Merindukan Masa

Siang ini tiba-tiba sangat merindukan aktivitas dengan tema mengamati dan menikmati….:)

Well, tiba-tiba saja merindukan duduk di Alun-alun kota Malang sambil membawa buku bacaan, note, atau buku gambar lalu mengamati orang-orang di sekitar  yang sedang lewat. Tiba-tiba saja merindukan hawa jalanan yang dengan suasananya menjadi guru tanpa berkata-kata. Moment dimana aku banyak menemukan banyak hal tentang diriku. Tiba-tiba amat merindukan masa itu..ketika anak-anak mendekatiku, dan aku bersama relawan lain duduk beralaskan tiker sederhana dan kemudian mulai belajar.. Belajar sembarang ajar, mengaji, membaca, berhitung  atau bercerita…. Anak-anak yang dari kecil sudah bercengrama dengan jalan ini mengajarkanku hal paling sederhana tetapi begitu sulit dilakukan…. yaitu Syukur..

Merindukan makan tahu telor atau soto yang diramu sate di perempatan jalan itu, yang harus ditempuh dengan menyeberang jalan raya yang ramai sekali,  kadang  harus rebutan atau berdiri antri untuk mendapatkan tempat duduk. Makanan ala jalanan yang luar biasa enak…. Apalagi jika dimakan dengan dialog bersama teman-teman dulu….Kemudian dilanjutkan menghabiskan magrib di masjid tua yang amat bersih, duduk lama setelah sholat, menikmati hawa Malang yang sejuk, dan riuh orang-orang yang menyelesaikan aktivitas hariannya. Masa yang berlalu dan menjadi catatan tersendiri di dalam hidupku….

Tiba-tiba amat merindukan masa itu…masa dimana dialog panjang tentang hidup kita, tentang sahabat, jodoh, agama, keluarga atau hikmah dari sebuah perjalanan. Soal mimpi-mimpi yang terlukis atau entah sudah terkikis. Tentang uji coba makanan di banyak tempat, tentang makanan yang berkali kali, lagi, dan lagi yang terus kumakan, tentang kebun indah di belakang kampus yang segar, tentang matahari di dusun Bodag yang luar  biasa indahnya, atau obrolan-obrolan sederhana yang sadar atau tidak saling mengajarkan…. Merindukan Perbicangan panjang di Pizza Hut sebelum kita tahu bagaimana takdir kita sesungguhnya, obrolan panjang di Pantai, tidur di kamar penganten sebelum akad, atau sekali lagi..ingin bermain biang lala dan teriak sepuasnya sambil melihat lampu….atau, cuman sekedar duduk diam di mobil kemudian berbicara banyak hal. Sederhana…tetapi saling mengingatkan….

Tiba-tiba ingin berkontemplasi lebih panjang tentang masa itu…masa-masa dengan banyak pertanyaan “ kenapa” yang dengan runtutan logika, ingin segera dan segera terjawab. Tiba-tiba ingin memutar beberapa tahun kebelakang, tentang definisi dan makna sebuah keluarga dan bagaimana kita sehuarusnya. Di titik ini, kemudian aku berujar kepada diri sendiri bahwa waktu itu tidak ada jeda, dia terus berputar pada porosnya detik tiap detik tanpa berhenti….

Tiba-tiba merindukan masa itu, saat gerak langkah bersama adalah keikhlasan, saat kemanusiaan adalah simbol dan berbagi adalah kebahagian. Masa dimana aku begitu dahsyatnya belajar tentang banyak hal. Tentang kesederhanaan, ketulusan dan tentu saja persahabatan yang membuat lebih dekat dengan Rabbku..Yang kemudian menjadi begitu dalamnya tertancap di dalam hati…tidak hanya soal untuk umat, tetapi hal-hal sporadis yang sudah kita lakukan bersama. Teringat tentang khitanan masal, kemah juara, merapi, atau candaan ceria di setiap rabu sore bersama ibu-ibu itu..Mengingat perjalanan panjang ke Lombok,  melelahkannya sumbing dan langgerang, atau tidur diparkiran motor di tengah malam setelah perjalanan panjang ke soroloyo… Ini lebih dari semboyan bang Roma tentang masa muda yang berapi-api…tetapi masa yang penuh makna…. Aku merindukan obrolan panjang tentang relawan, tentang sebuah kaderisasi atau bagaimana kita harus berdiri di titik tengah antara kepentingan korporasi. Membahas sebuah tema sambil makan duren, angkringan atau kadang kala Pizza mahal ala Itali.

Merindukan masa menyenangkan itu…. hidup sederhana di rumah pelangi, kandang ayam yang ternyata didiami tiga wanita sok super sibuk, yang kala itu berusaha saling mengerti dan sekarang menjalani hidup dengan caranya. Satu sedang melangkah ke hidup baru, dan lainnya sedang mendefinisikan bagaimana hidup. Dari rumah sederhana menuju sebuah mimpi bersama tentang dunia pelangi…ah, sebentar lagi menginjak tahun keduanya, walaupun secara fisik tidak bersama…tetapi cita-cita itu tetap terjaga walaupun sudah berpencar ke penjuru dunia….Kebersamaan yang mengajarkanku tentang mimpi dan usaha mencapainya.

Merindukan masa itu, masa dimana kemudian aku menemukan komunitas baru lagi..setelah membumikan perasaan untuk beranjak pergi…untuk melangkah dan menghadapi realita. Saat dimana aku bertemu anak-anak sekolah bawang, si kecil Nazwa, gina, rudy, atau orang-orang muda yang suka berbagi….diantara kepenatan membahas dinamika perilaku orang, atau tuntutan tentang beberapa peran…pertemuan dengan mereka memahamkan satu hal kepadaku…bahwa, dimanapun….aku akan mencari orang-orang yang suka berbagi.

Dan mungkin, suatu saat akupun akan merindukan masa ini….

Masa gelisah karena hari senin anak-anakku akan ujian, risau akan niai yang entah bisa kupertahankan atau tidak, menanti waktu untuk pergi ke sekolah sore dan belajar berkebun…atau menanti senja di mesjid dengan dongeng sederhana tentang kebaikan.

Menjadi guru desa dengan banyak dinamika dan tantangannya….dengan nano-nano rasa setiap harinya, silih berganti seakan tanpa kompromi dan lebih sporadis dari banyak perjalanan yang dulu telah terlewati.  .

Aku akan mengenang masa ini, saat aku saking marahnya tidak bisa mengontrol suaraku, tanpa sadar mataku kadang bergelinang karena miris, atau disatu masa aku akan sangat terharu dengan banyak kebaikan dan betapa luar biasanya anakku. Sapaan mesra  mereka setiap harinya “ enci…enci..enci…” membuat banyak rasa itu terbungkus keoptimisan.

Mungkin masa ini tidak akan pernah terganti…

Ketika satu persatu aku bisa mengenali mereka…melihat ekpresi marah, senang, cemberut dan kesal mereka…. memahami bagaimana mereka tumbuh dan mengenali apa yang seharusnya mereka butuhkan…dimana doa-doa dan harapanku semakin terpanjat kepada mereka….Saat mereka menemaniku ke mesjid,  berdongeng gaya anak-anak kepadaku…Saat kami bersama-sama mencangkul tanah yang keras, belajar simpul di pramuka, atau berjalan bersama menyusuri pantai dan beceknya sawah. Saat aku begitu frustasi mengajarkan membaca, atau kehabisan akal memahamkan matematika tetapi aku bisa dikalahkan telak di bidang olah raga…

Aku tidak akan pernah melupakan rasa itu…rasa saat anak-anakku mencoba berkompetisi, kebahagiaan yang terpancar saat mereka masuk ke babak berikutnya, dan ekpresi riang mereka bercerita saat untuk pertama kalinya masuk ke restoran cepat saji di kota. Masa mereka mentertawakan dan mengajariku berenang lalu melempar pelepah pisang yang mengambang, saat  mereka merayuku untuk diajak karya wisata, atau tarik menarik tanganku untuk mengajar di kelas mereka. Bernyanyi, berdongeng, bermain kasti, atau hanya sekedar berlari bersama….Aku punya lebih dari 70 anak untuk terus kupedulikan… dan masa ini…pasti akan benar-benar kurindukan suatu saat nanti.

Aku menikmati masa ini….

Menjadi guru desa yang sederhana, dengan banyak kebaikan di dalamnya….makanan murah yang berlimpah ruah, semangat gotong royong, dan guru-guru yang secara personal sangat baik kepadaku. Begini rasanya menjadi bagian dari komunitas kecil yang saling mengenal dan menyapa setiap hari, menghadiri banyak pesta ala desa, ikut pengajian ala ibu-ibu, atau menjadi tukang angkat-angkat di acara desa…

Aku adalah guru desa dimana aku menjadi bagian dari sebuah keluarga.. keluarga kecil dengan dinamikanya. Dengan ayah ibu piara, dan dua saudara angkatku…menjadi bagian dari padanya adalah salah satu kebahagiaan besar untukku.

Aku akan menghargai masa ini….

Masa dimana kami pengajar muda banyak bertemu tokoh masyarakat, berkenalan dalam lingkar koorporasi,  atau merasakan berurusan dengan ribetnya birokrasi.  Menarik nafas dengan sistem pendidikan, atau agak frustasi dengan sebuah komunitas. Aku dan teman-teman sepenempatanku suatu saat akan sangat menghargai masa ini…masa dimana kami luar biasa belajar untuk bekal dimasa depan nanti.

Masa dimana aku mengenal teman-teman sepenempatanku yang setiap interaksinya membuatku terus belajar… membuatku lebih mengenal beragam tipe manusia,  dan belajar dari sudut pandang berbeda…. kami yang akhirnya saling mempedulikan dengan cara masing-masing.

Lalu kemudian aku berkata…

Semua yang ada diriku sekarang adalah titipan yang suatu saat akan diambil kembali oleh yang punya…tidak hanya diambil, tetapi akan dimintai pertanggung jawaban.  Setiap masa yang terlewat mengingatkanku bahwa setiap masa sekarang dan yang nanti aku lalui harus kuusahkan dengan yang terbaik. Sehingga suatu saat, ketika aku ditanya olehNya….aku mampu mempertanggungjawabkannya.

Seperti diriku, bisa jadi semua orang punya masa masing-masing, yang pada akhirnya bukan soal seberapa hebat pengalaman yang sudah kita lewati, tetapi bagaimana kita bisa mengambil hikmah dan tetap belajar dari setiap prosesnya.

Yuk nikmati setiap detik yang amat berarti, dan apapun yang terjadi “ Alhamdulillah”

Tetap belajar ya….

Hidup ini ya…apapun, Alhamdulillah

Yuks, menikmati setiap detik yang sangat berarti

Well, ini dampak gundah gulana karena Ujian Nasional dengan sistem dan prosesnya yang membuatku agak sesak nafas….:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: