Catatan Pribadi tentang Olimpiade…

 

“ Melihat mereka berlomba…dengan kostum terbaru dan sangat rapi…itu adalah kebahagiaan sederhana hari ini”

Aku ingat sebuah diskusi tentang Olimpiade Sains Kuark di grup PM, tentang pro dan kontra pelaksanaan OSK yang umumnya difasilitasi oleh PM di daerah penempatan. Mungkin kontra karena waktu PM yang banyak tersedot disana dan terkesan PM adalah duta Kuark tanpa timbal balik yang sesuai. Sedangkan yang pro lebih pada semangat memberikan kompetisi kepada anak terutama yang di desa atau pelosok untuk merasakan hawanya lomba tak peduli walaupun awal-awal PM harus bekerja keras untuk ini. Well, aku tidak ingin ikut dalam kontroversi ini, karena ternyata OSK punya makna dan cerita buatku, anak-anak, orang tua, desa, bahkan kecamatanku…

Semangat Guru dan Kepala Sekolah

Pak Jamal yang mendukung semangat anak-anak

Pak Jamal yang mendukung semangat anak-anak

Jarak antara desa dan kabupaten sekitar tiga jam dengan mobil, yang dibingungkan kepala sekolahku adalah bukan soal biaya pendaftaran lomba, tetapi bagaimana membawa anak-anakku ke kota karena biaya ke kota lebih mahal dari biaya pendaftaran olimpiade. “ Kita tak ada doit enci…tak usah banyak-banyak”. Enci Muawiyah kemudian berkata “ kalau kita pinjam otto, kasih penuh saja itu otto sama anak, tambah lagi…jangan cuma empat”. Kondisi ini sangat kumaklumi, karena kami sepenuhnya menggantungkan diri dari dana bos, sedangkan jumlah murid tidak terlalu banyak dan sekolah harus membiayai empat guru honor.

Well, Tuhan maha baik memang,kebingungan soal mobil terjawab beberapa hari kemudian, “ enci…kata pak baso, Dia yang akan antar….tak usah dipikir biayanya…gratiss…”.Ucap pak Jamal kepala sekolahku. Alhamdulillah, selalu ada jalan untuk kebaikan.

Menginapnya di rumah saya saja dekat dengan tampat lomba” ucap enci Bariah, “ Nanti kita orang masak saja dari sini, biar sampai sana langsung masak”, tambah Enci Muawiyah. “ Jadi nanti yang antar Enci Muawiyah, Enci Ida, sama saya buat bajaga anak-anak, Enci Bariah dan Mamaknya Via biar yang bamasak” Kata pak Jamal kepala Sekolahku.

Semangat guru-guru di sekolahku membuatku bisa sepenuhnya bekerja sebagai panitia olimpiade di kabupaten tanpa harus memikirkan bagaimana cara anakku pergi ke kota dan bagaimana mereka disana, karena guru-guru telah menyiapkan dan merencanakan dengan baik.

Ketika tiga anakku lolos ke semifinal….

“Kita punya pe murid tidak kalah sama yang lain, pokoknya kalau masalah otak, kita bisa..!!” Ucap enci Muawiyah….

rajin-rajin kalian belajar…biar pintar, jangan ke sekolah makan sama bermain saja, biar bisa ke Jakarta…, ini liat Mansya, via, sama fadila, lantaran rajin belajar bisa mereka lolos bersaing seluruh Indonesia” dengan variasi kata yang berbeda, kepala sekolahku selalu mengulang hal yang sama ketika menjadi pembina upacara sebelum semi final lomba. “ rajin-rajin nak ya kamu belajar” ujar kepala sekolah sambil mengusap kepala Via di perpustakaan suatu sore, membuataku tersenyum dan tersentuh…..(sumpah…ini moment sentimental banget untukku).

“Nanti kalau di Luwuk, anak-anak ajak makan KFC saja, kasian dorang belum pernah, biar merasakan juga, jadi pulangnya kita tidak usah bamasak lagi”Ucap Enci Muawiyah. “bendahara nanti kasih uang buat mereka, satu orang lima puluh ribu, biar ada yang dilihat bisa balanja” Suara Pak Jamal. “Biar kita orang desa, tapi penampilan juga harus bagus, biar tidak malu dorang sama orang Luwuk” Celetuk encci Muawiyah lagi….Setiap pembicaraan yang membuatku tersenyum atas antusiasme mereka dengan lomba ini.

“ jadi enci….sebelum berangkat, saya sudah kasih minum yang dibacakan doa-doa, biar terbuka fikirannya, yang penting sudah berusaha, siapa tahu bisa injak Jakarta Enci…” Pak Jamal dengan semangat bercerita kepadaku seusai Lomba, beliau kemudian menambahkan “saya sudah bilang kepada KUPT, mudah-mudahan kecamatan Moilong ada yang lolos bapak, terkhusus dari SD Inpres Moilong”. Saya dan Enci Muawiyah kemudian tertawa bersama sambil mengaminkan.

Orang tua yang mendukung….

“Benar enci, anak saya akan ikut berlomba di Luwuk” Ucap Mama Via yang langsung mendatangi rumahku suatu sore. Di mata ibu ini, aku melihat kebanggaan anaknya bisa mewakili sekolah untuk berlomba. “ Via semangat sekali enci, dia masih sakit, tapi so mau sekolah”.

“Mamaku enci, sudah belikan kaus kaki baru, Nanti sabantar mau belikan baju diatas” Ucap putra di Sekolah.

Mamaku suruh aku minum telur ayam setiap pagi, trus di kasih makan ceker ayam dibuat sup enci…katanya biar sehat nanti berlomba di Luwuk” Fadila bercerita dengan semangat.

Saya bilang sama Mansya, buka soalnya pelan-pelan, jangan lupa berdoa…tidak usah terburu-buru, kalau misalnya tidak bisa, baca doa, lalu tebak saja jawabannya.” Celetuk ayah Mansya saat acara desa.

Enci….Salma ini gampang sakit, tapi saya sudah bawakan vitaminnya, nanti bapaknya menyusul ke luwuk, saya titip anak saya ya…dia ini rajin sekali belajarnya, baca terus “ Ucap ibu Salma ketika aku berkunjung ke rumahnya.

Pendidikan menurutku adalah soal gabungan dari semesta… ketika seorang anak belajar ke sekolah untuk mendapatkan ilmu, proses pembelajarn bukan hanya soal kesiapan peserta didik, tetapi juga dukungan dari lingkungannya. Bagian yang mendampingi mereka belajar soal awal, rangka manusia, atau apapun itu tentang sains adalah bagian guru, orang tua ini…. cara mereka mempersiapkan detail-detail kecil untuk anak mereka membuatku sadar bahwa kita bisa sama-sama bergerak.

Anak-anakku yang Luar biasa.

DSC01774

Enci dan murid-muridnya (Via, Salma, Icha, Fadila, Mansya, dan Alia-Kurang Putra)

Ketika aku belum mengumumkan siapa yang akan kuajak berlomba, anak-anak di sekolah silih berganti mendatangiku dan bertaka “ enci…siapa yang akan dibawa”, “ enci…katanya yang pintar ya…”, “ enci, benar kata kepala sekolah, kalau menang bisa ke Jakarta”.

Andai….aku bisa membawa lebih dari 7 anak untuk berlomba….aku pasti akan melakukannya…..Kenapa sekolahku menjadi begitu miskin begini..”nak…sejujurnya, aku ingin membawa kalian semua dan merasakan bagaimana rasanya berlomba”. Aku ingat senyum Fauzan yang akhirnya begitu kecewa karena tidak terpilih. “ Fauzan ingin ikut olimpiade?”, tanyaku kepada Fauzan setelah dongeng soal Jupiter di perjalanan pulang dari mesjid. “ Iya enci, aku mau…tapi pasti aku tidak dipilih”. Susahnya pilihan adalah ketika kita ingin semuanya, tetapi mau bagaimana lagi… “ semoga tahun depan nak…entah bagaimana… lebih banyak lagi yang bisa ikut”.

Icha, Putra, Mansya, Fadila, Salma, Via, dan Aliana… Nano-nano rasanya mendampingi mereka belajar. Aku merasa amat bodoh soal IPA dan matematika, dan aku adalah guru mereka. “ shittt… harus mulai dari mana yanti..,”, aku mencoba mengutuki diri sendiri ketika itu. Melihat usaha teman-teman sepenempatanku untuk mengajarkan anak mereka. Si juara olimpiade dengan tekniknya, atau semangat Aul dengan rangkumannya.. Yang bisa kulakukan adalah pergi ke toko braga, membeli komik sebanyak-banyaknya dan menyodorkan kepada ke tujuh anak-anakku. Mengajak mereka ke perpustakaan, menunjukan betapa menyenangkannya buku sains (ha…gurunya juga sedang berusaha), mengajarkan peta konsep dan meminta mereka menjadi penjelajah… “ enci… kenapa hewan harus mimikri?”, dengan sok pintar aku akan menjawab… “ coba Mansya, kamu pasti menemukan di buku itu”…

Aku menjadi mengenali lebih detail satu persatu tentang mereka. Si Alia pemberontak yang suka mengekplorasi lingkungan. “ saya so baca enci…saya bawa itu komik, saya baca itu di rumput-rumput…” ah, seperti Alice dengan sapi dan rumput luas sebagai pengganti white rabbitnya wonderland (ha…kebanyakan nonton kartun). Aku tau, Alia berusaha dengan caranya, belajar dengan nalarnya. Seandainya aku lebih mahir dalam IPA, seandainya tugasku di sekolah hanya mendampingi 7 orang ini… Aku membayangkan metode untuk Alia adalah mengajaknya ke pantai, bermain dayung atau sambil berlari…. menemukan sesuatu macam peneliti, dan mengajaknya menganalisa. Alia si pencari yang amat suka dengan tantangan.

Aku tidak perlu khawatir dengan Mansya, Icha, dan Fadila. Mereka adalah anak rajin yang akan senang belajar sendiri dan membaca tanpa disuruh. “ ha…kenapa soal olimpiade begitu susah….sembah hormat bagi mereka yang berprestasi”. Kalau melirik levelnya kognitifnya Bloom, sudah sangat jelas ini lebih tinggi dari level hafalan atau membedakan… hampir-hampir analisa bahkan evaluasi… 1) apakah usia anak SD setara dengan level kognitif tingkat Evaluasi? 2. Jika iya, apakah sistem pendidikan ala desa seperti kami bisa memadai. Atau 3) jika ada guru macam PM sehebat teman-teman yang ilmu IPA di Banggai ini, metode apa yang harus digunakan… Nah, jika PMnya macam Moilong ini… Untungnya mereka adalah pembaca yang luar biasa. Mansya bahkan sampai hafal urutan abcnya jawaban… Anak super jenius…dia bisa menceritakan kembali malah… untuk tiga anak ini… Aku berserah dengan kemandirian mereka tentu saja.

Putra… kadang suka mutung, dan tidak suka dipaksa… sukanya gambar dan main bola… berbakat di analisa, tetapi harus dipancing dengan sesuatu yang dia suka… apa yang harus kulakukan coba….menemin dia main bola sambil cerita bentuk-bentuk gaya… Tapi aku tau putra juga berusaha dengan luar biasanya. Mansya teman setianya, sering kali aku melihat mereka membaca bersama, bermain tebak-tebakan soal, dan dulu-duluan mencari jawaban. Peer mungkin sangat cocok untuk Putra, dan kompetisi adalah konsep bermain macam bola…tetap dalam tim.

Si kecil Via…ah, sayang sekali aku sama anak ini. Yang senyumnya selalu menghangatkanku (halaahhh). Via rumahnya paling jauh dari sekolah. Mungkin butuh waktu 30 menit untuknya berjalan kaki, dan Via selalu datang di sore hari. Untuk membaca, dan kutinggalkan mengajari anak yang lain. “ ini apa enci?”, kadang Via bertanya padaku..well, karena masih level 1, bisa lah ya aku jawab-jawab dan menjelaskan pakai perumpamaan… menyukai mata bulatnya seolah berputar dan berimajinasi. Lalu dia tersenyum, dan bilang…” iya…so paham enci”

Jadi intinya…apakah aku mendampingi dengan serius mereka dalam belajar…tentu saja tidak… anak-anakkulah yang sepenuhnya berusaha untuk bisa ikut maksimal berlomba… Proses-proses kecil yang mereka lakukan…Aku tidak peduli soal juara….tetapi bagaimana mereka menghargai setiap kesempatan dan usaha…itu jauh lebih penting

Pengumuman Lomba

Suatu pagi, saat aku sudah mengetahui nama anak-anak yang sudah lolos, kukumpulkan mereka di depan perpustakaan. Bahagia rasanya ketika anak-anak dengan semangat menggerubungiku..

“ enci…hari ini akan mengumumkan siapa yang lolos ke babak semifinal, yang belum lolos bukan berarti tidak pintar…tapi nilainya kurang sedikit dari 600” kataku kepada mereka, yang disambut riuh anak-anak..” siapa enci, ayo enci, cepat bilang” anak-anak yang saling bersahutan…..Lalu kusebutkan tiga nama yaitu “ Mansya, Via, dan Fadilla”. Anak-anak yang lain memberi tepuk tangan, menepuk pundak mereka, dan memberi selamat. “ hebat Mansya, belajar lagi Via, Asik Fadila”, dan Variasi kata bahagia lainnya. Kuperhatikan mereka berlalu dari pandanganku…dan selamanya, aku tidak ingin melupakan moment gembiranya anak-anakku mengetahui mereka bisa lolos ke babak semifinal olimpiade.

Bagiku yang berstatus Guru desa yang katanya dari Jakarta

Suatu ketika ada yang berceletuk kepadaku bahwa “ ini gara-gara enci dari Jakarta,makanya anaknya bisa lolos begitu” ditulisan ini kukatakan bahwa ini bukan soal ada dan tidak adanya aku, pun sumbangsihku sebagai bagian dari PM adalah memfasilitasi lomba ini diadakan di Banggai. Sisanya adalah kerja mereka. Anak-anak yang sering datang ke perpustakaan, orang tua yang memberikan dukungan terbaiknya, dan guru-guru yang dengan caranya memberikan motivasi kepada anak untuk terus belajar. Ketika kemudian mereka pada akhirnya bisa melakukan yang terbaik…kukaan sekali lagi “ ini adalah kerja mereka”

Ketika aku begitu kesal dan lelah sehabis dari kota karena mengurus OSK…. semangat anak-anakku belajar dan bertanya, tatapan mereka yang optimis… itu adalah energi. Tatapan berbinar orang tua atau semangat guru-guru di sekolah semacam suntikan semangat yang terus menerus.

Hah….Aku menjadi tak terlalu peduli dengan kontroversi OSK, bagaimana melelahkannya proses kami bekerja di kelompok, atau huru-haranya koordinasi osk dengan panitia lokal… ada bayaran paling berharga dan konsep saling menguntungkan… anak-anakku mendapatkan kesempatan dan guru, kepala sekolah, dan orang tua percaya bahwa anak-anak mereka mampu….

OSK yang bercerita.

(27 April 2013)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: