Still more about Nothing, Edisi Wimar

Seandainya seperti ini…. jika kita melakukan pemilu di Indonesia, ada 4 calon presiden, dan hasilnya menunjukan setiap pasangan memperoleh suara 25 persen pas…. tidak ada koma dibelakang…pokonya sama pas…nah, gimana tu menentukan nasib bangsa… Kemudian tiba-tiba di datanglah seorang tukang sapu biasa umpamanya, dia terlambat ke tempat kotak suara…. satu suaranya menetukan siapakah yang akan menjadi presiden di negara kita…. Well, apa yang akan di lakukannya….

Dalam bukunya Wimar menceritakan perumpamaan dalam film di Amerika tentang pemilihan presiden disana…. dan sepertinya menarik jika pemikiran ini dibayangkan di negara kita. Perilaku apa ya, yang akan dimunculkan  si tukang sapu yang biasanya berpikir sederhana tiba-tiba akan menentukan masa depan negara. Apakah ia akan menggunakan sistem lotre, ia mendengerkan setiap  visi misi sang calon dulu, melihat kesamaan suku, daerah atau agamakah, cukup melihat usia dan kegantengan, atau melakukan sholat istikharah dulu ya…. Jika si tukang sapu itu saya atau kamu…so, what should we do?

Still more about nothing…. sepertinya judulnya, buku ringan yang menyegarkan yang membuat pembacanya kemudian menjadi berfikir nakal dan melakukan perumpamaan-perumpamaan konyol yang menggelikan namun membantu mencerdaskan… Salah satu buku bagus yang bertutur secara sederhana, tidak menggurui tapi kaya makna… sejajar dengan bee or not to bee (kisah lebah pencari madu). 

Bab yang paling aku suka adalah tentang “Ahmedabad berapa jauh dari sini?” yang intinya adalah kadang-kadang orang melupakan sesuatu yang dianggap tidak penting karena fokus di bidang lainnya. Jadi kata Wimar, tidaklah perlu dicemooh sebab nama tempat, arah mata angin, lokasi, dan penunjuk jalan sering luput dari pandangan orang lain. Seperti kadang orang tidak perlu tau Bogor itu letaknya disebelah utara atau selatannya Jakarta (aha… jadi merasa tidak terintimidasi karena sering buta arah atau tidak tau jalan). Well, bicara soal tersesat, pengalaman hari ini memberikan pelajaran, kadang-kadang kita itu harus tersesat kali ya… harus mencoba banyak jalan untuk menemukan rumah yang benar… (edisi frustasi nyari alamat orang), karena apa…. karena ternyata jalan yang kita lalui itu serasa sangat berkesan, serasa lebih lekat di dalam ingatan, dan menjadi pelajaran berharga untuk lewat atau tidak lewat yang sama…. Jadi, kadang-kadang tidak apa-apa kita salah jalan, asal terus mencari, terus bergerak dan mencari jalan yang benar…. Tulisan bab ini, secara pribadi juga menambah pemahaman bahwa kita tidak bisa menguasai semuanya… karena kemampuan sangat terbatas, yang harus dikuasai adalah apa yang kita perlukan tentu saja… dan mungkin agak kesini aku menambahkan mungkin fondasi filsafat dan agama adalah wajib, bukan hanya sekedar pilihan.

Menarik sekali celetukan soal Hero… dimasa lalu, yang dikatakan hero adalah mereka yang menjadi pemimpin perang dan memenangkannya… tapi sekarang lebih dari sekedar itu… dan mereka yang hero adalah tidak melulu hasil hasil tetapi proses indah yang membuat orang banyak belajar. Mengapa Pele yang lebih dikenal sebagai pahlawan sepak bola dibandingkan Maradona ataupun Ronaldo, bukan karena pencetak gol paling banyak atau menyelamatkan negaranya dalam laga piala dunia, jawabannya karena Pele mengajarkan pecinta bola permainan individual yang indah dan sportif, bukan menciptakan gol dengan segala cara. So, its not about winning, but how you pay the game. 

Bab  menarik lainnya adalah soal penjelajah dan pendongeng… Mungkin kita tidak akan pernah mendengar nama Marcopolo, seorang penjelajah dunia yang memili sense of wonder dan semangat mengenai dunia yang memuat banyak hal baru yang telah dialaminya jika ia bukan seorang pendongeng yang baik.. Ia tidak hanya menjelajah tetapi juga mendongengkannyaa dalam bentuk tulisan. Cerita-cerita Marcopolo kemudian menjadi motivasi penjelajah sesudahnya untuk menemukan tempat-tempat baru yang ajaib di belahan dunia lainya. Jadi ingat celetukan seorang teman… Pada pertengahan tahun 1960 an itu, amat banyak tokoh yang lebih hebat dari GIE dan pemikirannya mungkin jauh lebih unik dari GIE (saya katakan unik saya ya, karena saya hampir kurang sepakat dengan beberapa pikirannya..he), karena Gie menuliskannya… Ah, penulis itu luar biasa ya, hingga Freud bilang kalau keajaiban kata-kata bahkan bisa menimbulkan kecintaan atau bahkan permusuhan.

Jadi initinya… buku ini menarik, legit untuk dibaca berkali-kali untuk mengisi sela waktu….setiap bab menceritakan bagian yang berbeda dari sisi yang hidupnya, dari sesuatu yang ” nothing” menjadi lebih sekedar itu… ah, hal-hal yang sederhana kadang kala menjadi lebih berharga jika kita berusaha untuk memaknai kan…

 

Judul : Wimar Witoelar Still More About Noting

Penerbit : Bentang

Tahun: 2011

 

dan bisa menjadi buku saku menyenangkan diantara sela waktu..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: