Belajar dari Serah Terima Jabatan

 

Beberapa hari yang lalu aku mewakili kepala sekolah untuk hadir di serah terima jabatan  kepala sekolah. Kecamatan aku ada sekitar 5 sekolah yang kepemimpinannya berganti. Dengan enggan aku meninggalkan sekolah yang sama dengan tidak mengajar di kelas.  Sesampainya di sekolah SD Slametharjo 2, oleh KUPT aku ditodong menjadi MC, dengan dadakan dan tanpa persiapan. Hanya dibekali dengan searik kertas sususan acara.  Well, katanya kalau jadi pengajar muda harus siap sedia dan gak kelihatan bego kalau disuruh, mungkin ini maksudnya. Setelah enam bulan di penempatan, ini adalah acara resmi pertama aku menjadi pembawa acara.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa menjadi pembawa acara, hanya menyampaikan dan mengelola runtututan acara dengan baik agak selesai. Yang penting tidak melamun, dan salah urutan sajakan.. Bisa gawat kalau aku melamun tiba-tiba  sambutannya sudah selesai dan aku ditatap orang-orang, atau bisa aneh jika urutan pertama yang aku baca adalah doa tanda selesainya acarakah….

Oleh karena aku duduk paling depan bersama jajaran undangan, makanya totaly aku mendengarkan sepenuhnya apa yang dikatakan setiap orang yang tampil ke depan…. dan hikmahnya, aku belajar sesuatu….:)

Jabatan itu adalah sebuah titipan..

Bagaimana rasanya, menjadi pejabat sementara kepala sekolah selama beberapa tahun, lalu ketika nama kepala sekolah, bukan nama beliau yang keluar…dan beliau turun menjadi guru bantu… Aku juga tidak bisa mendefinisikan perasaan kepala sekolah lama ini yang baru kali ini kubertemu. Hanya saja beberapa ucapan beliau menandakan kelegaan karena akhirnya bukan Pejabat sementara yang memimpin sekolah tetapi ada nama yang benar-benar bisa dijadikan pemimpin. “ saya sudah berusaha melakukan yang terbaik, tetapi  aku masih di sekolah ini, dan saya terbuka sekali jika kepala sekolah yang baru ingin meminta saran ataupun bertanya untuk kebaikan sekolah ini”.

Jujur aku tidak bisa menganalisa apa-apa dari runtutan ucapan sang mantan kepala sekolah. Tetapi beberapa moment selama mengelola acara, aku menjadi diingatkan lagi akan makna sebuah titipan.

Bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah titipan, dan titpan suatu saat akan diambil kembali dari kita. Termasuk jabatan bukan…yang kadang menjadi persoalannya adalah bagaimana kita mempertangungjawabkan titipan itu…apakah dengan sebaik-baiknya atau justru lalai…..

Tidak hanya jabatan…setiap hembusan nafas yang dialamatkan kepada manusia adalah titipan untuk kemudian dipertanggung jawabkan dihadapanNya.

Puncaknya adalah Keiklhasan….

Bicara soal jabatan lagi….beberapa bulan yang lalu, kami PM pernah mengingap di salah seorang kenalan, yang merasa di kecewakan oleh pejabat pemerintah karena tidak ditepati janjinya untuk diangkat menjadi pimpinan suatu instansi. Kekecewaan yang amat dalam menurutku…. hingga setiap ruai kalimat yang keluar berujung pada ketidakterimaan yang berusaha dibungkus dengan hikmah.

Lalu aku akan mencatatanya sebagai penginggat

Sebagai pengingat bagiku untuk tidak jauh-jauh dariNya…. karena membuatku sangat kosong dan gersang, pengingatku ujung-ujungnya untuk siapa aku melakukan ini…sehingga ketika banyak hal yang diambil dari ku, atau ketika banyak masa tidak sesuai harapanku..semuanya menjadi lebih mudah…

Menegurku dengan cara sederhana tentang ikhlas itu lagi…. tentang banyak titipan dipundakku yang harus kujaga baik-baik, kuperlakukan dengan sepenuh hati dan berbuat terbaik untuk suatu saat nanti bisa kupertanggungjawabkan…

Ah Rabb…. semoga hingga nafas terakhir….aku bisa mempertanggung jawabkannya.

Belajar yang baik ya yan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: