Menjadi Tua dan Dewasa… Semoga Saja!

 

           

" jangan sombong ya nak"

” jangan sombong ya nak”

“Pokoknya nak, kalau jadi orang itu jangan sombong, nanti kalau sombong tidak ada temannya, jadi susah hidup”, kata salah seorang nenek di Panti Wherda hari ini. Seorang nenek yang memeluk saya erat, dan mengatakan dengan lembut kemudian “sering berkunjung kesini ya nak”.  Nenek ini asli Bandung dan sudah lama tinggal di Banjarmasin. Menikah, tidak punya anak, dan selepas suaminya meninggal tinggal bersama salah satu saudaranya. Namun, karena saudaranya juga meninggal oleh Dinas Sosial di tempatkanlah beliau di panti ini.

            Saya kemudian masuk ke salah satu kamar lainnya, menemui seorang nenek yang sedang duduk di ranjangnya. “ Nek..sehat”,  Nenek itu hanya bergumam dalam bahasa yang tidak dimengerti, saya memegang tangan beliau yang serasa dingin di jari. “ Nenek mau makan?”,  Saya mengulangi ucapan ini agak keras, karena menurut perawat sang nenek  hampir tidak bisa mendengar. Dengan anggukan beliau mengatakan ingin makan. Saya kemudian mengambilkan nasi, ayam, tahu, tempe, sayur, dan pergedel jagung yang telah kami bawa dari rumah dan dimasak oleh  teman-teman di #Dropyourbook. Kemudian duduk disamping ranjang beliau dan  menyuapi sang nenek makan. Pelan-pelan, sendok demi sendok sampai akhirnya tidak banyak yang tersisa. Bagaimana perasaan ini?, Saya yang baru pertama kali ini pergi ke panti jompo dan bercengkrama dengan mereka mencatat bahwa dedikasi untuk merawat lansia adalah perpaduan antara kesabaran, ketelatenan, dan keikhlasan lebih tinggi ketika mereka yang bekerja bersama anak-anak.

            Saya memang orang yang mudah terharu, membayangkan rasanya menjadi puluhan orang tua ini, apakah mereka merasa dibuang oleh keluarga? atau ketika mereka yang memilih sendiri masuk ke panti ini, apa yang sebenarnya mereka fikirkan??. Penghuni di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera yang saya kunjungi ada sekitar 60 Lansia dan dua puluhan perawat.  Setiap hari mereka tinggal dan berkegiatan di tempat ini. Banyak di antaranya yang sudah tidak punya keluarga, lainnya ada juga yang dititipkan oleh keluarganya. Saya menjadi ingat beberapa tahun yang lalu, ada program karya ilmiah yang bagus dan akhirnya memenangkan mendali emas di Pekan Nasional Ilmiah Mahasiswa. Mempertemukan lansia di panti jompo dan anak-anak yang tinggal di Panti asuhan untuk tinggal bersama beberapa waktu. Anak-anak yang tidak punya keluarga dan para lansia yang seolah tidak diurus oleh keluarga, bukankah ketika dipertemukan akan ada perasaan saling melengkapi?. Saya masih mengingat senyum para lansia itu… senyum yang haus didengarkan dan diperhatikan oleh orang-orang di sekitarnya.

            Saya membuka kembali tentang bab lansia di dalam ilmu psikologi dan ciri-ciri mengenainya. Jika merujuk pada Geriatri yaitu cabang ilmu kedokteran yang menitikberatkan pada pencegahan, diagnosis, pengobatan dan pelayanan kesehatan pada usia lanjut. Proses menua (lansia) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Ciri yang khas adalah keterbatasan fungsi tubuh yang berhubungan dengan makin meningkatnya usia, akumulasi penyakit,  perubahan yang berkaitan dengan kemampuan terhadap pekerjaan ataupun fungsi keseharian lainnya. Hurlock  kemudian menjelaskan bahwa usia lanjut tidak hanya soal kemunduran fisik tetapi juga psikologis sehinggga penyesuaian yang tepat harus dilakukan agar tidak terbentuk konsep diri yang buruk. Jadi teringat kata bijak lama bahwa tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Tubuh yang mulai merenta, kulit yang mengeriput, dan fungsi tubuh yang menurun adalah hal yang pasti dihadapi seseorang yang usianya ditakdirkan panjang oleh Tuhan. Tetapi bagaimana menyikapi ketuaan dengan berbagai tantangan, keberhasilan, kehilangan, kekecawaan, dan nano-nano  rasa lainnya untuk tetap bijak dan terus belajar itu adalah pilihan.

            Saya adalah pecinta teori Erikson tentang Life Span Developmentnya atau lebih dikenal dengan dewanya psikososial. Teori yang  sangat representatif karena sudut pandangnya menggambarkan kepribadian manusia. Jujur saja, teori ini mengantarkan saya berefleksi banyak hal atas fase-fase hidup yang sudah saya lewati. Teori yang menekankan pada pentingnya perubahan yang terjadi pada setiap tahap perkembangan dalam lingkaran kehidupan sebagai wujud hasil interaksi dari tindakan-tindakan sosial. Saya sepakat dengan Erikson bahwa seseorang berkembang tidak  berdiri sendiri tetapi menjadi satu kesatuan dengan sosialnya. Memurut Erikson apa saja yang tumbuh memiliki sejenis rencana dasar, dan dari rencana dasar ini muncullah bagian-bagian, setiap bagian memiliki waktu masing-masing untuk mekar, sampai semua bagian bersama-sama ikut membentuk suatu keseluruhan yang berfungsi. Ketika Erikson membagi fase kehidupan menjadi delapan bagian, maka kesimpulan kecil saya adalah di usia lansia dengan tingkah dan perilakunya, kita akan bisa melihat sejauh mana seseorang sudah melewati fase hidup sebelumnya.

            Ketika kita sudah fase senja (60-65 tahun ke atas), ditandai adanya kecenderungan ego integrity vs despair. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi, semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya.  Jika individu merasa bangga dan puas dengan pengalaman-pengalaman pada masa sebelumnya, mampu mencapai kebijaksanaan atas hidup, tidak ada rasa penyesalan dan siap menghadapi kematian maka ia menjadi pribadi yang dalam konsepnya Erikson adalah Ego Integrity. Saya menjadi teringat tayangan Mata Najwa tentang Apa kabar Habibie hari ini?”, melihat tayangan itu, kesimpulan psikologis saya adalah Pak Habibie adalah pribadi yang matang dan memiliki integritas ego yang utuh. Beliau mampu memaknai segala peristiwa dan tetap bisa berfungsi maksimal dimasa tua dan sudah menjalani  7 fase sebelumya dengan baik sebagai bagian dari proses belajar seumur hidup.  Nenek Aji di kampung penempatan saya di Moilong adalah contoh Lansia yang luar biasa, berusia 80 tahun lebih namun masih terus mengajar anak-anak mengaji, fisik renta bahkan tak menghalangi semangatnya. Catatan penting saya dari kedua tokoh ini adalah soal kepercayaan mereka terhadap Tuhan dan kecintaan pada berbagi untuk sesama yang kemudian menjadikan hidup selalu bermakna bahkan di usia senja (oh…betapa bahagianya menjadi lansia demikian)

            Jujur, ketika saya berkunjung ke Panti tadi, saya tidak bisa menilai banyak apakah para lansia ini berada di titik ego integrity  atau justru  kekecewaan di dalam hidup. Apakah mereka merasa terbuang dan mengalami banyak penyesalan,  perasaan sakit atau justru putus asa. Di usia senja, ada masa seseorang mengalami kekecewaan besar di dalam hidupnya karena tidak melakukan hal yang harus dilakukan di masa sebelumnya. Sebuah proses yang sebenarnya bersumber kepada penerimaan diri sebagai bagian dari pembentukan konsep diri lansia. Mereka yang ingin terus melakukan sesuatu namun sudah terbatasi dengan fisik yang rapuh, dan tidak siap dengan ketuaan yang sudah pasti dihadapi sehingga keputusasaan  menghantuinya. Saya bersyukur pemerintah masih memperhatikan perkembangan Panti Werdha sebagai bagian dari tanggung jawab kesejahteraan rakyatnya. Membiarkan para lansia tetap berfungsi efektif dengan fisik yang terbatas menmbuat perasaan berhargadi dalam hidupnya, walaupun mereka sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Semoga saja di akhir usia mereka, bisa terus bahagia dengan hidupnya.

“saya doakan kamu banyak rejeki ya nak….” Ucap salah satu lansia itu kepada saya.

“Doakan nek, doakan saya punya banyak rejeki agar bisa terus berbagi kepada sesama, dan semoga nenek selalu tabah”,  doa saya ketika melangkah dari ruang Anyelir Panti Wherda ini.

Mari terus belajar yan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: