Belajar dari Hasni

 

hasni

 

“Karena setiap anak istemewa, dan aku ingin mengenali setiap anak-anakku dengan istimewa”

Hasni adalah salah satu anak luar biasa yang pernah kukenal, bukan karena prestasi atau atau kecerdasannya di bidang akademis, tetapi karena kepribadiannya yang mempesona. Hasni begitu cantik menurutku, tetapi bukan sekedar cantik secara fisik tetapi cara berperilakunya yang menawan. Hasni adalah salah satu anak yang paling bertanggung jawab dan menjadi anak kepercayaanku di sekolah.

Awal-awal di sekolah, aku agak frustasi dengan ketidakberfungsian perpustakaan. Perpustakaan tutup, sedangkan banyak buku bagus yang bisa dibaca oleh anak-anak. Sebab  musababnya adalah  ketiadaan guru yang menjaga. Atas kepercayaan kepala sekolah, aku akhirnya mengelola perpustakaan .  Aktivitas ini sangat menyenangkan untukku, tetapi dengan puluhan anak yang senang di perpustakaan, baik bermain, membaca, bahkan menghabiskan makanan, ini cukup merepotkan. Apalagi dengan jam  mengajar yang harus diisi. Hasni adalah orang yang paling setia dari awal hingga sekarang yang membantuku. Keistemewaan Hasni mulai mempesonaku ketika akhirnya kami membentuk pengurus perpustakaan, semacam  klub pecinta buku untuk piket menyapu, menjaga kebersihan perpustakaan, ataupun  memastikan buku yang telah dibaca terjaga dengan baik dan dikembalikan  ke tempatnya. Di antara semua pengurus perpustakaan, Hasni adalah orang yang paling konsisten terhadap tugasnya, bahkan anak ini paling tau letak buku dari pada aku sendiri.

Ketika beberapa kali harus ijin ke kota untuk urusan kegiatan kabupaten, tutup dan bukanya perpustakaan akhirnya harus tergantung kehadiranku di sekolah. Setelah beberapa bulan mengamati Hasni, akhirnya aku  mempercayakan kunci perpustakaan kepadanya. Mengelola ketika di sekolah, atau mempersilahkannya membuka di sore hari ketika ia dan teman-temannya belajar. Awalnya, beberapa guru agak keberatan dengan keputusan ini, hanya saja…tanggung jawab Hasni sebagai pemengang kunci dan anak-anak lainnya membuat protes ini akhirnya berlalu. Tidak ada lagi protes dari guru-guru tentang kunci perpustakaan. Perpustakaan memang rumah belajar kami, kami menempelkan segala macam di dinding perpustakaan. Hasni punya ketertarikan yang besar terhadap buku dan ruangan ini, lebih dari itu dia menjaganya dengan sangat baik. Biasanya jendela selalu di tutup dan buku yang berserakan selalu kembali ke tempatnya. Hasni membawa pengaruh cukup besar untuk mengajak teman-temannya membersihkan perpustakaan.  Pengaruhnya bukannya menyuruh atau memerintah, tetapi dengan memulai melakukannya, dan entah kenapa beberapa anak yang lain akan membantunya tanpa diminta.

Kekaguman ku kepada Hasni bertambah ketika aku mengenal bagaimana keluarganya. Ibunya adalah seorang buruh cuci, Ayah Hasni sudah meninggal dan dia masih punya dua adik lagi yang masih usia sekolah.  Hasni terbiasa membantu ibunya di rumah, kadang-kadang di sore hari aku melihatnya mondar mandir bersepeda bersama  adiknya untuk membeli keperluan rumah seperti minyak tanah. Menurut Enci Muawiyah, dulu Hasni sering tidak masuk karena diminta menjaga adiknya yang masih kecil dan menurut Enci, kehidupan keluarga Hasni cukup memprihatinkan. Ini mungkin jawaban atas pertanyaan ku kenapa Hasni tidak pernah protes jika dimintai tolong oleh guru-guru,entah  menyapu kantor, mencuci piring, atau membeli sesuatu. Iya hanya akan berkata  “ iya enci” tersenyum dan melakukannya, aku tidak pernah melihat raut muka masam di wajahnya. Semenjak ayahnya pergi, secara organis belajar untuk lebih dewasa, memahami, menerima dan bertanggung jawab. Kepedulian Hasni tumbuh dari ketiadaan keluarganya.

Aku membuka catatan pribadi saya tentang Hasni, dan di sana tidak ada satupun tertulis hal negatif. Hasni membantu temannya, Hasni yang selalu santun menjawab suruhan guru, Hasni yang walaupun dimarah tetap terlihat tenang, Hasni yang membereskan  tumpukan buku tanpa diminta, Hasni yang memanggil adek kepada kelas kecil. Hasni yang datang tepat waktu  ketika kuminta, atau Hasni dengan senyum  manisnya mengatakan “iya enci…”. Rupanya tanpa sadar, aku begitu menyukai anak ini. Suatu ketika, aku  kewalahan dengan kelas pararel, kemudian membawa Hasni ke kelas satu, dan memintanya mengajar anak-anak ini. Intruksiku  sederhana, “ Hasni ajar adek-adeknya ya, kamu boleh melakukan apa saja”, Hasni kemudian mengajak beberapa temannya dan disana dia mengajari membaca juga bernyayi. Ketika menengok kelas satu, ada antusiasme anak-anak kelas satu yang menunggu giliran untuk menyanyi. Aku tersenyum  kemudian, saat istrirahat beberapa anak kelas satu memanggil “ ibu guru Hasni, ibu guru Hasni, ayo kita belajar”.  Semenjak itu, Hasni sering ku minta untuk mendampingi anak kelas kecil ketika belajar di sore hari.

Hasni adalah anak yang cenderung pemalu dan tidak percaya diri dengan kemampuannya, tapi diluar pemahamannya, menurutku dia adalah anak yang punya bakat besar di hal-hal detail dan ketelatenan.  Dia sangat sabar dalam proses berkebun  kami di sekolah, mengamati proses demi proses kemudian mengerjakannya, dan hasilnya jauh lebih rapi dari apa yang ku contohkan. Saat sekolah kami mengikuti jambore ranting kecamatan, anak-anak satu regunya secara aklamasi memilih Hasni sebagai ketua kelompok. “Pilihlah ketua kelompok yang menurut kalian akan bertanggung jawab terhadap kelompok, dan bersedia membantu teman-temannya”.  Semua suara kemudian tertuju kepada Hasni. “ Hasni itu sangat pemalu, lambat, dia nanti tidak bisa apa-apa kalau jadi ketua regu, seharusnya pilih yang cepat, yang suaranya lantang” kata salah seorang guru kepadaku. Aku menyadari ketidakpercayaan diri Hasni, hanya saja aku memilih tidak menggubris pendapat ini dan memilih Hasni tetap berproses dengan dirinya.  Hasilnya tentu saja juga berproses, walaupun kadang Hasni takut-takut dalam memimpin regunya, hanya saja dia melakukannya dengan sangat baik selama empat hari kami berkemah, bahkan Hasni sempat menjadi pembawa bendera dan yang memimpin komando untuk rekannya dalam upacara pembukaan latihan. Interaksi terakhirku dengan Hasni adalah sebelum aku pulang cuti. Di kegiatan pesantren ramadhan desa yang rajin dia hadiri.  Hasni dan temannya Nadia menjuarai lomba cerdas cermat Ramadhan dan  ia juga menghafal banyak surah-surah pendek. Saat aku merekam suaranya untuk proyek paduan suara, aku tahu dia sempat tidak percaya diri dan malu kepadaku. Ika teman sepenempatanku kemudian membantuku merekamnya, Hasni adalah pembelajar yang baik dan menurutku dia melakukannya dengan sangat baik.

Harapanku terhadap Hasni sederhana, dia terus bisa sekolah dan mencapai mimpi-mimpinya. Walaupun banyak keterbatasan di dalam hidupnya. Semoga anakku ini mendapatkan kesempatan untuk terus berlajar.

Dan Hasnipun membuatku belajar dengan caranya….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: