Teman Kecilku Sindi

Sindi Safira…..Anak kelas satu yang super pendiam dan kalem….Anak yang menjadi catatan tersendiri dalam jurnalku karena perilaku dan kedekatannya secara emosional padaku. Tidak seperti anak-anak kelas satu yang umumnya selalu mencari perhatian dan berteriak “enci…enci…enci….” Sindi jauh dari kategori ini.  Setiap kali aku masuk kelas satu, Sindi biasanya hanya duduk diam, memperhatikan, menulis apa yang diminta dan mendengarkan apa yang kubicarakan.

Sindi adalah anak kelas satu pertama yang datang membawa bukuya kepadaku, di hari kedua saat tiba di desa. Anak yang paling rajin datang ke sekolah untuk belajar, dan teman setiaku untuk pergi sholat berjamaah di mesjid. Sindipun sering menemaniku bermain ke pantai, saat aku dan anak-anak lain mandi…..

Ketika di sekolah, Sindi akan menghampiriku dan mengajukan dua pertanyaan “enci hari ini sekolah sore?, enci hari ini ke mesjid?”.  Pertanyaan yang sama setiap hari, selalu dan selalu….Biasanya aku akan menjawab dengan anggukan, atau ketika lelahnya tingkat akut aku akan berkata “emmm…Sindi, kita liat nanti ya…tapi kalau enci tidak ke mesjid, Sindi tetap kesana ya…” . Sindi akan tersenyum dan berlari menjauhiku….dan selalu, walaupun tanpaku, dia akan pergi ke mesjid….

Ketika belajar sore di sekolah, Sindi akan mengambil buku di perpustakaan yang biasanya dia baca. Sindi kemudian berkata kepadaku “ enci…sampai halaman berapa”,  Lalu aku menjawab “ sampai halaman sekian Sindi…. kalau tidak tahu apa bacaannya, tanya enci ya..”. Sindi kemudian mulai mengeja setiap huruf di buku itu…kadang-kadang jika tidak sibuk dengan anak lain, aku akan menemaninya membaca, tetapi tanpa ditemanipun dia luar biasa…. Setiap kali selesai membaca, Sindi akan laporan kepadaku “ enci…sudah selesai”.  Perkembangan membaca Sindi sangat pesat, dan dia adalah salah satu dari sedikit anak-anakku yang bisa mandiri dalam belajar. Singkat kata untuk calistung, Sindi adalah angin segar untuku.

Pernah suatu sore saat latihan pramuka dengan tema melipat kertas, Sindi hanya diam dan memperhatikan. Bahkan saat anak kelas tinggi rebutan kertas dan berteriak “ enci…saya enci..saya minta enci”, Sindi tetap saja tenang. Kemudian dia mengambil buku diperpustakaan dan membaca. Aku kemudian bertanya kepadanya, “ Sindi tidak mau kertas melipat?”. Dijawab dengan gelengan. “yakin Sindi?,”, dijawab dengan gelengan lagi. Usaha terakhirku menggodanya adalah dengan membuatkannya sebuah banggau, “ ini untuk Sindi, mau?”.  Dijawab dengan gelengan kepala lagi. Begitulah si kalem Sindi yang cukup irit dalam bicara.

Selepas dari sekolah, aku dan Sindi berjalan bersama menuju rumah. Setelah itu kami akan pergi ke mesjid untuk sholat. Biasanya jika ada motor bapak piaraku, aku akan membonceng Sindi, Lala, dan Rizky. Namun, beberapa hari ini aku sering jalan kaki kemana-mana termasuk ke mesjid dan Sindi,  teman kecilku ini selalu menunggu dengan setia di depan rumahnya, jika aku lama baru keluar menghampirinya, dia akan mengetuk pintu rumah dan mencariku….Tidak berkomentar apa-apa, dengan alat sholatnya dia tersenyum kepadaku.

Saat kami berjalan berdua, kadang-kadang saling diam, dan kadang aku mengajaknya bicara..Sisanya dia hanya diam….Ketika banyak anak yang menghampiri kami kemudian berjalan bersama-sama, Sindipun cenderung diam. Dia seperti asik dengan dunianya dan pengamat yang setia atas perilaku teman-temannya. Biasanya aku akan ingat kata atau cerita yang dilontarkannya, mengingat sedikitnya kata yang dia ucapkan kepadaku. Suatu ketika Sindi tiba-tiba bercerita, dan itu adalah hal yang menyenangkan bagiku…”.enci…enci,katanya lala kalau ada syetan, kita disuruh lepas kerudung…biar setannya takut enci…”  aku tertawa kemudian bertaka, sindi….kalau ada syetan bukan lepas  kerudung, tetapi baca doa…Dia kemudian mengangguk dan swinggg…dia diam kembali, lalu kami meneruskan perjalanan kami.

Sambil menunggu Isya, biasanya anak-anak yang mengaji Al-Qur’an besar di desaku akan mengaji secara bergantian. Anak-anak lain yang tidak mengaji biasanya akan pulang setelah magrib, tetapi tidak dengan Sindi….Biasanya Sindi mengajukan pertanyaan tambahan “ enci pulang Isya”. Biasanya kujawab, “iya Sindi, Sindi tunggu Enci?” , Sindi kemudian menjawab dengan anggukan dan senyum manisnya.

Kadang-kadang Ibu Sindi menunggu di dekat masjid saat kami pulang, dan kami berjalan bertiga. Ibunya bercerita kepadaku kalau Sindi sangat sayang kepadaku (hikksss…terharu ngomong-ngomong), “ enci tau, Sindi sangat ceria pas pergi ke mesjid bersama enci, dia tidak mau diantar, katanya maunya pergi sama Enciku….”. Kata sang ibu menirukan omongan Sindi. Sindi juga bercerita kepada kakaknya yang di Jambi soal Enci barunya “ kakak, ada di sekolah enci cantikku…” Ucap yang ibu sindi kepadaku…Di perjalanan malam menuju rumah, Ibu Sindi berkata kepadaku….” enci…. pasti sedih sekali kalau enci pergi dari desa ini, apalagi anak-anak sudah dekat sama enci”. Ucapan yang seketika membuatku terdiam dan menyindir bahwa kebersamaan ini adalah tidak selamanya.  Hah….. dan pada akhirnya waktu itu pasti akan tiba…dimana semua anak-anak di desa ini suatu saat pada akan kutinggalkan… entah, bagaimana nanti… mengingatkanku bahwa waktu terus berjalan, sebuah konsekuensi bahwa selain aku harus melakukan yang terbaik yang ku bisa, juga aku harus menikmati setiap detiknya…

Jadi yan…Karena setiap detik sangat berarti, mari kita menikmatinya J

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: