Membaca Kehidupan Kembali…

Sudah lama saya tidak melakukannya, hanya sekedar duduk dan memperhatikan, menjadi pengamat dan membayangkan bagaimana rasanya menjadi mereka. Setelah obrolan panjang yang cukup melelahkan di lantai 4 sebuah rumah sakit besar di Kalimantan, saya kemudian turun ke lantai satu, dan duduk di depan poliklinik jantung, mengambil jeda dan mencerma makna lebih banyak.

Miris saya mendengar bahwa penderita autis dalam daftar tunggu terapi di rumah sakit ini sudah lebih dari 50 anak, pedih rasanya tau anak penderita leukimia sudah semakin banyak, dan terpukul rasanya ketika saya semakin sadar bahwa kesehatan untuk orang miskin itu benar-benar mahal. Di titik seperti ini, saya harusnya lebih merefleksi bahwa dari sudut pandang manapaun saya jauh lebih beruntung, dan sekali lagi saya kemudian mengingatkan diri, ketika saya dilahirkan lebih beruntung, harusnya saya tidak hanya hidup untuk diri sendiri.

Ketika saya diberikan kesempatan, yang saya sendiri tidak menyakini dengan pasti, saya harusnya percaya bahwa ada cara-cara unik dari Tuhan untuk membuat hambanya untuk belajar. Saya kemudian teringat hampir satu setengah tahun lalu, dengan perasaan yang sama tidak yakinnya dengan sekarang, saya duduk di sebuah rumah sakit dengan pasien yang banyak menderita gangguan mata bahkan hampir mengalami kebutaan. Ketidakyakinan untuk menjadi pengajar di daerah yang entah bagaimana, saya masih mengingat jelas detail peristiwa ketika saya duduk begitu lama di ruang tunggu pasien untuk menyakinkan diri ini adalah jalan yang benar. Satu setengah tahun sesudahnya,  saya merasa keputusan kala itu adalah keputusan yang benar, saya tidak akan pernah menyesali kehidupan yang luar biasa bersama anak-anak pesisir dan teman-teman sepenempatan saya yang luar biasa di 14 bulan kami.

Pikiran saya terjeda dengan kehadiran seorang ibu yang tergolek lemah di tempat tidur kemudian di dorong oleh seorang perawat masuk ke dalam lift. Ada infus di tangannya, perkiraan saya ibu ini akan dipindahkan ke lantai atas ruang inap. Melihat ibu ini, dan merefleksi saya sendiri, saya harusnya bersyukur masih diberi kesehatan untuk terus melangkah, mengingatkan saya betapa berharganya sehat, dan ketika ada amanah sehat di tubuh saya, harusnya saya tidak hanya egois dengan kesenangan sendiri.

Saya kemudian membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang-orang di rumah sakit ini. Apakah para dokter ini lelah melihat penyakit setiap hari, bagaimana perasaan perawat menghadapi anak kanker yang dari hari kehari menyambung nyawa, apakah para resepsionis itu jengkel dengan ulah tamu pengunjung yang sering datang di luar jam besuk, atau bagaimana dengan penjaga kebersihan yang sedang membersihkan lantai rumah sakit itu, adakah yang menghargai pekerjaan yang kadang orang lain anggap kecil itu.

Pikiran saya benar-benar menerawang atas banyak hal, saya tidak tahu akar kegundahan saya sekarang, apakah karena sekitar atau ketidakseimbangan hati dan logika saya sekarang. Perlahan saya berusaha mencerna satu persatu. Saya berusaha mengingat kembali perasaan satu setengah tahun lalu, apa yang akhirnya membuat saya berkata kepada diri sendiri “ lakukanlah”. Berbagi…sepertinya itulah yang terlintas dipikiran saya, untuk anak-anak negeri, untuk sebuah cerita dalam hidup saya dimana saya berproses banyak hal. Logika saya terus mencari alasan esensial kala itu. Jawabannya ternyata begitu sederhana, karena saya ingin bermanfaat, bermanfaat dengan cara yang saya cintai, bermanfaat dengan cara yang saya impikan… dan berada di ujung negeri, adalah salah satu yang saya harapkan kala itu. Apakah saya harus melakukan ini? Saya kemudian berfikir lagi.. tidak mudah rasanya untuk melangkah sampai saya menemukan apa alasannya. Sama ketika saya terus menemukan alasan untuk tetap waras di empat belas penugasan saya.

Well, tidak semua harus terjawab di ruangan ini.. saat saya berjeda dan membaca…hanya sekedar merefleksi, dan lihat waktu akan membawa saya kemana… Yang jelas, di amanah yang dititipkan kepada saya sekarang… semoga terus bisa melakukan yang terbaik

Apapun…Alhamdulillah

Rumah Sakit Ulin, 1 Februari 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: