Ketika Aku Tidak Sendiri….(Bonus Keistimewaan Ramadan)


pesantren ramadan

“…Adalah sesuatu yang spesial buatku, karena aku tidak sendiri”

Setelah delapan bulan di penempatan,  aku  akhirnya merasa tidak sendiri…. ini bukan soal tidak ada yang mau berteman denganku, atau drama ketidakbetahan di desa. Orang desa yang begitu baik, dan anak-anak yang luar biasa membuat Desa Moilong begitu mempesona, apalagi keindahan alamnya yang tidak pernah membosankanku dan bonus kemewahan sebagai orang desa (teman sepenempatanku di Banggai pasti sepakat tentang kemewahan ini). Yah, secara personal aku merasa amat bahagia dan menikmati menjadi warga desa.  Mungkin karena Banggai baru angkatan pertama, sehingga definisi sendiri ini adalah dalam hal bergerak, merindu teman waras yang versinya Indonesia Mengajar adalah aktor lokal yang bisa sama-sama berbuat, berharap berada di belakang layar dan tidak menjadi central utama. Teman yang sama-sama peduli dan bergerak walau sederhana.

Pesantren ramadan Desa Moilong, itulah yang kemudian yang terjadi di desaku. Bentuk kegiatannya cukup  sederhana,  anak-anak belajar dari pagi sampai siang, sesi pertama adalah materi di kelompok besar, dan sesi kedua adalah pendalaman materi di kelompok kecil. Di luar  ekspektasi ku, yang membuatnya istemewa adalah ketika akhirnya banyak orang yang terlibat di dalamnya. Teman-teman baru di desaku, remaja atau orang  dewasa seumuran yang peduli dan menyenangi dunia pendidikan.  Tulisan ini ku buat untuk menghargai mereka, atas gerakan kecil yang telah kami lakukan bersama untuk anak-anak desa. Merekalah yang akhirnya membuatku merasa tidak sendiri, karena kami melakukannya bersama-sama.

Pesantren ramadan, ide awalnya sederhana, aku ingin anak-anakku memiliki kegiatan di bulan ramadan, agar waktu libur mereka tidak hanya di isi dengan bermain. Karena idenya sesederhana itu, maka aku berfikir, akulah yang akan mengajar dan bermain bersama mereka.  Di luar harapanku yang sederhana, kegiatan kami kemudian berkembang menjadi acara desa dengan kegiatan di bawah remaja Mesjid Desa Moilong. “saya bisa bantu mbak….” Ucap Mbak Dahlia yang juga guru honor di tempatku. “ nanti, saya ajak beberapa teman saya di Loppon, pasti dia juga suka ngajarin anak-anak”. Ide ini kemudian kusampaikan ke Pak Lis, guru honor lainnya. “ boleh enci, dari pada anak-anak tidak ada pekerjaan, nanti saya ajak teman-teman saya”.  Dari sinilah awal aku mengenal mereka, mengenal mereka dalam bentuk bekerja sama untuk mensukseskan kegiatan, mengenal aktor lokal yang punya dedikasi yang sama untuk kepentingan pendidikan.

Aku berfikir mereka akan marah, ketika aku tidak bisa tepat waktu datang ke desa direncana pertemuan perdana kami. Motor yang aku dan Ika kendarai mogok, dan aku sedikit lega hujan amat deras membuat pertemuan akhirnya diundur. Hujan kemudian tidak berkompromi hari-hari berikutnya, aku sampai agak frustasi untuk mengatur jadwal pertemuan kami. Mengejutkan bagiku, ketika pagi itu Mbak Dahlia dan dua orang temannya datang hujan-hujan ke rumah. “Ayo mbak, kita rapat pesantren, kita panggil U Lis”. Dari rapat kecil yang dihadiri beberapa orang inilah kami akhirnya merencanakan pesantren ramadan desa, yang kemudian dilaksanakan di Mesjid Nurul Imam Moilong, dan dua kali dilaksanakan di Mesjid yang ada di dusun sebelah Bumi Baru.

Mbak Dahlia, Mbak Eka, Mbak Eni, Mbak Popy, Mbak Dewi Mas Diar, Pak Lis, Mas Aminuddin, Mas Hara, dan Mas Andi…Mereka adalah orang-orang yang secara bergantian di tengah kesibukannya menyempatkan diri untuk membantu kegiatan pesantren kami. “ Saya pagi berjualan pakaian dulu di unit 11 enci”, ucap mas Diar. “ Saya, hari senin ke Luwuk ada kegiatan lalu mengantar adik ke kendari mbak”, Ucap Mas Hara. “ Saya bisa mendampingi hari di akhir pekan, soalnya saya mengurus kuliah”, ijin mbak Dewi. “ Saya membantu persiapan safari ramadan hari selasa, dan ada kerjaan di kantor “ kata mas Andi. “ Harapannya kita pulangnya jangan sore-sore ya, soalnya yang perempuan itu bekerja di rumah buat buka” celetuk mbak eka.  Diantara kesibukan mereka, dan aku yang juga tidak bisa mengikuti pesantren sepenuhnya. Pesantren ramadan kami bisa terlaksana dengan baik selama delapan hari.

Pemateri dari Loppon serahkan kepada saya, yang penting ada suratnya”, Ucap Mas Andi. “Yang dari Moilong, biar saya yang hubungi Enci”, Pak Lis menimpali. Bagiku kemudian ini adalah bonus dari keistemewaan lainnya. Ketika akhirnya beberapa tokoh agama yang beberapa diantaranya adalah orang tua muridku juga ikut memberikan materi kepada anak-anak. Ustad Zakaria berkata, “ anak-anak, amal jariyah yang tidak pernah putus itu salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat, jadi kalian beruntung sekarang bisa belajar lebih mudah…dulu kakek harus jalan kiloan buat sekolah”.  Yah, ilmu yang bermanfaat, itulah tujuan akhir dari pesantren ramadan ini, anak-anakku bisa sedikit saja, bisa mendapatkan pemahaman baru tentang Islam dan Ilmu pengetahuan lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari walaupun bentuknya amat sederhana.

Melihat anak-anakku akrab dengan kakak pendamping mereka, bercanda, mengeluarkan pendapat dan bertanya membawa hawa segar untukku bahwa desaku punya banyak aktor lokal yang memiliki pendekatan pendidikan yang menyenangkan bagi anak. Ketika ayat demi ayat mereka ajarkan, ketika hukum dan aturan agama mereka jelaskan dengan lembut, membuatku begitu iri karena tidak bisa membersamai anak-anak setiap hari di pesantren. “ Sampaikanlah dariku walau satu Ayat” (Sabda Nabi Muhammad),  dan mereka mempersiapkannya dengan belajar terlebih dahulu agar tidak salah kepada anak-anak, mereka menggunakan sinyal yang kugunakan untuk mereka, dan mengajarkan dengan metode menyanyi agar lebih memudahkan. Aku mengamati mbak eka yang amat akrab dengan dunia remaja, mas diar yang mengajarkan sesuatu sambil bercerita, mas Hara yang begitu antusias menyampaikan materi, mbak dahlia yang menaklukan kelas kecil dengan metode tanya jawab, atau Mas Andi yang tegas dan mengajarkan dengan contoh bagaimana gerakan sholat yang benar.  Mungkin semua orang bisa mengajar, tetapi temanku punya bakat dan semangat yang baik untuk mengajar.

Dalam doaku, aku pernah  berujar ingin dekat dengan anak-anak di dusun sebelah yaitu Loppon. Tetapi aku tidak tahu bagaimana caranya, dan kegiatan bersama kami menjawab doaku. Desaku memang terbagi menjadi empat dusun dengan dua sekolah, sehingga kadang ada eklusivisme terhadap sekolah masing-masing dari anak-anakku ataupun orang tua. Senang rasanya ketika banyak anak di luar sekolahku yang juga memanggilku Enci. Datang pagi-pagi ke rumah, membaca dulu beberapa lembar buku, dan bersama-sama kami pergi ke mesjid dan ini adalah berkat teman-teman baruku. “ kalau bisa, yang ikut pesantren bukan cuman anak Moilong, nanti saya ajak anak-anak bumi baru”. Kata mbak Dahlia. Pesantren ramadan kami yang awalnya hanya di dusun Moilong, di dua kali kesempatan dilaksanakan di Bumi Baru dengan tema pelatihan kepemimpinan dan lomba keagamaan. “ Disini tidak ada namanya anak Loppon atau Moilong, tapi anak desa Moilong”. Ucap Pak Masruhin, pembina remaja mesjid Dusun Loppon di kegiatan bersama kami.

Puncak acara pesantren ramadan kami adalah dengan buka bersama di mesjid bersama anak-anak. Lalu malamya sehabis taraweh, di dusun Loppon, para remaja menghabiskan waktu bakar dan makan ikan bersama. Bagaimana perasaanku malam itu….Senang, karena sebenarnya banyak sekali aktor lokal yang masih peduli dengan kemajuan desanya. Ada tokoh-tokoh desa yang siap memfasilitasi, ada orang tua yang siap mendukung, dan anak-anak yang senang belajar. Pesantren ramadan memang berakhir setelah berlangsung delapan hari berturut-turut, tetapi tidak hanya sampai disni. Para remaja mesjid kemudian mengadakan berbagai macam lomba paska materi pesantren kami. Azan, hafalan surat pendek, cerdas cermat, dan lomba sholat.

Bersama-sama itu memang membutuhkan kesabaran, tetapi jika dalam prosesnya sama-sama belajar, maka akan baik hasilnya. Ya…Sekali lagi aku belajar, bukan aku yang memberi, tetapi mereka yang berbagi… lalu berkata kepada diri sendiri, mari kita nikmati setiap detik yang sungguh berarti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: