mbak bagaimana ibu saya kesakitan, saya tidak pernah menangis di depan beliau, karena tidak mau menambah derita beliau”.  Pasrah dan ikhlas pada akhirnya, ucap sang ibu menggarisbawahi obrolan kami, “saya tidak lagi berdoa semoga beliau cepat sembuh, tetapi berdoa yang terbaik untuk beliau”.  

            Beberapa tahun lalu, istri teman saya meninggal karena kanker tulang setelah perjuangannya yang amat tangguh untuk bertahan.  Seorang perempuan yang menolak kemoterapi untuk anak di dalam kandungannya. Melahirkan dengan sebelah kaki yang terpaksa harus diamputasi dan rumah sakit seolah semacam jadi rumah kedua.  Masih segar diingatan bagaimana saya dan beberapa teman membungkus seserahan yang dibeli oleh calon suaminya. Menertawakan jahil cincin yang dibeli kebesaran, dan luar biasa bahagia ketika ikut mengantarkan calon suami ke Kebumen. Menikahi perempuan yang didiagnosis kanker adalah keluarbiasaan teman saya yang pertama, dan proses selama dua tahun lebih menjaganya adalah keluarbiasaan lainnya.  Peran ibu sekaligus bapak di dalam rumah tangga yang diperankan olehnya, yang selalu setia menemani sang istri hingga akhir hanyatnya. Dulu saya berfikir cerita seperti ini hanya semacam hikayat dalam sinetron, eh…kata siapa, teman saya ini membuktikan kenyataannya.  Dari dulu saya terus bertanya, bagaimana perasaan seseorang yang anggota keluarganya didiagnosis kanker.  Bagaimana perasaan mereka yang real lifenya terus membersamai, apa yang membuat mereka tetap kuat dan bertahan?.

            Bersama seorang teman, saya mengunjungi si kecil Dimas di rumah sakit. Dia tampak kesal dan marah karena harus terus berada di tempat tidur. Umurnya baru sembilan tahun, gemuk dan menggemaskan. Tidak ada lagi rambut di kepalanya, dan kedua tangannya diinfus. Satu untuk cairan kemoterapi satunya lagi cairan infus biasa. Dimas tetaplah si kecil yang ingin bermain dan kemana-mana, dia bosan dengan ranjangnya dan terus berbaring. Ibu Dimas berkata “sabar dulu Dimas ya.., kita habiskan obatnya dulu” Dimas yang berasal dari luar kota, sebulan dua kali harus  kemoterapi ke rumah sakit, di suntik, dan disuntik kembali, ketika HBnya turun, ia harus ditranfusi beberapa kantong untuk menstabilkannya kembali. Saya hanya mampu menatap si kecil Dimas yang pucat pasi di atas tempat tidurnya sambil mendengarkan ibunya bercerita tentang Dimas. Pelajaran berharga ketika melihat Dimas adalah ada banyak kehidupan di dunia ini dengan segala masalahnya dan  mau dengan sudut pandang bagaimana kita menghadapinya.

            Saya dan beberapa relawan #dropyourbook, kemudian bertemu Dimas dan anak-anak penderita kanker lainnya dalam sebuah acara di rumah singgah. Suasananya sungguh berbeda dengan suasana rumah sakit di mana anak-anak tampak sangat murung di tempat tidur. Dimas kecilpun tertawa dan tampak senang mendapatkan hadiah dan orang tua yang hadir juga menyemangati anak-anak mereka untuk bernyanyi atau menjawab pertanyaan yang diberikan.  Saya dulu pernah membaca beberapa jurnal tentang self help group  atau kelompok bantu diri untuk kasus-kasus penderita kanker ataupun mereka yang tertimpa bencana. Hasilnya membuktikan bahwa dukungan sosial sesama penderita membuat seseorang lebih kuat dan meningkatkan resiliensinya. Yayasan kanker yang kami datangi melakukan tugas yang sungguh mulia, sebuah rumah singgah yang menampung anak-anak dan orang tua dari luar kota yang akan berobat, membantu mencarikan darah ataupun kebutuhan mereka, dan menjadi dukungan sosial berharga untuk selalu optimis dan berusaha.

Dua bulan lalu, kakak sepupu saya akhirnya meninggal dunia karena kanker yang dideritanya. Lebih dari dua tahun dia keluar masuk rumah sakit dan menjalani banyak pengobatan alternatif. Walaupun melelahkan, paman dan tante saya merawat anaknya dengan sabar dan penuh kasih sayang. Ketika saya melihat mereka, selalu ada senyum di wajah sendu itu. Kakak sepupu saya yang energik dan mudah bergaul dengan banyak orang dimasa hidupnya menjadi mudah lelah dan semakin kurus dari hari kehari hingga akhirnya ajal menjemputnya. Percaya, semakin dekat dengan Tuhan dan dukungan keluarga, itulah yang membuat kakak sepupu saya terus yakin dan berusaha untuk sembuh.

Harapan!, itulah mungkin kaya yang bisa merangkum sedikit pengalaman saya bersama mereka yang didiagnosis penyakit. Tidak hanya sekedar kemampuan resiliensi yang baik untuk tetap positif menghadapi masalah, tetapi dorongan untuk membuat seseorang terus  bertahan.  Harapan bahwa akan ada keajaiban, harapan bahwa Tuhan akan menjawab doa hambanya, atau harapan untuk mengisi hidup yang lebih baik dari kesempatan hidup yang lebih panjang. Harapanlah yang membawa teman saya dulu dengan setia mendampingi istinya berobat, harapanlah yang membawa ibu Dimas melintasi ratusan kilometer untuk sampai ke kota, dan harapanlah yang membuat doa tulus terus menerus dipanjatkan oleh paman dan tante saya untuk putri mereka.

Kemudian ini menjadi refleksi pribadi bagi saya, ketika mereka yang terus dibayangi kematian berjuang dari hari kehari untuk bertahan, saya yang masih diamanahi sehat oleh Tuhan bukankah harus lebih berjuang. Hidup kadang memang ironis, ada kalanya kita menyianyiakan banyak hal sia-sia sementara kita bisa mengisinya dengan hal-hal bermanfaat. Berkaca, itulah tamparan saya hari ini… untuk terus lebih baik untuk mengusahakan dengan banyak harapan di hidup saya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: