Catatan Tentang Ujian Nasional

 

Photo1906

10 Anakku sesaat sebelum ujian

Hari ini adalah hari yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku. Sepuluh anak-anakku yang duduk di kelas enam akan menghadapi ujian nasional. Sekian bulan aku dan beberapa guru mengadakan les pelajaran untuk mereka, berusaha mengejar yang tertinggal, atau misi pribadi berceloteh kejujuran terhadap mereka.

Terasa aneh aku berceloteh cita-cita kepada mereka yang sekecil itu, tapi aku tak peduli. Aku terus bercerita tentang banyak hal yang mungkin sangat abstrak di logika mereka. Kadang, saat yang datang les cuman beberapa orang, aku berkeliling melihat pesisir pantai untuk mencari mereka. Aku tahu Baso atau Eril pasti sedang bermain di sana. Atau Baso sedang mencari ikan untuk dijual kembali. Aku menyadari, kadang pentingnya pendidikan di logika anak-anak sulit dipahami dengan konsep yang sederhana. Meskipun demikian, aku hanya berharap anak-anakku menjadi anak yang jujur dan bertanggung jawab. Harapan seorang enci kepada anak-anaknya.

Beberapa hari sebelumnya kepala sekolahku mengatakan meminta bantuanku untuk menjawabkan soal anak-anak diujian sekolah nanti. “ Enci, ini buat menolong anak-anak, kasian mereka kalau tidak lanjut sekolah kalau tidak lulus”. Dari obrolanku dengan kepala sekolahku atau guru-guru, mereka tidaklah peduli dengan nama baik atau capaian prestasi siswa, tetapi perbedaan perspektif “membantu” yang ada di antara kami.

“ bapak boleh suruh saya apa saja, yang penting tidak bejawab soal untuk anak-anak”, tegasku kepada kepala sekolah

“ kenapa enci, kenapa tidak babantu” jawab kepala sekolahku dengan nada bingung

Aku hampir kehabisan kata-kata dengan pertanyaan kepala sekolah. Rasanya ingin meluapkan segala logika yang ada difikiranku. Tapi aku tak mampu untuk berujar dan hanya bisa bilang “ tidak apa-apa bapak, saya tidak mau menjawabkan soal untuk anak-anak”. Aku bahkan tidak mampu untuk menjelaskan bagaimana proses enam tahun mereka belajar, bagaimana seharusnya anak-anak dididik dengan kejujuran, atau paling tidak jangan melibatkan anak-anak dalam proses kecurangan yang dalam frame mereka adalah membantu.

Aku kemudian berlalu, pergi ke perpustakaan, dan hampir tak kuasa menahan air mataku. Puncak kesedihanku sebagai guru adalah hari ini, hari di mana anak-anak diajari oleh orang yang lebih dewasa untuk tidak jujur.

“ kalian tadi dikasih jawaban?”tanyaku kepada anak-anak kelas enam. Setelah ujian selesai, aku kemudan mengumpulkan anak-anak di kelas dan berdiskusi dengan mereka.

“iya enci”, jawab Fadila kepadaku. Aku tak sanggup lagi bertanya apakah mereka mengikuti jawaban itu. Aku takut pertanyaanku terkesan menyalahkan mereka.

Dengan menarik nafas panjang, aku kemudian tersenyum kepada mereka dan mulai berbicara kepada anak-anak. “selamat ya, hari ini kalian sudah menjalani ujian, itu berarti sebentar lagi kalian akan lulus”. Ceritaku kemudian berlanjut tentang seorang pemimpin perusahaan yang sukses yang aku temui ketika pelatihan pengajar muda dulu, tentang bagaimana perjuangan beliau mencapai posisi paling puncak. “ kalian tau, bapak itu bilang apa sama Enci dulu, rahasia beliau dari dulu adalah beliau selalu menjadi orang yang jujur, bahkan beliau tidak pernah mau mencontek dalam ulangan”. Aku ingin mereka tau bahwa prestasi bukanlah segalanya di dunia ini, tetapi bagaimana mereka menjadi orang baik, itu yang lebih penting.

“ Enci ingin suatu saat kalian bisa bilang seperti bapak itu, kalau saya menjadi orang sukses sekarang karena tidak pernah berbuat curang dan selalu menjadi orang baik”.

Anak-anakku hanya diam memandangku aku bahkan tidak bisa menerka apa yang ada difikiran mereka.

“Kalian bisa memilih, ikut jawaban yang dipapan tulis atau yakin dengan kemampuan kalian sendiri, karena kalian sekian bulan ini sudah belajar”

“Enci, jawaban yang dikasih di papan tulis itu salah tapi aku percaya jawabanku” kata Fadila

“ Percayalah pada diri kalian sendiri, Enci tidak menuntut kalian harus mendapatkan nilai yang tinggi. Buat apa kalian berprestasi tetapi didapatkan dengan cara yang tidak baik.. Enci tau, guru-guru bermaksud membantu kalian, tetapi kalian bisa memilih untuk yakin dengan kemampuan kalian”

Aku menatap anak-anakku, hari ini hatiku sedih sejadi-jadinya. Aku mengukuti diriku sendiri karena hanya kuasa melakukan usaha yang sangat minimal untuk mereka. Beginikah menyakitkannya melihat anak-anak dicederai jiwanya untuk suatu kepentingan bermana “Ujian Nasional”. Ujian yang katanya setiap tahun semakin baik, yang mencerminkan kulatitas pendidikan yang semakin meningkat tetapi pada prosesnya justru merusak nilai-nilai luhur dari pendidikan itu sendiri.

Dulu profesorku yang seorang pakar pengukuran pernah bilang, tidak ada yang salah dengan ujian Nasional, karena dari sudut pandang psikometri itu bisa mengukur sejauh mana kemampuan kognisi anak terhadap capaian pengetahuan yang sudah didapatnya. Tidak ada yang salah dengan UN, dengan indikator-indikator yang dirumuskan sedemikian rupa, uji validitas dan reliabilitas berulang kali untuk mencapai standar, atau penskoran yang diindikasikan akan menggambarkan kualitas nilai seorang siswa. Tidak ada yang salah dengan pengukuran, dimana ketika suatu bangsa ingin mengetahui kualitas pendidikan. Profesorku membuatku yakin kala itu…memang dari sudut pandang pengukuran tidak ada yang salah dengan ujian Nasional.

Standar keilmuan yang ku pelajaripun berujar tidak ada yang salah dari Ujian Nasional. Toh sudah banyak ahli yang merumuskan bagaimana soal tersebut tersusun sedemikian rupa sehingga minim terjadinya error soal , kecenderungan pada pola jawaban tertentu, atau cara soal yang dibuat berpaket-paket untuk menghindari kebocoran atau ketidakjujuran selama ini. Well, dari sudut pandang pengukuran memang tidak ada yang salah dengan Ujian Nasional…. Tetapi bagaimana dengan proses?

Apakah dari segi proses sudah mengukur kemampuan anak yang sebenarnya? Apakah nilai-nilai yang tertera adalah apa adanya? Mungkin akan banyak kasus yang menjawabnya yang kemudian disanggah dengan cara penyiapan sistem soal hingga 20 paket sehingga gak mencontek, pengamanan yang katanya super ketat, sumpah pegawas ataupun banyak hal lainnya yang sifatnya preventif.

Selalu, akan ada sudut pandang pro dan kontra tentang ujian nasional, itu pikirku dulu…. aku yang dulu hanya sebagai pengamat pendidikan, sekarang menjadi tersakiti karena menjadi proses dari bagiannya… sementara banyak hal yang seharusnya tidak seperti itu. Menjadi guru di pesisir dengan kategori sekolah desa yang jauh dari fasilitas kemewahan pendidikan, atau guru yang selesai dengan kebutuhan pokok hidupnya sedangkan satu sisi menghadapi ironisme pendidikan dengan standar pendidikan yang harus dipenuhi. Standar kelulusan dari sebuah kata “ ujian nasional”. Layaklah kemudian jika pendidikan kemudian terstandarisasi dengan instan yang terukur dari hasil kelulusan….

Aku menjadi sangat marah dengan kebijakan…. atau aku lebih marah dengan proses pelaksanaan itu sendiri….? Ketika kemudian runtutan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar siswa yang terwujudkan dengan angka lebih penting dari pada nlai-nilai hidup yang harus dimiliki anak…lalu apakah ini adalah esensi dari pendidikan?

Ketika pendidikan kemudian semakin jauh dari kejujuran, atau proses bertahun-tahun pada akhirnya menjadi tidak bernilai…haruskah aku menjadi bangga untuk menjadi bagian dari proses ini….aku bertanya…untuk seorang guru SD sepertiku…apa yang bisa kulakukan….???

Anak-anakku kemudian menyalamiku sebelum pulang, seperti biasa mereka tertawa dan becanda satu sama lain. Mereka tak peduli urusan kebijakan, hanya saja proses hari ini akan menjadi rekam abadi di memori masa kecil mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: