Dialog Putra dan Alia dengan Encinya

“ Berbincang dan mencari makna…itulah mereka”

Net TV memintaku untuk melibatkan dua anak untuk diliput secara khusus. Merupakan bagian fitur wajib dari acara Lentera Indonesia dari sekian banyak fitur yang diajukan kepadaku.Singkat cerita, bersepakatlah kami bahwa yang diangkat adalah bakat Alia dan Putra. Aku ingin kedua anak ini tau alasanku memilih mereka, dan mereka harus tetap rendah hati akan itu.

Obrolan tentang cita-cita bersama Putra

Putra yang amat berbakat

Putra yang amat berbakat

“Putra, ayo kita ngobrol” kataku kepada Putra dan mengajaknya ke bawah pohon dekat kelas empat.

“Enci ingin bicara sama kamu soal acara yang mendokumentasikan sekolah kita, dalam acara itu akan ada anak yang diliput secara khusus, dan Enci memilih Putra”

Putra hanya diam dan tersenyum kepadaku. Aku kemudian menjelaskan tentang program Lentera kepada Putra dengan menekankan pada rasa ingin berbagi.

” Jika acara itu dinilai bermanfaat maka akan ditayangkan di TV, dan akan ditonton oleh teman-teman Putra, tidakhanya di Moilong tetapi banyak teman lainnya di Indonesia, Putra mau berbagi dengan mereka soal bakat Putra?,Putra nanti akan ditanya -tanya sama kakak yang meliput”

Aku ingin Putra mengerti bahwa dia spesial, dan berbagi kepada yang lain adalah hal yang dibiasakan sejak kecil.

“Iya Enci, saya mau” jawab putra kemudian.

” Enci sekarang akan menunjukan catatan yang enci tulis soal Putra, enci memuatnya di blog dengan internet”. Putra terlihat bingung dengan ucapanku. Aku kemudian menjelaskan tentang blog Indonesia Mengajar kepada Putra. Dan menyampaikan salam dari orang yang memberikan komentar di blogku.

Jeda diam di antara kami kemudian, aku membiarkan putra membaca catatanku tentangnya yang sengaja aku printkan. Anak yang disampingku ini adalah anak luar biasa yang membawaku berproses sebagai guru. Sebagai guru yang tidak hanya melihat sudut pandang terbaik dari kaca mataku, tetapi lebih kepada potensi mereka. Membumikan teori-teori psikologi yang kupelajari untuk tidak hanya sekedar retorika belaka.

Aku melihat Putra menarik nafas, dan dia tiba-tiba menitikkan air mata. Tidak ada kata keluar dari mulut Putra, dan aku juga tidak berniat bertanya kenapa dia menangis membaca tulisanku, dugaanku karena ada cerita tentang ibunya.

“Putra cita-citanya apa?” tanyaku memecah kesunyian

“Tentara enci?” Jawab putra singkat.

gambar putra

Putra dan cita-citanya yang dilukiskan di karikatur

Aku kemudian berceloteh tentang cita-cita dan kenapa kita harus berjuang mencapainya.

“Putra tau, Putra punya bakat menggambar, dengan bakat seperti itu, Putra bisa menjadi animator, Putra tau itu apa?”

Putra hanya menjawab dengan gelengan kepala. Aku kemudian menjelaskan profesi apa itu. Aku ingin anakku ini tau, banyak sekali profesi di dunia ini, dan dia bisa mencapainya jika dia mau, tidak peduli keterbatasan yang dimilikinya.

“Jadi tentara itu adalah cita-cita yang mulia Putra, enci membayangkan Putra akan memakai baju tentara dan menjaga negara ini, yang jelas Putra harus semangat”, tegasku kepada Putra.

Aku suka tatapan beberapa detik Putra kepadaku dan kemudian berkata “Terimakasih Enci”, ucapan sederhana Putra, amat cukup bagiku menjadikan sebahagia-bahagianya menjadi seorang guru.

Aku kemudian melihat Putra berlalu untuk masuk ke kelasnya. Ada doa kesuksesan untukmu dari ku Nak.

Dialog harapan untuk berbagi bagi Alia

Reporter Net sepertinya cukup kesulitan membujuk Alia membacakan jurnalnya untuk didokumentasikan. Aku tidak ingin anakku Alia dipaksa melakukan sesuatu yang dia tidak mau. Di sela anak-anak mengerjakan tugasnya, akupun mengajak Alia duduk santai di lantai kelas empat.

wp_ss_20140704_0087

Aku dan Aliana yang sama-sama berproses

Alia adalah anak yang sangat cerdas dan butuh untuk dimengerti oleh lingkungannya.Catatanku sederhana, ketika Alia belajar bagaimana berbagi dan mengerti orang lain, ia akan menjadi pribadi yang luar biasa kelak. Alasan Alia dipilih menjadi salah satu tokoh di Lentera selain kecerdasannya adalah perilakunya yang ekpresif, juga kekritisannya. Aku sepakat memilih Alia, karena ketika suatu saat Alia melihat tayangannya kembali, Alia bisa jauh lebih memahami bahwa selain potensinya yang luar biasa, ada harapan untuknya agar menjadi pribadi yang rendah hati dan senang berbagi kepada sesama.

“Alia tau, Alia itu sangat pintar, Alia juga sangat cantik” Ucapku mengawali pembicaraan kami

“ Beh…Enci…” Alia tiba-tiba langsung berdiri dan menghindar. Aku tersenyum melihat ulahnya yang malu-malu tersipu. Aku kemudian menarik tangan Alia dan mengajaknya lagi duduk bersamaku di lantai.

“Alia mau berbagi kepintaran dengan teman-teman Alia, tidak hanya di Moilong, tetapi juga di seluruh Indonesia”

“ Saya tidak mau Enci, malas saya beh….” Ucap Alia

“Alia yakin tidak mau (dengan nada menggoda kepada Alia), Putra sudah sepakat mau berbagi kepada yang lain tentang bakatnya. Alia tidak mau melakukannya?. Bayangkan jika ada yang bisa belajar sesuatu dari Alia, itu tandanya Alia sudah melakukan satu kebaikan kepada sesama”

Aliaku hanya diam, matanya seolah berputar-putar menatapku, aku hafal betul ekpresinya ini. Ekpresi tanda dia sedang menilai dan mengkritisi.

“Ayolah Alia, Alia maukan berbagi kepada teman-teman Alia, nanti Kakak yang meliput hanya akan bertanya-tanya sedikit saja ya..”

“ Iya Enci, aku mau…tapi ditemani Fitri e?” Ucap Alia tegas dan bersemangat kepadaku.

Aliapun akhirnya bersedia untuk diwawancarai dan membacakan jurnal yang ditullisnya untukku. Reporter Net menunjukan rekaman asli Alia kepadaku saat wawancara. Ekpresinya jujurnya terhadap Encinya, pasti membuatku luar biasa kangen dengan anak ini kelak. Mungkin benarkata orang-orang, Alia adalah anak kesayangan Enci Yanti, mungkin lebih tepatnya aku melihat bakatnya yang begitu spesial semenjak kecil. Menjadi presiden, pramugari, sampai tiba-tiba menjadi pohon itulah Alia, yang selalu berlari ke arahku kemudian memeluk dengan erat atau tiba-tiba begitu marah kepadaku dengan banyak alasan. Alia si kecil yang begitu cantik dengan sejuta harapan bahwa suatu saat dia akan mewujudkan cita-citanya.

Semua anak-anakku sungguh istimewa, dan aku ingin menggunakan semua waktuku untuk mengenali mereka dengan istimewa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: