Pendidikan dan Transportasi

 Ketika ada masalah transportasi, biasanya diikuti dengan masalah pendidikan dan kesehatan

(Anies Baswedan)

            Hari ini saya berkunjung ke tiga sekolah pinggiran di Banjarmasin. Untuk ke sana, kami harus menempuh perjalanan darat terlebih dahulu 30 menit dengan kecepatan 40-60 KM/Jam. Satu sekolah terletak persis di tepi sungai dan masih terhubung dengan akses jalan utama. Satu sekolah terletak di pulau kecil, walaupun harus menyeberang menggunakan perahul kecil (kelotok) dari Banjarmasin, namun sekolah ini  ada di tengah populasi masyarakat yang padat dan ke sekolah anak-anak bisa jalan kaki. Satu sekolah lainnya terletak di antara rawa dan sungai, terpisah jauh rumah-rumah penduduk. Transportasi antar rumahpun menggunakan perahu (akrab disebut jukung oleh penduduk), sehingga ke sekolahpun harus menggunakan perahu kecil. Sama-sama sekolah kategori pinggiran, sama-sama punya siswa dan guru, dan sama-sama ingin menjalankan proses pendidikan dengan baik perbedaan mencolok adalah dari segi akses.  Sekolah pertama dan kedua, siswa dan gurunya masih bisa datang dan pulang tepat waktu, karena sekolah mudah di jangkau. Sekolah pertama, siswanya bisa sering ke kota, karena masih di daratan, sekolah kedua harus membayar sewa kapal terlebih dahulu untuk menyeberang, lalu naik angkutan umum ke kota. Sedangkan sekolah ketiga, akan ada berbagai toleransi kondisi baik untuk siswa dan guru

Sekolah ketiga, terletak di antara sungai dan rawa-rawa.

Sekolah ketiga, terletak di antara sungai dan rawa-rawa.

Untuk sekolah ketiga, jika air terlalu surut, secara otomatis sekolah akan libur tidak perlu surat edaran atau harus ijin kepala dinas pendidikan karena kapal tidak bisa berlayar. Jika air tiba-tiba surut, maka sekolah akan pulang lebih cepat dari biasanya, karena jika dipaksakan pulang sesuai jam pelajaran, maka siswa dan guru harus menunggu hingga sore untuk bisa pulang. Jumlah siswanya hanya sekiar 60 orang dan semua siswa harus menggunakan kapal untuk sampai ke sekolah. Bukan parkiran sepeda atau motor yang ada di halaman sekolah, tetapi perahu-perahu kecil yang berjejer rapi di tepi sungai. Di sekolah ketiga, saya melihat semua orang menaiki perahu kecil untuk pulang dan pergi dari sekolah. “beginilah, tiap hari kita ba jukung ke sekolah, menunggu jalan yang kada dibuatakan, kayapa kanakan handak pintar”*.

            Saya kemudian melengkapi pemahaman tentang makna akses dan bagaimana dampaknya untuk sebuah masyarakat.  Akses transportasi yang sulit menyebabkan sebuah masyarakat lebih terisolir dari dunia luar, membuat anak-anak terbatasi aksesnya untuk mendapatkan pendidikan, membuat akses kesehatan menjadi sesuatu yang mewah, atau roda ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan berputar menjadi lebih lambat.

            Transportasi dan pendidikan, sialnya jika jarak antara akses pendidikan dan masyarakat semakin jauh, maka alat transportasi yang menjadi andalan. Transportasi bermakna usaha dan kegiatan mengangkut barang dan atau penumpang dari suatu tempat ke tempat lainnya. Refleksi kecil saya hari ini adalah dalam kondisi sekolah seperti yang ketiga, transportasi adalah variabel penting dalam kualitas kualitas pendidikan.

            Ketika saya menjadi pengajar muda di Banggai dahulu, saya sering berfikir tentang terbukanya akses untuk anak-anak melihat banyak dunia dari hanya sekedar dunia kecil mereka di desa.  Saya mendapatkan pembandingan yang cukup jelas dari karakteristik penepatan penempatan pengajar Muda.  Tiga desa dengan akses yang cukup mudah dicapai dengan angkutan umum, dan tiga daerah lainnya yang membutuhkan usaha lebih keras (baik dengan kendaraan pribadi ataupun mengharapkan nelayan). Akses transportasi ke desa penempatan di Moilong, Sinorang, atau Solan dulu tidak terlalu sulit. Ada otto (mobil angkutan) yang bisa mengantarkan hingga depan rumah dari ibu kota kabupaten. Dari ibu kota kecamatan sayapun bisa menggunakan ojek atau pinjem motor sana-sini. Berbeda dengan teman penempatan teman saya yang ada di terletak di perbukitan atau pulau kecil di tengah lautan. Butuh tranposrtasi “ pribadi”  (dengan lobi-lobi atau beli sendiri) untuk sampai ke sana.

            Perbandingannya akhirnya adalah anak-anak di tiga desa penempatan Banggai lebih mudah menempuh SMP dibandingkan tiga desa lainnya. Bahkan desa teman saya di pulau Tembang, banyak anak-anak yang akhirnya tidak melanjutkan sekolah karena akses yang sulit menuju kecamatan. Perbandingannya adalah pulau tembang harus menempuh sekitar dua jam perjalanan laut untuk sampai ke SMP terdekat, sedangkan Moilong, Sinorang atau Solan hanya membutuhkan paling lama 30 menit jalan kaki untuk sampai ke SMP.  Mari kita lupakan dulu kualitas pendidikan dari sekolah tersebut, hanya saja ketidakterdediaan akses transportasi pada akhirnya juga meminimkan akses untuk medapatkan pendidikan yang lebih baik.

  NB : Well, tulisan ini sepertinya agak geje ya… cuman sedikit mau katarsis aja. Pemahamannya adalah pendidikan itu harus sinergis. Ok, urusan sekolah, gedung, kualitas guru, atau buku-buku urusan Dinas Pendidikan. Namun urusan tersedianya jalan, akses listrik suatu daerah yang menunjang pendidikan, moda transportasi, dan banyak variabel lainnya. Semua pihak memang harus ikut peduli!

* : beginilah, setiap hari kita naik kapal kecil ke sekolah, menunggu dibuatkan jalan yang tidak kunjung dibuatkan, bagaimana anak-anak bisa pintar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: