Tabungan Anak Moilong

Buku Tabungan Siswa

Buku tabungan siswa SD Inpres Moilong

“Kalian ingin membeli alat lukis ini, berarti kalian harus menabung sendiri”, pancingku kepada anak-anak di kelas siang hari itu. Aku sengaja membeli cat air dan kuas yang kami pergunakan untuk pelajaran kesenian. Aku membagi mereka menjadi tiga kelompok, dan cat air yang digunakan terbatas. Anak-anak tampak tak puas karena ingin menggambar sepuasnya.

Itulah awal ide menabung kelas kami, dengan tujuan sederhana membeli cat air yang diidam-idamkan mereka. Dengan semangat 45 akupun membuatkan mereka tabungan dan menyelipkan kata “rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya”. Keesokan harinya, mulailah anak-anak menabungkan uangnya padaku.

“Enci, kitorang juga mau menabung” kata Hasni dan Icha di kelas enam selang beberapa hari kelas empat memulai tabungan perdana mereka. Budaya menabung kemudian mulai menyebar ke kelas enam. Awal-awal aku cukup kaget dengan jumlah uang yang ditabungkan oleh kelas enam. Beberapa anak bisa menabung lebih dari sepuluh ribu. Aku khawatir mereka minta dengan orang tua, sehingga esensi menyisihkan uang jajan untuk menabung jadi berkurang. Kemudian keluarlah aturan, sehari hanya boleh menabung 5 ribu saja.

” Enci…, aku mau menabung 30 ribu enci..”, kata Iwan mendatangi kelas ku.

“Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak itu Iwan?” tanyaku padanya.

” Ini hasil kerjaku enci, kerja babantu di kebun sawit, dikasih mi aku uang”. Ucap Iwan polos

Rupa yang sama juga oleh Mansya, ia ingin menabung lebib dari lima ribu karena habis menjemur coklat dan mendapatkan upah dari penjualannya. ” Berapa satu Kilonya coklat kering Mansya”, tanyaku kepada Mansya, “18.000 enci, aku dapat tiga kg”. Ya, begitulah, sebagian anak-anakku terbiasa bekerja dan aku senang mereka menyisihkannya untuk ditabung.

Dari kelas empat dan kelas enam, tabungan kemudian mulai berkembang. Kelas lima kemudian mulai iri dengan tabungan kelas lainnya. Merekapun merengek minta kepadaku. Beberapa anak kelaa bawah sering masuk ke kelas dan tiba-tiba menyerahkan uang kepadaku. Siklus yang kemudian terus berulang, hingga kurang dua bulan semua anak di SD Moilong mempunyai tabungan mereka.

Tinggallah aku yang sangat kewalahan. Kepala sekolah sering mendatangi kelasku dan menyuruh istriahat di kantor, dan aku mulai kehabisan waktu untuk bercengkrama dengan guru-guru karena harus menuliskan tabungan di buku mereka di sela mengajar.

” Enci Dahlia, mau memegang tabungan anak-anak kelas dua” yang ternyata disambut baik oleh beliau. Lalu di lanjut oleg Enci Ida, Pak Lis, dan Enci Muawiyah. Aku lega pada akhirnya hanya memegang tabungan kelas empat dan kelas enam. Kelas lain dikelola oleh wali kelas masing-masing.

“Yanti…saya so bilang di kelas satu, disisihkan uang belanja, jangan,bahutang-hutang di warung lagi, anak-anak suka kalau buku tabungannya penuh”.Aku terharu dengar ucapan Enci Muawiyah yang juga begitu semangat dengan tabungan. Diawal-awal keberadaanku di Moilong, aku agak frustasi dengan beberapa anak yang suka hutang di warung dekat sekolah. Akupun kesulitan untuk menyakinkan ibu warung untuk tidak melakukan itu kepada anak-anak dan aku belum tau cara menyelesaikannya. Well, Tuhan memang baik, mungkin tabungan tidak menyelesaikan perilaku berhutang beberapa anak ini, tetapi paling tidak memberikan alternatif pilihan ketika mereka tau teman-teman mereka menabung (he…edisi memancing sifat konpetitif anak), dan benar saja, Yani bilang kepadaku “Aku mau menabung enci”, sambil menyerahkan uang kepadaku malu-malu dan pergi berlalu.

“Terimakasih Enci, soalnya ba ajar anak saya menabung, kata anak saya, Mama! duit bajual kuenya saya mau tabung di sekolah”. Jujur ekpektasi terhadap tabungan begitu sederhana, untuk membeli cat air untuk melukis. Aku tidak menyangka bonusnya adalah anak-anak SD Moilong kini memilki tabungan sendiri.

Rajin menabung ya NakšŸ˜ƒ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: