BELAJAR PERCAYA

Akhir-akhir ini aku belajar sesuatu yang besar…Belajar Percaya…

Mungkin beberapa tahun yang lalu, kata percaya adalah sesuatu yang sulit kulakukan, entah dalam pekerjaan atau kehidupan pribadi. Aku menjadi menganalisa diriku sendiri, atas perkembangan personalku di penempatan.

Dulu ketika aku menjadi pemimpin sebuah kegiatan atau organisasi, aku adalah si perfeksionis yang memperhitungkan setiap detail, bahkan kadang terlihat sangat kaku, teknis dan terlalu direktif. Mungkin kadang, teman setimku agak gerah dengan caraku…Karena dibenakku, aku tak ingin ada celah yang terlewat untuk disiapkan. Kupikir-pikir dulu, aku adalah pemimpin yang agak kejam dan tak berperasaan…dan tak jarang, aku kemudian mengambil alih dan berinisiatif mengerjakan….

Semenjak bergabung di relawan…pola sempurnaku menjadi membumi dengan mencari celah mengkondisikan keadaan…tetapi tetap saja aku akan benar-benar percaya ketika sudah memastikan semuanya benar dan berjalan sesuai fikiranku…Obsesif kompulsifku sekali lagi akan kambuh, jika ada hal-hal yang diluar kendaliku…Tapi bersama relawan, aku berproses untuk terus belajar…. dan untuk dua tahun yang amat luar biasa bersama mereka, adalah sesuatu yang amat bermakna dan menjadikanku seperti sekarang.

Lalu di Penempatan…..

Aku benar-benar belajar untuk percaya….

Akhir semester ini bukan hari yang santai bagiku…. hari-hari yang sporadis dengan banyak list yang harus kulakukan…. Aku menyadari kemudian, seberapa baikpun aku melakukan manajement atas waktu yang aku miliki, aku masih tetap tidak bisa mengerjakan semuanya. Sedangkan aku mau semuanya.

Aku ingin tetap belajar sore bersama anak-anakku, aku ingin anak-anakku latihan pramuka dan berkebun, anak-anakku juga antusias untuk class meeting diakhir semester, sementara harus ada persiapan kemah pramuka yang memusingkanku, diamanahi untuk penyuluhan narkoba, dan tanggung jawab nilai rapot kelas 4, SKHU kelas 6 yang ingin mendaftar SMP dan ditutup dengan prososal OSK yang agak membingunganku, juga aku masih ingin melakukan kesenanganku yaitu menulis tentang anak-anak atau keseharianku…. dihari-hari yang seolah menumpuk ini…aku sadar sesadar-sadarnya, aku tidak bisa mengerjakan sendirian…dan aku harus belajar percaya kepada orang lain…

Dan aku harus memulai percaya…. karena aku tidak bisa mengurus semuanya bukan…..

Mengentikan perilaku terus bertanya dan menyerahkan sepenuhnya kepada orang-orang yang harusnya bertanggung jawab. Jika akhir-akhir ini aku dituntut menjadi pemimpin kembali, yah…mungkin ada benarnya. Aku adalah pemimpin bagi anak-anakku, kadang kala aku tidak menyukai diriku yang berubah agak galak ketika ada yang tidak sesuai dengan keinginanku…. tetapi belakangan aku berproses untuk belajar….membiarkan anak-anakku juga berproses untuk menjadi pemimpin bagi diri mereka sendiri. Aku membiarkan mereka membuat yel-yel sendiri,  mengelola perlengkapan mereka dan mengusakahan kelengkapan bagi tim mereka sendiri. Untuk jeli melihat siapa saja teman yang tidak lengkap peralatannya dalam berkemah dan mengarahkan mereka betanggung jawab atas kebutuhan mereka sendiri.

Aku belajar tidak hanya mendelegasikan tugas, tetapi sepenuhnya percaya atas apapun hasilnya. Aku menyadari toleransiku terhadap ketidaksempurnaan membuat segala hal terasa lebih mudah dinikmati. Jadi ingat kutipan dalam buku “ Bee”, yang mengatakan adalah sempurna jika hidup tidak sempurna… kata-kata yang amat bermakna bagiku sekarang. Karena pada prosesnya kami semua sama-sama belajar bukan….

Ketika sepenuhnya aku menjadi pengamat di pertandingan kelas, dimana Pak Lis-guru olahraga kami bekerja dengan sangat maksimal, bahkan menurutku cara kerjanya jauh melibatkan anak-anak dengan bentuk kesenangan dari pada yang biasa kulakukan, yah…aku kemudian belajar…bahwa percaya itu sungguh melegakan. Kuamati mereka mencari kayu pelindung dan membuat gawang untuk pertandingan, memaku papan untuk penyangga untuk tenis meja yang kakinya sudah patah, atau sekedar menjadi penonton untuk setiap pertandingan dengan dinamika canda, tawa, kesal dan semangat mereka. Di sela pengamatanku, aku memahami bahwa bekerja bersama-sama itu memang lebih baik.

Kadang kala ingin membelah diri, dan bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu….well, itu adalah hal termustahil kecuali aku punya ramuan ajaib dari serial hary potter, yang bermakna bahwa aku memang membutuhkan orang lain, dan sebenarnya adalah kesalahan besar ketika menjadikanku adalah fokus dari banyak kegiatan bukan?, yah…sekali lagi, aku bukan super hero…

Rasanya cukup tenang ketika apapun hasilnya, aku mempercayakan anakku baso mengurus kelengkapan tirai untuk pramuka, tidak mengutak-atik pa fud dalam membangun kemah pramuka kami yang super mewah, membiarkan saja masakan adalah urusan terbaik dari enci siti har dan enci bariah, atau masalah estetika adalah urusannya enci muawiyah…. atau serasa sangat lega ketika aku cukup lelah, ada pak lis yang akan saling membantu dalam urusan mengkondisikan anak-anak.

Belajar percaya itu walaupun awalnya sulit ternyata membuat ringan, aku kemudian belajar memilah hal-hal mana yang harus kulakukan, dan hal mana yang sepenuhnya percaya…

Terimakasih Untuk membuatku terus belajar….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: