Sekolah yang Sama…Sekolah Kehidupan!!!

 

Kumuh, tapi di sanalah mereka belajar

Kumuh, tapi di sanalah mereka belajar

  Saya berkunjung lagi ke Sekolah Bawang, dua tahun lalu saya sangat senang berkunjung ke sini, sela rutinitas ketika bekerja, ketika saya merasa sudah sangat  terikat dengan duniawi atau ketika saya mencoba meraba kembali soal syukur dan sabar. Sekolah pesing di atas pasar kumuh, tetapi bagi saya pribadi ketika itu menokohkan niat untuk lebih mantap berbagi di dunia pendidikan. Pak Zaini yang mengajarkan saya rupa ketulusan kala itu, pengabdian sekian puluh tahun untuk anak-anak.  Tersembunyi yang jauh dari hingar bingar sorotan yang dengan mata berkaca menceritakan bagaimana perjuangan beliau.

Saya bertanya kepada paman penjaga parkiran di pasar, “ apa sekolahnya masih di atas sana paman?”,  ah… sekian tahun sebelum saya datang juga masih di sana, mengandalkan bantuan apa mereka bisa pindah ke tempat yang lebih layak. “ iya, masih di sana”,  kata paman penjaga parkiran. Saya menaiki beberapa anak tangga yang kotor dan kumuhnya masih saja sama, memasuki lorong sempit, sambil berkata kepada beberapa orang “ permisi paman, ulun mau lewat, maaf menginjak karungnya”.  Pekerja di pasar ini sepertinya sudah hafal dengan kata permisi dari banyak orang yang ingin berkunjung ke sekolah bawang, satu-satunya jalan yang harus dilewati untuk sampai ke sebuah ruangan yang dipermak menjadi ruang kelas ala kadarnya.

Seorang guru yang sebenarnya adalah relawan sedang mengajar dan membagi dirinya menjadi dua. Untuk anak-anak SD dan sisi sekat ruangan lainnya untuk anak SMP. Suasananya masih sama, keteraturan yang minimal untuk anak-anak penghuni pasar. Tak berseragam, apalagi sepatu, tak ada ruang kelas,  atau tingkatan kelas yang tampak dari usia. “ Sekarang kamu kelas berapa?”   tanyaku kepada Muklis “ kelas empat kak”.  Muklis dari usia seharusnya kelas enam atau  SMP, dulu anak ini  sangat aktif di kelas, sekarang dia lebih tenang dan mendengarkan. Si rajin Hilmy, yang sejak dua tahun lalu juga tidak berubah, bertanggung jawab membantu adek-adeknya belajar. “ Hilmy kamu masih di sini, sekarang kelas berapa?” “ kelas tiga SMP kak?”,  harapanku terhadap Hilmy masih sama, anak ini bisa mendapatkan kesempatan yang lebih baik.

Aku adalah Sandri

Aku adalah Sandri

 

            “ Kamu baru ya?, dulu pas kakak sering ke sini kamu belum ada?”.  Aku mendekati seorang anak yang sedang menggambar dan ternyata bermana Sandri.  Dari gambarnya, anak ini pasti tidak pernah sekolah sebelumnya, sekolah bawang adalah sekolah pertamanya. “ Sandri kelas berapa?”, “ kelas 1” di jawab dengan malu-malu. Sandri masih kikuk memegang pensil, bingung membuat lingkaran dan segitiga dengan benar, dan belum mengerti perbedaan warna, apalagi beranjak untuk mengenal huruf. Aku semakin menyadari pentingnya pendidikan anak usia dini.

            “ Kakak dulu pernah ke sini kan?, kenapa lama kada kesini”?  kata salah satu anak perempuan yang mendekatiku. Saya samar-samar lupa dengan wajahnya, tapi dulu anak ini sepertinya lebih pemalu.  Semua masih sama, sekat dinding, papan tulis, susunan buku, dan aroma pasarnya. Menandakan dramatisnya kehidupan di satu sisi dimana ada anak-anak lain mendapatkan fasilitas yang berlimpah.  Hari ini saya tidak bertemu dengan pak Zaini, tetapi selalu ingat ucapan beliau… “ tidak penting anak-anak ini menguasai seberapa banyak pelajaran, yang penting nanti mereka tidak merepotkan di masyarakat”,  tidak ada standar kompetensi tentu saja, apalagi level kognitif sampai kemampuan mengevaluasi, standar minimal yang digunakan adalah moral untuk tidak menjadi penjahat, preman, atau mereka yang dicap tidak berguna (seperti stigma pada umumya kepada mereka). Mereka bisa mendapatkan ijasah setara SD dengan ikut ujian persamaan, lalu melanjutkan SMP dengan cara yang sama,  kemudian berharap suatu saat ketika kesempatan menghampiri, mereka bisa mendapatkan pendidikan atau kehidupan yang lebih layak.

   Mari Terus Berbagi….         

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: