Refleksi 7 Bulanku

 

Hari ini tepat tujuh bulan pengajar muda tiba di negeri indah ini, sebuah negeri bernama Banggai, dengan segala keindahan dan tantangannya. Ini bukan hanya soal tantangan alam yang lama-lama sudah tertaklukan, tetapi bagaimana sebuah cara kerja sosial bekerja dengan ritme yang bukan hanya harus diadaptasi tetapi kemudian berusaha mencari akar masalahnya. Tidak untuk menyelesaikan (karena kami memang bukan si problem solver), tetapi dengan cara bagaimana mendorong sebuah perubahahan yang versinya Indonesia Mengajar adalah mendorong “entitas perilaku”.Yah, entitas perilaku, kata-kata yang membuat kepalaku cenat-cenut ketika di pelatihan dulu, karena awalnya, ekspektasiku terhadap IM hanyalah mengajar di daerah terpencil, berbagi mimpi untuk anak-anakku, dan memiliki dunia kecil sederhana bersama mereka..

Menjadi pengajar Muda ternyata lebih dari itu…. akhirnya di tujuh bulan penempatanku ini, aku memahami bahwa dunia pendidikan itu memang rumit, rumit serumit-rumitnya hingga ibarat benang yang terpuntal, entah bagaimana menemukan ujungnya agar bisa ditarik  lurus kembali. IM memang benar, untuk pendidikan, kita memang tidak bisa bekerja sendiri…. PM bukanlah super hero seperti teman seangkatanku bilang, PM hanyalah seorang pengajar yang ingin mengabdi dan bergerak bersama-sama maju untuk pendidikan yang lebih baik.

Memang jauh lebih mudah mengerjakan semuanya sendiri, yang kemudian melekatkan super hero di label PM, tetapi Bagaimana mungkin PM terus-terusan mengajar kelas pararel dan menggantikan guru entah urusan apa, tiba-tiba keluar, atau ada konflik akhirnya tidak masuk sekolah. Bagaimana mungkin PM harus terus mengerjakan setumpuk tugas administrasi, atau memikirkan bagaimana seharusnya printer dan komputer berfungsi di sekolah. Bagaimana mungkin PM harus konsisten menjadi pengajar ektrakulikuler, memberikan pelajaran tambahan, mengisi belajar mengaji anak-anak atau mengurus administasi guru ke  ke dinas karena gaptek komputer atau bingung jalur birokrasi.  Atau merangkap sebagai penjaga sekolah dan mengurusi perpustakaan agar buku-buku itu terjamah oleh anak-anak.  Aku sekarang memahami makna entitas perilaku ini….bagaimana harusnya semua pihak kemudian bersama-sama menuju perubahan positif . Bukan terpusat pada PM dengan embel-embel sosok yang luar biasa….Apakah ini berat? Mungkin lebih tepatnya adalah tantangan…Itulah kenapa mungkin menjadi PM bukan hanya soal menjadi guru di desa, tetapi  terus belajar menjadi pemimpin, dan mengutip kata Pak Anies, pemimpin itu bukan menyelesaikan semua masalah, tetapi bagaimana mengajak semua orang menyelesaikan masalah itu…

Bekal yang diberikan selama pelatihan di Purwakarta mungkin adalah kondisi ideal yang diharapkan atas keberadaan Indonesia mengajar,  tentang bagaimana semua pihak akhirnya saling sinergi  terhadap pendidikan, membangun visi dan misi yang dilaksanakan semua pihak atau tentang masalah-masalah yang akhirnya diselesaikan bersama. Bagiku sekarang, makna entitas adalah  sebuah kekonsistenan…. Sebuah kekonsistenan yang dimulai dari diri PM sendiri. Menjadi role model yang sesuai dengan kapasistas dan kemampuan kita walau itu tampak amat sederhana. Ketika sebuah perilaku positif intensitasnya menjadi lebih baik dan terus menerus.  Walau hanya sekedar meminta ijin ketika meminjam buku dan ucapan terimakasih saat mengembalikan, guru yang mulai terlibat kegiatan siswa, soal membuang sampah di tempatnya, atau secara konsisten mengurangi perkataan bodoh, ponga, jelek dan sejenisnya kepada teman-temannya. Aku menyadari bahwa sebuah entitas dimulai dari hal-hal sederhana yang kemudian menjadi terbiasa.

Di tujuh bulanku ini……

Aku menyadari bahwa dunia anak memang begitu sederhana…ketika isi dunia  mereka adalah soal menghabiskan waktu menyenangkan dengan bermain. Sehingga perjuangan pertamaku di kelas bukan soal seberapa berkualiatas materi pelajaran yang kusampaikan, tetapi cara bagaimana mereka tertarik atas apa yang kusampaikan. Aku ingat ketika kuliah begitu terpesona dengan Lintang dan Arainya Laskar Pelangi, tentang bagaimana mereka memperjuangkan mimpi-mimpi mereka walaupun dengan keterbatasan yang menghimpit. Awalnya, di pelosok negeri, aku berharap menemukan sosok Arai dan Lintang baru yang sedari dini belajar dengan giat untuk mencapai cita-cita mereka…. Tapi kadang realita tidak sedramatis dalam cerita, walaupun katanya berbasis fakta…Arai dan lintang di desa penempatanku mungkin adalah sesuatu yang utopis, ketika aku melihat sebagian anakku memiliki kesadaran belajar yang rendah, jangankan bicara tentang cita-cita, definisinyapun kami masih meraba-raba. Di tujuh bulan penempatanku, aku menyadari bahwa bukan semangat berjuang mencapai cita-cita yang mereka butuhkan sekarang, tetapi bagaimana mereka mengenali apa yang ingin capai dimasa depan, dan sadar bahwa di luar dunia kecil mereka sekarang, banyak hal yang harus diperjuangkan.

Kadang aku merasa menjadi rumit sendiri….Bukankah jauh lebih mudah menyampaikan runtutan SKKD dengan jejalan materi yang sudah tersedia di buku paket, memberikan lembar kerja siswa untuk dikerjakan, dan memastikan kognisi mengalami pengingkatan dengan evaluasi yang terukur dengan jelas….Tetapi apakah itu yang mereka butuhkan? Aku terus bertanya, bagaimana pendidikan seharusnya berlaku untuk anak-anakku. Apakah angka di rapot cukup untuk membuktikan kualitas pengajaranku…Ah, di tujuh bulan penempatanku, aku memiliki jawaban yang berbeda…. Bagiku dengan kondisi anak-anakku sekarang, ada hal yang lebih penting dari kemampuan mengingat dan prestasi yang dinilai dari angka…tetapi nilai senyata-nyatanya nilai…Nilai-nilai yang menjadi bekal untuk hidup mereka kelak. Sebuah nilai yang kadang tercuri karena ujian nasional atau mulai teracuni karena efek iklan televisi.  Sebuah nilai universal yang semua orang sepakat bahwa penting untuk dimiliki.

Aku  mencerna, bahwa anak-anakku ini adalah unik dan luar biasa. Aku kemudian mendapatkan pemahaman jika aku berfokus dengan angka dan seberapa tinggi ujian matematika maka  hanya frustasi sendiri  dan beban yang kudapatkan.  Kebahagiaan lalu bagiku sungguh sederhana….ketika setiap sore mereka datang ke sekolah walau hanya untuk membuka selembar dua lembar kertas buku bacaan, ketika mereka bersemangat untuk latihan pramuka, atau  saat mereka meminta maaf tanpa disuruh ketika melakukan salah.  Ketika ada anak-anakku bersemangat berkebun dan membantuku menyiram bunga setiap hari, ketika ada anak kelas tinggi yang membantuku mengajar di kelas rendah, atau saat beberapa anakku memberikan dukungan dan semangat kepada teman-teman mereka yang akan ikut berlomba, percikan-percikan kecil dari polah tingkah anak-anakku…sungguh luar biasa.

Di refleksi 7 bulanku….

            Dulu aku berfikir keberadaan guru yang berkualitas sangatlah penting di kelas untuk membawa siswa-siswa mencapai cita-cita. Fikiran yang sama hingga saat ini, dengan pemahaman masalah yang harusnya bersama-sama di selesaikan.  Ketika ada guru honor yang dibayar kurang dari 200 ribu dengan jam kerja sama seperti PNS, ketika persoalan administrasi guru justru lebih membebani dari pada memikirkan kualitas ajar, saat urusan-urusan pribadi lebih menjadi prioritas dari pada hadir di kelas, kebingungan kurikulum membuat manfaatnya tidak tersampaikan, atau justru konflik yang membawa suasana ketidaknyamanan.  Pada akhirnya, seberapa baguspun sistem pendidikan kita, hanya akan menjadi hal yang retoris semata jika para pelaku tidak memenuhi standar sistem itu bukan?!. Di titik ini aku benar-benar menyakini, entah dengan cara bagaimana guru memang barisan terdepan menentukan nasib bangsa di masa datang. Guru ibarat pejuang yang senjatanya tak terlihat tetapi justru jauh lebih tajam dan punya daya bunuh yang tinggi.  Membunuh kebodohan, mempertajam kecerdasan, menanamkan nilai luhur atau menggelorakan cita-cita.

Tujuh bulanku yang telah lewat dan sisa tujuh bulan berikutnya…. aku adalah seorang guru untuk anak-anak,  seorang ibu dengan puluhan anak-anak yang terus dipedulikan. Aku terus bertanya, apa saja yang sudah kupelajari selama ini…akan setiap detik yang kuhabiskan, atas setiap makna yang berusaha kucerna, atas setiap peristiwa yang penuh dengan warna…aku kemudian benar-benar mengerti makna ini bukan pengorbanan, tetapi adalah sebuah kehormatan…adalah suatu kehormatan aku berada disini…mengenal  banyak sisi dunia yang menjadikanku lebih berproses….bukan hanya aku yang mengajar, tetapi aku yang sungguh belajar. Aku ingin mengenal setiap detail tentang mereka, bukan hanya soal obsesi kehausan ilmu psikologiku, tetapi bagaimana mereka bertumbuh atas setiap pembelajaran  yang kami jalani bersama….

Kemudian aku berterimakasih kepada Tuhan….

Anak-anakku yang begitu luar biasa, warga desaku dengan berjuta kebaikannya, tentang budaya dan cara berfikir sosialnya.. tentang sebuah kearifan lokal, atau nilai kedaerahan yang memperkaya keberagaman negara kita. Tuhan memberikan kesempatan kepadaku untuk belajar lebih banyak dari pada apa yang kuberi kepada mereka, syukur yang kemudian menyindirku untuk bisa memberikan yang terbaik atas kemampuanku, tidak asik dengan diri sendiri, dan lebih fokus terhadap apa saja yang harus dilakukan untuk mereka.

Dan Kemudian kami bersama….

Di tempatkan di negeri asing ini, menjadikan kami sekarang bagai sebuah keluarga baru yang masih meraba dan mencoba untuk mengenal. Dulu ada yang pernah bilang kepadaku, “jika kita bertemu dengan seseorang, itu adalah kesempatan, ketika mengenalnya itu adalah pilihan, dan ketika mencintai atau menjadikannya bagian dari hidup kita, itu adalah keputusan”. Adalah kesempatan luar biasa dari Tuhan kami  berkumpul di banggai untuk saling mengenal dan berbagi keluh kesah, dengan harapan saling menguatkan dan bersama-sama berjuang, mengingatkan ketika salah, menghargai ketia berbeda, menopang ketika lemah, dan menyemangati ketika bergerak. Aku kemudian terus  bertanya, “ apakah kita tim Banggai sudah mencapai pada fase itu”?. Mengutip kata Masyhur bahwa proses itu akan berjalan secara organis, dan aku ingin menambahkan selain cara organis kadang kala segala sesuatu harus diusahakan agar lebih cepat terjadi.  Kami memang berbeda dengan ciri khas dan keunikannya masing tetapi kenapa kami berada disini dan apa saja yang harus kami perjuangan harusnya menjadi pemersatu setiap langkah. Satu hal yang kupelajari tujuh bulan ini, bersama memang membutuhkan kesabaran. Kesabaran untuk mendengar, kesabaran untuk mencoba memahami, dan kesabaran untuk sama-sama saling berproses. Berjalan bersama memang membutuhkan kesabaran, tetapi akan indah pada akhirnya bukan..?!

Aku merasa beruntung kemudian, mengenal teman-teman satu timku, yang entah…dalam rupa yang juga belum benar-benar bisa ku definisikan tetapi mulai memberikan makna yang mendalam. Ketika satu persatu dengan caranya memberikan banyak pelajaran padaku yang secara personal memberikan model dan ritme perilaku yang luar biasa.  Yah, kami sudah tujuh bulan bersama..Pada titik ini, terus menjadi pertanyaan dalam diriku…sudahkah kami bergerak bersama? Atau pada akhirnya aku akan memilih menolkan saja segalanya.

Mereka mengajarkanku banyak hal, cara lili yang mengingatkan dengan hangat atas setiap moment yang kami lewati bersama, tentang Aulia yang apa adanya, tentang ika dengan kepedualiannya, Masyhur dengan logika runtutnya, atau mas Luqman yang mengajarkanku menertawakan banyak masalah….Lalu aku….dengan setumpuk pertanyaan yang kadang masih berjelajah liar di kepalaku…Kebahagianku di titik ini adalah….kami semua sama-sama saling berproses yang definisinya masyur, ibarat mata angin yang berbeda penjuru arah, bagaimana caranya sama-sama kelihatan… Walaupun pada akhirnya tinggal pembuktian apakah kemudian potensi yang kami miliki akhirnya benar-benar bisa bermanfaat untuk pendidikan di Banggai… Semoga.

Lalu aku hanya ingin berkata…” mari kita nikmati setiap detik yang sangat berarti” karena setiap fase yang lewat tidak akan terulang lagi sehingga tinggal bagaimana cara kita menghargai kebersamaan dengan dinamika dan tantangannya bukan?!!….

Well….

Aku takut….takut jika pada akhirnya, sampai waktunya tiba, di tujuh bulan berikutnya, aku tidak bisa pergi dan sulit untuk beranjak….Sama pada saat-saat tertentu dalam hidupku…Aku kemudian terlalu khawatir terlalu jatuh cinta dengan mereka, atau kemudian bukan mereka yang tidak siap kutinggalkan tetapi justru akulah yang sulit….

Hah….tujuh bulan sisa waktuku yang amat berharga…. kemudian aku terus berkata kepada diri sendiri….bahwa setiap detik itu sungguh amat berarti, maka lakukanlah yang terbaik di detik-detik itu…karena entah sampai DIA akan menitipkan detiknya kepadaku….

Lalu Syukurku…..

Sebuah jeda yang luar biasa, saat aku bisa melukiskan dengan kata…. Lalu aku berfikir, bagaimana caraku berterimakasih KepadaMu rabbku, atas keajaiban-keajaiban kecil yang setiap harinya terjadi padaku..

# 3 Juni 2013, saat separo perjalanan sudah tertunaikan…

Dan aku sungguh amat belajar. Dan aku bersyukur dengan sangat Tuhan memberikanku kesempatan ini….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: