Ketulusan Nenek Aji

 

nenek yang selalu ikhlas untuk berbagi

nenek yang selalu ikhlas untuk berbagi

Taqabbalallaahu minna wa minkum taqabbal yaa kariim” “

“Insya Allah artinya : Semoga Allah menerima (ibadah) kami dan (ibadah) kalian.” Kalimat yang biasanya dilafalkan sebelum mulai mengaji.

            Sosok yang paling kukagumi di desa Moilong adalah seorang nenek yang usianya lebih dari 80 tahun. Nenek Sairah nama asli beliau, anak-anak biasanya memanggil dengan nenek Polu, sedangkan orang dewasa menyebut beliau dengan nama nenek Aji (artinya nenek yang sudah pergi ke tanah suci). Aku berkenalan dengan nenek pertama kali dari anak-anak. Dengan semangat mereka bercerita bahwa sepulang sekolah mereka akan pergi ke rumah nenek Aji untuk belajar mengaji. “ Mengaji ba eja Enci, kalau so bisa Qur’an kecil, pindah mi ke Qur’an besar”. Ucap Yoga ketika itu padaku. Akupun memberanikan diri untuk mendatangi beliau kemudian, dan nenek Aji menyambutku dengan terharu hingga menitikan air mata. “ kasian kamu nak, ke sini jauh-jauh ba ajar anak-anak”. Nenek ini sangat penyayang, itulah asumsi awalku, aku tidak pernah menyangka ada orang yang menangis dipertemuan pertamanya denganku. Namun seolah mengenal lama, aku kemudian begitu jatuh cinta dengan kata dan perilaku nenek Aji.

Nenek Aji menginjakan kaki di Kampung Moilong lebih dari 60 tahun yang lalu, semenjak itu nenek selalu meluangkan waktunya untuk mengajar mengaji untuk anak-anak. Nenek Aji muda, sering pergi ke pulau seberang desa Moilong untuk bekerja, dan uangnya pelan-pelan beliau tabung untuk pergi naik haji bersama sang suami. Tujuan hidup nenek dari dulu hingga sekarang begitu sederhana yaitu beribadah kepada Allah. Islam dan ajarannya adalah kesatuan yang tak terpisahkan dari beliau.

Belasan anak biasanya diajar nenek setiap harinya

Belasan anak biasanya diajar nenek setiap harinya

Belajar semangat itulah nenek Aji, fisiknya yang renta tidak menghalangi keinginan beliau untuk selalu mengajar kepada anak-anak. Aku membayangkan berapa lintas generasi pembaca Al-Qur’an hasil didikan nenek Aji dengan cengkok Bugis dan suara yang amat merdu. Nenek sering berujar nasihat yang kudefinisikan sebagai ketulusan “ ba ajar mangaji itu janan dibayar nak, jangan dibayar, kasian…tidak ada uangnya orang, karena Allah Ta’ala”. Nasehat nenek mengingatkanku bahwa apa yang kulakukan di desa Moilong tidaklah ada artinya. Nenek sering menamparku dengan kalimat sederhananya “Banyak orang pintar nak, tapi tidak mau ba ajar, saya tidak mau…saya mau ma ajar mereka.Yang penting dia mau diajar nak, biar bodoh-bodo yang penting belajar pasti bisa”.

Nenek Aji sang penyemangatku

Nenek Aji sang penyemangatku

Nenek Aji adalah penguatku, jika semangatku mulai meredup dan aku merasa lelah untuk bergerak, aku akan datang ke beliau. Melihat dan mendapatkan pelukan dari nenek Aji menjadi semacam energi kembali untukku. Kami memilih jalan untuk sama-sama berbagi. Nenek dengan lantunan ayat sucinya, dan aku dengan peranku sebagai seorang guru di sekolah.

Nenekku sayang, terimakasih untuk selalu menjadi pengingatku. Pengingat untuk selalu tulus, pengingat untuk selalu beribadah kepadaNya. Semoga nenek terus sehat 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: