Sebuah perjalanan bernama belajar……

 

Sering aku bertanya, kenapa dunia tidak hitam dan putih saja…biar jelas dan terang benderang…. bukan hanya soal sudut pandang aku menilai sesuatu, tetapi tempat dimana aku berpijak…..

Kenapa harus ada titik abu-abu yang kadang seolah amat kabur?. Atau ini hanya soal kognisi yang mengaburkan makna…. Kubertanya, kalau sudah selesai dengan nilai ini, bukankah sebagaimanapun kondisi aku akan tetap bisa memilih dengan tegas antara titik hitam dan putih?

PR ku selanjutnya menjadikan ini selesai bukan….

Adakah yang namanya terhimpit situasi? Dimana seolah pilihan menjadi buntu, dan kegelapan menyelimuti…. Bukankah ada An-Nur yang segala pemberi cahaya….kenapa harus merasa gulita…..

Pagi ini, ku merasa amat tersindir dengan logikaku sendiri….

Suatu kala sahabatku berkata  “ bukankah itu namanya pembenaran atas perilaku kita?. Iya, pada akhirnya ketika dipandang dari sudut lurus dan tidak, mungkin ini adalah pembenaran. Seperti ada batas yang benar-benar jelas antara hitam dan putih. Sayangnya…. hitam dan putih kadang-kadang adalah urusan penaksiran, terjemahan atau interpretasi…..

Lagi….. tandanya, ilmuku masih amat dangkal dan butuh sebuah perjalanan bernama belajar…..

Teman sepenempatanku pernah berkata…”ini bukan untuk didiskusikan….ini adalah soal keyakinan, dan setiap orang punya keyakinan masing-masing” Obrolan yang membuatku terjeda lama…cukup lama untuk berfikir karena ada unsur yang lebih tinggi dari sebuah harapan…. Otoritas sebuah keyakinan yang tidak bisa diganggu gugat….” sering kali kita terjebak dalam logika lemah yang kadang itu baik, dan kita bela mati-matian dengan alasan ke maslahatan” . Sebuah ujaran dari hatinya yang menurutku ingin berkata “ bukankah sudah jelas titik hitam dan putih itu!!!” .

Aku kemudian bertanya, kenapa pemahamanku menjadi amat berbeda….? apakah ini soal interpretasi lagi?, atau mungkin ketidaklengkapan atas ilmu yang kumiliki.  Pada akhirnya, aku tidak ingin memperdebatkan, apalagi mencari titik tengah…..jika memang benar ini sebuah keyakinan. Tapi kemudian, bagaimana tema kemaslahatan tadi? Bukankah kemudian kita harus mencari cara?

Ah, aku tahu aku sedang bermain logika, lagi….dan lagi…. Ketika ku tilik pengertian keyakinan di kamus adalah suatu kondisi dimana seseorang merasa menemukan kebenaran terhadap apa yang diyakini….ini adalah point untuk menempatkan keyakinan lebih sakral dari dari runtutan logika kognisi yang semata-mata amat terbatas. Bukankah pada akhirnya, tidak ada pembenaran atas perilaku akibat suatu kognisi. Apa kadang-kadang, manusia terlalu banyak pertimbangan akal untuk menyatakan bagaimana dirinya dengan jelas sesuai dengan keyakinannya???. Apa ia terlalu takut pendapat lingkungannya? Atau analisa logis tentang kemaslahatan??, atau ketidaksiapan akan konsekuensi yang kembali pada si pemilik keyakinan ketika dia bertaka terbuka???.

Jika ini menyangkut nilai-nilai universal umat manusia, mungkin yang dibutuhkan adalah keberanian melawan arus dan menerima konsekuensinya. Semua orang sepakat bahwa kejujuran itu harus dilakukan, tetapi manipulasi kata “ ketidakjujuran” kemudian diperhalus dengan “ ini untuk membantu anak, kasihan, ditinggikan saja nilainya”. Nilai universal yang seolah tertutupi dengan pelencengan nilai luhur lainnya. Ketika seseorang berjuang dengan nilai-nilai universal ini, bahkan secara hati nurani, orang yang bersebrangan akan menyatakan ini benar, hanya alasan kondisi yang membuat pembenaran terhadap perilaku.

Lalu bagaimana soal keyakinan yang tidak semua orang sepaham? Yang amat multiinterpretasi? Apakah butuh kekuatan yang maha dahsyat untuk bisa berkata kepada dunia?. Memang kenapa jika ada yang Syiah, Sunmi, atau justru Atheis?. Atau mungkin masalah yang lebih sederhana soal perbedaan pandangan hukum suatu kasus di dalam agama?. Mungkin pada akhirnya sulit untuk di tengahi, tetapi jika kemudian hal-hal esensi ini menyangkut kepentingan bersama?

Ah ini…. belum selesai…..dan aku harus banyak belajar…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: