HIDUP SENDIRI (Bakat Terpendam Putra)

 

 PutraPak Mukhlis tiba-tiba menunjukan sebuah cerita karangan Putra kepada guru-guru di Kantor, sehari sebelumnya, beliau meminta anak-anak kelas lima untuk membuat dan bercerita di depan kelas tentang apa saja. Karangan Putra membuat enci Muawiyah dan Siti Har menitikan air matanya ketika membaca, dan menurut Pak Muklhis, Putrapun membacanya dengan menangis yang kemudian diikuti tangisan haru teman-temannya. Judul ceritanya adalah “ Hidup sendiri”

Hidup Sendiri

Pada suatu hari lahirlah seorang anak yang bernama Putra. Ia tinggal di satu kota dengan keluarganya di kota itu…Ia hidup gembira. Setelah dia berumur delapan tahun, ia sangat sedih karena ibunya meninggal dunia.

Sampai saat ini, ia tidak mengetahui bentuk tubuh ibunya dan wajah ibunya. Setelah itu ia diasuh oleh kakek dan neneknya. Neneknya hanyalah seorang pedagang kue. Pada suatu hari, ia dibawa oleh neneknya ke sebuah desa yaitu Moilong.

Neneknya merawat ia seperti anaknya sediri dan kakeknya menyekolahkan dia.  Walaupun ia hanya hidup dengan kakek dan nenek ia tetap senang. Pada suatu hari ia mendengar kabar bahwa neneknya meninggal dunia, ia sangat sedih dan kesarang ia kesepian. Dia adalah aku…

Sekarang aku sudah dewasa, aku tinggal bersama tanteku. Aku menganggap tanteku sebagai orang tuaku sendiri dan tanteku juga menganggapku sebagai anak sendiri. Selesai.  

***

Asgar Saputra yang biasa biasaya dipanggil Putra memang anak yatim piatu, sebenarnya sang bapak kabarnya masih hidup, tetapi entah sekarang ada dimana. Sehingga orang-orang lebih memilih mengatakan putra sebagai yatim dan piatu, yang bermakna dia sudah tidak memiliki ayah dan ibu lagi.  Kenapa guru di sekolahku sampai menangis membaca ceritaanya, karena memang itulah kenyataannya.

Putra adalah salah satu anak paling cerdas yang kutemui di sekolah, bukan soal jago matematika atau selalu mendapatkan peringkat satu di kelas, tetapi Putra mengingatkan aku akan kecerdasan lain yang dimiliki anak selain logikal atau menghapal runtutan rumus-rumus. Menilik kata Howard Gardner, seorang psikolog terkemuka dari Harvard University, bahwa sebenarnya manusia memiliki beberapa jenis kecerdasan. Gadner sebagai kecerdasan majemuk atau multiple intelligence. Kecerdasan majemuk sendiri terdiri dari kecerdasan linguistik, spasial, mateatik/logic, kinestetis, musik, interpersonal, intrapersonal dan naturalis.  Umumnya setiap orang memiliki kecerdasan-kecerdasan ini dalam hidupnya, hanya saja ada satu atau beberapa saja yang menonjol.

Begitullah dengan Putra yang sekarang duduk di kelas lima. Ia pernah mengejutkanku dengan gambar karikaturnya yang sangat bagus untuk anak desa seumurannya yang tidak pernah dilatih menggambar. Imajinasinya dalam bercerita membuatku bahkan iri sebagai seorang guru.  Aku kemudian memberikan sebuah  tontonan tentang gambar karikatur, dan setelah itu gambar semakin luar biasa… Putra dalam catatanku hanya perlu terus mengasah bakatnya dalam hal satu ini…berharap suatu saat dia bisa bertemu dengan orang yang bisa mengarahkan bakatnya secara serius.

Suatu ketika Putra pernah menangis ketika kuminta mengerjakan tugas matematika saat kami belajar bersama. Aku sungguh kaget dengan respon tangisannya. Apalagi Putra adalah kategori  anak yang dianggap nakal oleh beberapa guru. Ternyata Putra lemah di Matematika, dan ini bukan pelajaran kesenangannya. Aku menjadi mengingat tentang kecerdasan majemuk kembali. Kita sering kali menganggap bahwa orang yang memiliki kecerdasan matematis sebagai orang yang pintar. Namun, survei membuktikan bahwa mereka yang dulunya terkenal nakal dan bandel di kelas, justru pada saat bekerja bisa sukses dan menjadi pemimpin atas orang-orang yang dikenal rajin dan pandai di kelas. Mengapa bisa demikian? Karena Mereka yang nakal dan bandel itu bukanlah bodoh, tetapi mereka memang tidak menonjol dalam kecerdasan matematis dan mungkin menonjol dalam jenis kecerdasan yang lain.

Aku menemukan bakat terpenda lain soal Putra. Kemampuannya bercerita luar biasa, tidak hanya dalam gambar tetapi juga dalam kata. Suatu ketika, aku mengumumkan akan mengikutsertakan karya anak dengan tema sayangilah bumiku, dan karangan putra tentang berlalu lintas sangat menarik untukku. Mungkin dari cara penulisan yang melibatkan tanda baca Putra harus belajar, tapi untuk ide dan cara bertutur, Putra jauh diatas teman-temannya. Begitu juga dengan pelajaran bahasa Inggris, bukan soal banyaknya jumlah suku kata yang dia hafal, tetapi kesungguhan Putra berusaha membuat dan menggabungkan beragam kata menjadi sebuah kalimat walaupun dengan grammer  yang harus diperbaiki. Tentu tidak berhenti sampai disana…Saat aku merekam salah satu anakku yang lain bernyanyi lagu tradisional,  tiba-tiba pada bagian tertentu terdengar suara lain yang kemudian kuketahui adalah suara Putra, suaranya bagus sekali. Aku kemudian pernah menemui Putra sedang melafalkan ayat Alqur’an…Awalnya aku mengira ini adalah suara dari kaset rekaman….dan setelah aku mendekat suara itu… Yup itu adalah Putra…. Aku kemudian mengambil kesimpulan sementara bahwa fungsi otak kanan Putra yang ranahnya adalah kemampuan intuitif, daya cipta, imajinasi, empati, memadukan, beragam ekpresi tubuh seperti menari, menyanyi, melukis, dan kegiatan kreatif lainnya berkembang sangat baik.

Belum selesai dengan Putra, ia adalah orang yang dengan sangat baik mengajarkanku bermain Kasti. Penjelasannya runtut dan disertai gerakan yang memudahkanku paham akan permainan ini. Menurut Pak Lis Guru olah raga kami, Putra juga sangat jago di bidang olah raga, ia biasanya menjadi pemenang lari dan lomba bulu tanggkis, dan Ia adalah yang terbaik untuk bermain engram di sekolah.  Dari Putra aku belajar lebih dalam tentang satu hal, bahwa setiap anak itu unik, tidak ada yang bodoh, yang ada kita hanya belum menemukan apa sebenarnya bakat dan kecerdasannya. Menginatkanku untuk menjadi guru yang menerima siswa apa adanya, dan berusaha memacu perkembangan terbaik mereka. Semoga…

Setiap anak itu luar biasa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: