Aku dan Liputan

WP_20131025_004[1]

Finaly, selesai sudah acara pendokumentasian kegiatan anak-anak dan desa, begitulah aku terus membahasakannya kepada beberapa orang di sekolah ataupun tokoh  masyarakat yang kuberitahu. “ jika nanti dalam pendokumentasiannya dianggap memberikan banyak manfaat untuk orang lain, dirasa memberikan inspirasi dan orang lain bisa belajar, maka kemungkinan akan di tanyangkan di televisi”.  Aku tidak ingin ada ekpektasi yang berlebih dari warga terhadapku ataupun orang-orang dari Jakarta yang ceritanya datang ke desa kami.

Beberapa minggu sebelumnya, trusteeku Mas Dimas bilang kalau akan ada peliputan di Banggai. Aku masih berfikiran bahwa kami sekelompok akan mendiskusikannya.  Aku masih berkeyakinan pasti bukan tempatku. Ketika kemudian Mas Maman (Exs PM yang bekerja di stasiun ini)  mengabarkan lebih jelas tentang kepastian tempat mana yang akan diliput.. Rasanya aku hampir frustasi mendengarnya. Media dan caranya memberitakan sesuatu kadang-kadang adalah hal yang sering kucaci maki sendiri saat membaca dan menontonnya. Sekarang aku akan berurusan dengan mereka, aku membayangkan “ seberapa banyak belanja sosial yang harus kulakukan?” . Ditambah dengan energi yang kukeluarkan, fikiran meracauku mulai menghantui. Apalagi dengan becandaan teman penempatanku yang tidak membuat perasaan tentang media ini menjadi lebih baik.

Sahabatku kemudian berkata “ kenapa kamu harus menolaknya?”, Ucapan sahabatku ini kemudian mengajakku berfikir, “bisa jadi ini adalah kesempatan untuk anak-anakku belajar banyak, dan ini adalah kenang-kenangan untuk kalian”.  Begitulah mungkin Deen berkata kepadaku. “ apa yang kamu takutkan?”, “ soal riya atau diketahui orang?”,  Aku kemudian berfikir, mungkin aku hanya butuh dukungan dan keyakinan, apakah demikian?, “ jika memang itu yang kamu takutkan, berdoa sama Allah untuk dijagakan hatinya?”.Aku tidak bisa membayangkan kalau tiba-tiba ada kamera yang harus mengikuti aktivitasku sis”,  mungkin itu adalah sisi ngeyelku waktu itu kepada sahabatku. Tetapi yang aku suka dari penegasan Deen adalah “ aku tidak terlalu peduli dengan ketidaknyamananmu..tapi jika anak-anak dan orang desa bisa mendapatkan kesempatan atas sesuatu itu…”,  yah…itulah saatnya aku mungkin harus lebih belajar.. Belajar untuk memberikan kesempatan kepada anak-anakku.

Aku hanya berhasil menghubungi Deen malam itu, tetapi pembicaraan singkat denganya membuatku jauh sangat lebih baik. “ Aku hanya harus mencari alasan untuk ikhlas dan dengan senang melakukannya”, itulah fikirku….

Dan aku melakukannya….

Aku melakukannya karena anak-anakku, karena aku ingin mereka terus belajar dan mengenal banyak orang luar yang mungkin bisa menginspirasi mereka. Memberikan cerita di hidup mereka kelak bahwa dari kecil mendapatkan kesempatan untuk belajar dan akan sia-sia jika mereka tidak memanfaatkanya dengan baik. Aku melakukannya untuk sekolahku, untuk memberikan apresiasi atas perubahan-perubahan kecil yang telah kami lakukan bersama. Atas semangat guru-guru yang menata kursi dan meja siswa dengan beragam model, atas dukungan pengembangan ekskul di sekolah, atas usaha yang dilakukan untuk terus bisa masuk ke sekolah, atas kebersamaan yang sekarang mulai hangat di sekolah, atas usaha-usaha yang semoga terus bisa dilakukan di masa yang akan datang. Aku melakukannya untuk desaku…Desa indah yang memberikan banyak pelajaran hidup hampir setahun ini atas pelajaran  tentang ketulusan dan salig membantu, atas cara mereka yang membuat perubahan paradigma di logikaku untuk memahami sesuatu, atas harapan desa ini terus lebih baik dan maju. Dan aku melakukan ini untuk diriku sendiri, untuk mentransfer nilai-nilai yang ingin kutularkan, sebagai bagian cerita dalam jejak langkah hidupku. Bahwa aku telah menunaikan janji untuk mendidik anak-anak ini, pengingat bahwa aku tidak pernah menyerah dengan mereka, pemberi makna bahwa aku amat sangat belajar sehingga di kehidupanku setelah ini aku menjadi pribadi yang terus bisa bersykur, sabar, ikhlas dan melakukan yang terbaik di setiap kesempatan.

Tidak seburuk yang kubayangkan

Aku kemudian mengevaluasi apa saja yang sudah terjadi lima hari ini, apa saja yang telah kupelajari, apakah aku bisa mengusung nilai-nilai yang ingin kusampaikan di liputan, adakah orang-orang yang mungkin akan di kecewakan, atau apakah prasangkaku soal media selama ini terbukti benar.

Aku kemudian belajar menjadi lebih asertif, menyuarakan yang seharusnya, mengkomunikasikan yang menurutku tidak sesuai, atau mengambil jalan tengah untuk kepentingan bersama. “ ingat yanti…. ini untuk anak-anakku”,  pikiran yang kemudian membuatku selalu bersemangat ketika aku benar-benar capek. Tidak seburuk yang kubayangkan menurutku, karena anak-anak tampak sangat senang dengan kehadiran orang baru, tokoh yang diliput menyambut dengan baik, dan harapan kecil anak-anakku untuk bisa berwisata bisa terwujud. “Sudahlah dengan ketidaknyamaman”  yang penting mereka bisa mendapatkan pengalaman berharga pikirku.

Aku tidak tahu apakah aku sudah melakukan yang terbaik, aku hanya mengusahakannya.. Mengusakahan anak-anakku nyaman di depan kamera, berbicara kepada Alia dan Putra secara dewasa mengapa mereka yang dipilih sebagai tokoh anak, mengkomunikasikan dengan tokoh masyarakat, dan berusaha mengantisipasi kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.

Memang cukup melelahkan…tetapi jika dalam proses lelah kita bisa belajar banyak dan menikmati…. terbayar sudah.

Jadi yan….Mari terus menikmati setiap detik yang terus berlalu ya… J

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: