Tentang Marah

Anybody can become angry – that is easy, but to be angry with the right person and to the right degree and at the right time and for the right purpose, and in the right way – that is not within everybody’s power and is not easy. (Aristoteles)

                Dulu saya pernah bertanya kepada salah satu teman penempatan ketika menjadi pengajar muda. “Bagaimana caranya kita bisa menahan marah”, kasus saya kala itu adalah saya harus berusaha sangat keras untuk mengelola emosi untuk menghadapi anak-anak yang luar biasa agresi. Saya lupa bagaimana persis jawaban teman saya, tapi seingat saya dia mengatakan “karena kita tidak tahu semua”.  Jawaban yang saya cerna dalam-dalam  kala itu.

Beberpa hari yang lalu sahabat saya tiba-tiba bertanya “Bagaimana cara marah dengan anggun itu?”. Bahasan kami kemudian melebar menjadi perilaku menyakiti diri sendiri akibat tumpukan kemarahan yang tidak bisa tersalurkan kepada lingkungan. Ingatan saya yang samar menyebutkan Masochism dengan ingatan psikologi klinis yang sudah super lapuk. Dulu saya punya seorang teman yang suka menyakiti dirinya sendiri ketika dia sudah tidak bisa menyalurkan kemarahannya. Klien studi kasus sayapun demikian, silet menyilet tangan dan sebangsanya adalah cara dia meluapkan perasaanya. Kecendrungan bagi orang-orang yang introvert mungkin demikian, seperti “ membutuhkan sansak untuk menyalurkan energi” kata sahabat saya kemudian. Bagi orang-orang tertentu, mengekpresikan kemarahan secara langsung kepada objek kemarahan membuat lega kemudian melupakan semua kesalahan dan kembali ke sikap semula. Saya mengenal beberapa orang seperti ini, tetapi bagi kebanyakan yang lain, mengekpresikan kemarahan secara terbuka itu adalah seuatu yang sulit.  Sifat marah memang ada di setiap manusia, tetapi seberapa besar bisa tersulutnya, setiap orang punya kadarnya masing-masing.

Aristoteles sejatinya dari dulu benar, bahwa marah persoalan gampang, tetapi marah dengan porsi yang sesuai menandakan kebijaksanaan seseorang.  Di pertemuan terakhir kami teman saya berkata “ saya lega bisa menyuarakan apa yang tersimpan selama ini”, walaupun kelegaan atas kemarahan sudah disuarakan oleh teman saya, tetapi pada akhirnya caranya benar-benar membekas dan membuat sedikit goresan luka yang perlahan sembuh dengan kata maaf.  Saya berusaha memahami bahwa ada banyak hal yang harus diekpresikan dan tertuang di marah, tetapi ketika kemarahan itu kemudian menyakiti orang lain?!?!. Benar, pertanyaan sabahat saya “ bagaimana marah dengan anggun itu?”

Nabi Muhammad bahkan sampai mewasiatkan  “La taghdlab” atau  hindari sikap marah. Beliau sangat memahami bahwa akar masalah umat manusia dari zaman ke zaman salah satunya adalah kemarahan. Nabi SAW pernah memberikan petunjuk. “Jika kamu marah dalam keadaan berdiri, duduklah. Jika kamu masih marah, padahal sudah dalam keadaan duduk, berbaringlah. Jika kamu masih marah, padahal sudah dalam keadaan berbaring, segera bangkit dan ambil air wudu untuk bersuci dan lakukan shalat sunah dua rakaat.”. Konpsep di psikologi mungkin adalah mekanisme pertahanan diri tetapi yang lebih positf dan tidak merusak.

Teman kuliah saya dulu memilih berlari untuk mengurangi marahnya, teman saya yang lain ingin segera mengakhiri pembicaraan segera, menangis adalah cara lainnya, ada juga dengan nada suara tinggi dan membentak orang lain. Saya kadang memilih menulis dan mencoret-coret sesuatu untuk meredam kemarahan saya. Pun bagi seorang kenalan yang akan segera mengambil headset atau buku untuk mengalihkan perhatian dari objek emosi.

Hari ini saya belajar menguluti lagi tentang kemarahan.  Bahwa rasa sakit itu bukan soal isi marahnya, tetapi bagaimana seseorang menyuarakannya. Sisi positifnya saya menemukan kata kunci bahwa memaafkan adalah sebuah proses bagaimana seseoran kemudian pulih. Dulu ketika di penempatan, saya punya kata-kata andalan untuk membuat saya tetap tenang walaupun saya begitu marah. Saya harus berterimakasih kepada orang yang mengirimkannya kepada saya. “Apologizing does not always mean thaht you’re wrong and the other person is right. It just means that you value your relathionsip more than ego”.  Kata yang kemudian saya cerna berkali-kali hari ini.

Well. Tulisan ini untuk saya sendiri, yang sedang mencoba memahami bagaimana makna kebalikan itu. Sebenarnya pengen menulisnya agak ilmiah dengan beberapa rujukan sumber tapi sudahlah, hanya katarsis emosi.

Catatan  : suatu saat bisa  dikaitkan dengan forgiveness psychology, budaya timur, moral dan agama. Mengenali bagaimana perbedaan marah di setiap kultur, dan bagaimana peran sebuah keluarga membantuk ekpresi marah seseorang.

Belajar yang baik yan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: