Emak

Agak sayang tulisan ini cuman sekedar lembaran usang di tumpukan kertas….Buku ini mengingatkan bahwa…. utamanya untuk kaum wanita….. hiduplah selalu dengan ilmu, tidak hanya berkutak dalam belengu psikologis yang menjadikan perempuan dari sudut pandang korban 🙂 

 EMAK (DAOED JOESOEF)

 “Alangkah Bahagianya mempunyai emak. Dia yang membesarkan aku dengan keibuan yang lembut. Dia yang selalu memberikan aku pedoman di dalam perjalanan hidup. Dia yang setiap langkah, tahap dan jenjang membisikan padaku harapan. Dia yang terus menerus memberikan dukungan moral dalam usahaku mengolah budaya kreatif, baik yang  terpaut pada ilmu pengetahuan maupun menyangkut dengan seni. Dia tidak pernah mengecewakan apalagi menyakiti hatiku” Daoed Joesoef

 Kata-kata diatas merupakan kutipan dari epilog buku Emak yang menggambarkan kecintaan dan kekaguman daoed pada sang ibu.. Buku ini sangat lezat untuk dibaca, bahkan mungkin harusnya menjadi banyak referensi oleh kaum ibu yang ingin mendidik putra-putrinya, karena banyak nilai-nilai yang bisa menjadi panutan.  Emak digambarkan sebagai orang yang lembut dan memahami setiap kebutuhan anaknya. Disatu sisi emak juga bisa menjadi orang keras dan memperjuangkan prinsipnya ketika emak merasa apa yang dipegangnya adalah benar. Walaupun emak tidak menempuh pendidikan formal, tetapi emak adalah orang yang gemar belajar dan sangat menanamkan nilai pendidikan kepada putra-putrinya. 

Emak dan Hutan

               Sejak umur 5 tahun, Daoed, ayah dan emak sering pergi kehutan untuk mencari kayu bakar. Dalam buku ini, Daeod ingin mengatakan bahwa hutan adalah salah satu cara yang diajarkan orang tuanya untuk mencintai alam, melawan ketakutan, ataupun pelajaran-pelajaran hidup yang lebih mudah dipahami oleh anak kecil

             “ Keberanian adalah melakukan apa yang harus dilakukan walaupun sedang takut” tutur emak kepada daoed kecil yang sedang takut ketika melihat ular. Kemudian ketika mereka menemui jalan yang bercabang dan hampir tersesat, Emak kemudian menuturkan kepada Daeod “ Dalam hidup ini, ada kalanya kau akan sampai di jalan yang bercabang, maka janganlah kau ragu memilih cabang yang kelihatannya jarang dipilih orang, walaupun mungkin kita tersesat, tetapi bukan berarti kita akan hilang”. Emak, sejak dari kecil sudah mengajarkan putranya untuk mengambil setiap langkah dengan keyakinan walaupun itu berbeda dengan banyak orang.

                Falsafah menarik yang diajarkan pada bab ini adalah tentang buah kemiri. Emak menjelaskan kepada putranya bahwa kemiri yang dia makan sekarang bukan hasil tamanan kita atau orang-orang yang sebaya dengan emak tetapi orang lain sebelum mereka. Sehingga emak, setiap kelahiran anak-anaknya akan menebarkan buah kemiri sebagai tanda terimakasih dan bermanfaat untuk orang lain kelak. Emak mengajarkan bahwa menanam kemiri tidak perlu menjadi dewa atau orang pintar, kita hanya memerluakan niat,kemauan dan ingat kepada anak cucu kita serta sebuah cangkul dan sekop.  Binatang saja kata emak, dengan caranya sendiri ikut menjaga kelangsungan hidup pohon-pohn dihutan. Musang dengan kotorannya bisa menyebarluaskan tanaman enau, begitu juga dengan burung, kelewar bahkan angin dan hujan. Semuanya punya peran. Hutan adalah suatu karuania tuhan yang harus di syukuri  dan kewajiban kita untuk menjaga  dan memelihara demi anak cucu, sedangkan manusia adalah wakil tuhan di bumi.

                Dalam bab lain masih soal berkebun dan tanaman, Emak juga mengajarkan bahwa semua tanaman membutuhkan peremajaan, dan dimulai dari perbuatan. Emak sempat berpesan bahwa kehidupan yang kaya dengan pengalaman adalah menjalani lebih banyak awal dari pada akhir. Dan salah satu rangkaian awal ini adalah perbuatan mencipta. Mencipta pada dasarnya adalah perbuatan Tuhan, tetapi bukan urusannya semata-mata. Manusia tidak dilarang melakukan hal yang sama seperti pekerjaan seniman atau pujangga dan semua itu diawali dengan kesadaran. Taman atau kebun adalah ciptaan manusia, dan hal tersebut harus terlebih dahulu dipikirkan, dikehendaki supaya terwujud atau dalam pendek kata harus direncanakan. Dalam upaya kita menyempurnakan alam kita dituntun oleh suatu gambaran surgawi. Apakah hasil usaha ini nanti berupa sebuah taman bunga firdausi atau hanya sekedar kebun sayur ia selalu didasarkan atas harapan akan suatu masa depan yang berjaya. Harapan akan masa depan inilah yang menjiwai semua kegiatan pertanaman.

Emak dan Pendidikan

                Iqra (bacalah) adalah nilai yang dari kecil selalu ditanamkan emak kepada anak-anaknya. Emak menjelaskan dalam suatu perjalanan mengantarkan putranya bahwa ia harus berlaku seperti batang air, walaupun ia tetap terus mengalir mencapai tujuannya semakin lama semakin menjauhi sumber asalnya, namun ia tidak pernah memutuskan diri barang sedetik pada sumbernya, ia tetap setiap padanya.. Sebagai manusia sumber kita adalah semua kebaikan, kebajikan dan ajaran yang selama ini telah membesarkan dan menyelamatkan kita yang berasal dari kesimpulan terpilih dari pengalaman, yang diperas dari adat istiadat, yang diperoleh dari orang bijak, dan yang didapat dari agama.  Daoed menuliskan bahwa ia sangat mengingat kata-kata emaknya ini, dia kemudian berandai andai kata sang ibu adalah orang sekolahan mungkin ia akan berkata bahwa “sumber kita itu adalah sistem nilai yang kita hayati”.

                Nilai  Iqra, tidak hanya dipahami emak semabai makna secara bahasa saja tetapi sebagai nilai dan falsafah hidup. Emak menanamkan bahwa salah satu jalan ampuh, salah satu sumber yang tak pernah kering dalam kekayaan pikiran adalah buku. Sedangkan cara menggali sumber itu adalah membaca, dan emak rasa bukan hal kebetulah jika Allah menyuruh kita membaca.

                Ilmu itu dapat memahami potensi-potensi yang ada di alam dan menemukan kaitan-kaitan gejala-gejalanya. Ilmu membantu manusia membaca tanda-tanda kandungan dari semua ciptaan Tuhan yang ada dibumi, tanda berkhasiat, beracun, bermanfaat, ataupun mudharat bagi kehidupan makluk. Emak, selalu mengingatkan akan pentingnya ilmu kepada Daoed, ketika sedang tidak bekerja di ladang biasanya emak sering meminta putranya memberikan laporan tentang apa saja yang dilakukan di sekolahnya. Setiap sekali emak selalu mengatakan “ jangan bertutur terlalu cepat, nanti terucapkan hal-hal yang belum kau pikirkan, kau boleh ucapkan semua tapi lakukanlah dengan teratur dan bahasa yang jelas” Cara yang dilakukan emak ini pada akhirnya mendorong Daoed untuk berpikir teratur agar mampu mengatakan sesuatu dengan beraturan. Daoed Joesoef kemudian mengatakan “ilmu pengetahuan adalah berpikir terarur”,  dan sang ibu dari kecil telah mengajarkannya.

Emak dan Kemurnian Agama

              Daoed menjelaskan bahwa didikan terbesar soal agama didapat di dalam rumah oleh oran tuanya.  Perjalanan tentang Islam membawa Daoed kepada pemahaman bahwa Al-Quran dan As-Sunah itu langgeng, perjalanan Islam berupa pemahaman umatnya di berbagai tempatnya dari masa kemasa bersifat historis, kultural dan karenanya, relatif.  Sehingga tidaklah benar mencari-cari legitimasi teologis untuk memaksakan tafsir pribadi. Islam tidak tunggal karena islam adalah sekaligus teks dan konteks, keyakinan dan hukum, individu dan masyarakat, negara dan agama.

                Yang menarik pada bab ini, disajikan dialog antara emak, ayah dan mas singgih (seorang yang peduli dengan kemerdekaan). Mereka berdialog tentang bagaimana agama dan kehidupan bernegara. Ayah Daoed adalah termasuk orang yang tidak sepakat dengan berdirinya negara Islam yang akan menjurus kepada monopoli tafsir Al-Qur’an. Ada resiko pada akhirnya, tafsir yang dipaksakan kepada masyarakat dengan dalih keputusan suara terbanyak, memaknai teks-teks agama secara harfiah, tidak menjawab masalah-masalah aktual yang kita hadapi sekarang, tetapi berkukuh begitu saja pada umpama-umpama bunyi teks Al-Quran. Penafsiran Al-Qur’an seharusnya jangan dijadikan urusan partai politik tetapi urusan pribadi, ditanggapi sebagai setiap hak orang yang mempercayainya bagai pemandu bagi privasinya.

                Berdasarkan Al Qur’an ayat 256, tidak ada paksaan dalam beragama hal ini berarti tidak ada paksaan  membuat seseorang menjadi muslim dan untuk memaksa pemeluk agama Islam bertingkah laku menurut petunjuk  yang digariskan oleh suatu kekuasaan atau penguasa. Emak kemudian menutup dialog mereka dengan perkataan “ semua agama, tanpa kecuali mengajarkan serba baik kepada kehidupan kita, bahkan tidak hanya sebatas pada hubungan antara sesama makluk manusia tetapi meliputi pula perlakuan khalifah Tuhan ini terhadap makluk dan binatang dan sikapnya terhadap keseluruhan. Maka alih-alih saling berebut menonjol-nonjolkan simbol agama masing-masig, saling menyombongkan keagamaan masing-masing, dan memamerkan bentuk keimanan masing-masing. Para penganut agama lebih baik membuat agamanya seperti garam saja, menyatu dan lembut dalam makanan, dapat dirasakan kebaikan manfaatnya, serta ketepatan pemerataannya tanpa kelihatan sedikitpun kehadirannya. Dan bukankah setiap agama sehausnya menjadi rahmat bagi kita semua.

 Emak dan Cahaya

                Emak selalu mempunyai kebiasaan tetap menyalakan lampu ketika ada orang yang belum tidur atau masih ada yang belum pulang ke rumah.  Menurut Emak, cahaya yang memancar dari dalam rumah di malam hari merupakan tanda” selamat datang” bagi yang sedang berada di luar rumah. Kebiasaan ini akhirnya juga menurun terhadap Daoed terhadap putrinya. Daoed mengatakan bahwa “ emak dahulu kelihatan tenteram ketika mematikan lampu luar setelah yakin bahwa semua anggota keluarga yang tercinta  sudah ada di dalam rumah, dan aku pun juga merasa demikian”

                Emak bagaikan cahaya buat Daoed, dalam perjalan hidupnya… Daoed mengibaratkan dirinya seperti musafir yang berkelana mencari ilmu pengetahuan dengan mengendarai waktu pasti ditunggu-tunggu kepulangannya di masa depan mengingat cahaya harapan terus dinyalakan oleh ibu pertiwi. Tetap ditunggu karena masa depan itu memerlukan suatu pencerahan, betapun kecilnya agar tidak tertatih-tatih dalam kegelapan. Sedangkan pencerahan hanya mungkin bila ada perubahan-perubahan dalam nilai-nilai. Dan ilmu pengetahuan mengubah nilai-nilai kita menjadi dua cara. Pertama, ilmu pengetahuan menginjeksikan ide-ide baru yang sudah kita kenal selama ini dan kedua ilmu mendudukannya dengan tekanan-tekanan perubahan teknis bagitu rupa hingga terjadi pembaharuan dalam keseluruhan basis budaya kita. Dan emak, sebagai bagian cahaya dari Doed Joesoef…. Kebiasaan-kebiasaan yang diajarkannya selalu menjadi cahaya ditengah-tengah kegelapan.

Nb : Ini adalah salah satu buku terbaik yang pernah dibaca. dan masih banyak bab yang menawarkan nilai menarik untuk dimaknai….Buku yang dijual dengan murah di tumpukan buku diskon…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: