Mengenal Indonesia (Uwe’Mea)

 

Di pelosok manapun di negeri ini, merah putih tetap berkibar

Di pelosok manapun di negeri ini, merah putih tetap berkibar

Hari ini saya berkesempatan mengunjungi sebuah desa bernama Uwe-Mea, desa yang kata orang-orang amat terpencil dan setengah mati kalau mau kesana. Terletak di Kecamatan Toili Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah. Dari perjalanan ke Uwe’Mea saya mendapatkan gambaran kecil lagi, tentang negeri tercinta, tentang sebuah paradoks sebuah negeri bernama Indonesia…

Sungai yang mengelilingi desa, suasana tidak sedang banjir

Sungai yang mengelilingi desa, suasana tidak sedang banjir

Bapak ini yang setiap hari bekerja untuk menyebrangkan penduduk

Bapak ini yang setiap hari bekerja untuk menyebrangkan penduduk

Dari desaku mengajar di Kecamatan Moilong, saya harus menempuh sekitar 30 KM perjalanan untuk sampai kesana… Desannya di kelilingi kuala (sungai) yang cukup luas, kendaraan bermotor biasanya menggunakan rakit untuk menyeberang menuju desa. Desa ini memang di keliling sungai yang cukup besar dengan beberapa bagian berarus deras. Jika musim hujan tiba dan sungai meluap, desa ini seolah terisolir sama sekali dari dunia luar (walaupun menurut hemat saya, tanpa hujanpun desa ini serasa terasing dari mana-mana). Desa ini berada di antara hutan yang amat rimbun dan belum dijamah dan perkebunan sawit yang maha luas… Awal menginjak desa ini, saya sampai berfikir bagaimana ada sebuah komunitas masyarakat tinggal disini.

 

Sawit muda, Ribuan hektar perkebunan sawit mengiringi perjalanan

Sawit muda, Ribuan hektar perkebunan sawit mengiringi perjalanan

Atas ajakan seorang guru Uwe’Mea yang tinggal di desa Moilong, sayapun pergi ke desa ini, menempuh perjalanan lebih dari satu jam dengan pemandangan yang mempesona. Perjalanan kami melewati pemukinan penduduk yang ramai hingga kemudian berangsur-rangsur samakin tidak ada rumah lagi. Letaknya di Kilo 28, menjelang kilo 14 perkebunan sawit yang amat luas menyambut kami. Jujur baru kali ini saya melihat sawit dari berumur sangat muda yang diletakan di media tanam hingga sawit menjulang tinggi yang panennya hampir setiap minggu, mungkin usianya sudah diatas lima atau sepuluh tahun. Negeriku memang indah…. tetapi hanya milik sebagian orang, mungkin inilah yang saya lihat diperkebunan sawit ini…Perkbunan ini mutlak dimiliki oleh satu orang figur di kota Banggai, saya tidak bisa membayangkan dengan bentangan ratusan mungkin ribuan hektar tanah yang ditanam kelapa sawit… keuntungan yang dihasilkan tidak akan habis dimakan tujuh turunan

Rumah di desa rata-rata dari kayu

Rumah di desa rata-rata dari kayu

Pak Namir teman perjalanan saya menceritakan banyak hal dalam proses perjalanan kami, bagaimana sawit ditanam kemudian diolah di sebuah perusahaan yang hasilnya kemudian dikirim ke Jawa atau luar negeri dengan kapal besar. Mungkin ada ratusan atau bahkan ribu orang yang bekerja diperkebunan Sawit ini… Dibayar harian Rp. 35.000 tanpa uang makan tambahan dengan jam kerja pagi hingga sore haru. Menurutku itu melelahkan dan tidak imbang, namun ini jauh lebih baik dibandingkan gaji guru honor di sekolahku yang hanya dibayar 150 hingga 250 ribu perbulannya. Well, padahal ini adalah urusan pendidikan anak bangsa.

Di desa ini juga ada pendidikan untuk anak usia dini

Di desa ini juga ada pendidikan untuk anak usia dini

Ternyata di sana ada sebuah sekolah…. setelah jauh sepanjang mata memandang hanya ada sawit dan perkebunan coklat, setelah turun dan menanjak ke jalan yang terdiri batu-batu dan kiri-kanan hutan…hingga akhirnya menemui sungai yang amat besar, dan menyeberang dengan rakit. Oh tuhan…sepi sekali desa ini pikirku, tidak ada apa-apa. Lebih sepi dari desa Masyhur yang terletak di Trans Batui 5. Rumah yang sederhana, dan komunitas masyarakat yang tidak terlalu banyak. Tidak jauh kami berkendara, ada sebuah sekolah kecil disana. Bangunannya sudah permanen dengan semen tetapi ruang kelasnya masih sedikit. Pak Namir mengajakku untuk melihat kondisi sekolah. Ada tiga ruang yang dipakai untuk kelas, disekat dengan triplek perdua kelas. Jadi ada dua rombongan belajar di satu kelas. Terbayang sulitnya menjadi guru di sini, berbagi situasi kelas dengan level yang berbeda. Pak Namir kemudian memperkenalkan dengan beberapa guru di sana. Kesemuanya adalah guru honorer yang juga bukan asli desa ini.

Dengan sekat kayu sederhana

Dengan sekat kayu sederhana

Aku kemudian menuju ruang kantor, sebenarnya adalah bantuan dua ruang kelas dari pemerintah, namun karena sekolah ini tidak punya kantor dan rumah dinas. Jadilah ruangan ini disulap mejadi 1/3 bagian untuk keperluan administrasi, dan 3/4 bagiannya adalah tempat tinggal guru-guru yang mengajar di sini. Jika mereka terlalu lelah untukturun akan tidur di ruangan ini. Hanya ada kasur yang di jejer dan tak ada apa-apa lagi. Miris aku membayangkannya, ada guru yang akhirnya tidur di sekolah karena tidak adanya fasilitas untuk mereka.

ruangan kantor yang disulap jadi tempat tinggal guru

Ruangan kantor yang disulap jadi tempat tinggal guru

Pak Namir mengajakku ke SMP Uwe Mea, letaknya persis di sebelah SD. Hanya ada 14 orang murid di sana. Kepala sekolahnya menyambutku dengan hangat. Ia mengenal Indonesia Mengajar, dan sangat berharap ada Pengajar Muda ada di sekolah mereka. “seharusnya enci ada di desa ini, liat ini begitu terpencil, jarang ada yang mau ke sini” Ucap beliau kepadaku. Yang kukagumi dari beliau adalah pilihannyalah untuk menjadi kepala sekolah di desa ini, saat ada tawaran pindah ke kota, beliau menolak. Murid SMP hanya berjumlah 14 orang dari kelas satu sampa kelas tiga. Kebayangkan dengan murid segitu, berapa dana bos yang diterima setiap tahunnya, sementara oprasional untuk sekolah juga hampir sama besarnya dengan sekolah yang berjumlah murid banyak. Sang bapak tidak tinggal di Uwemea, tiga hari atau satu minggu sekali belilau akan turun ke kecamatan dan selama di desa tinggal bersama kepala desa.

Dengan motor Pak Namir, saya menginjakan kaki di Uwe Mea

Dengan motor Pak Namir, saya menginjakan kaki di Uwe Mea

untuk anak-anak negeri, mari terus berbagi

Untuk anak-anak negeri, mari terus berbagi

Bagaimana perasaanku mengunjungi desa ini?!. Ah, jujur aku tidak membayangkan bisa tinggal di desa seterpencil ini, yang serasa amat jauh dari peradapan. Apa yang kurasakan ketika melihat anak-anak ini, yang bahkan ke ibukota kecamatanpun sangat jarang. Perasaanku cukup tercabik-cabik karenanya, di luar desa kecil mereka, ada perkebunan sawit maha luas dengan keuntungan tak terkira bagi pemilik tunggal lahan, hanya saja mereka masih jauh dari layak mendapatkan pendidikan. Apakah mereka bahagia?, yah… kebahagiaan memang tidak bisa diukur dari standar minimal seorang aku yang terbiasa bersentuhan dengan kenyamanan, kebahagiaan bisa jadi sederhana untuk mereka, sesederhana aku menjadi lebih bersyukur atas banyak anugrah di dalam hidupku.

 

Uwe Mea adalah bagian dari Indonesiaku, bagian yang sama-sama harus kita pedulikan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: