Diskusi Tentang Perempuan Bersama Gadis-Gadis Kecilku

 

            Anak-anakku kelas tinggi sudah mulai beranjak remaja terutama kelas enam, itulah yang kuperhatikan dari mereka. Sebuah fase yang pasti dialami oleh setiap orang untuk menuju fase matang yang disebut usia dewasa. Ada sisi postifnya juga ketika sekolahku masuknya pagi dan siang terlebih di hari Jum’at. Ketika anak kelas tinggi pergi ke mesjid, perempuannya tinggal di sekolah. Biasanya aku dan mereka akan berkumpul membicarakan banyak hal terutama tentang kewanitaan, yang layaknya sudah harus mereka pelajari.

Suatu pertemuan, kami pernah membahas tentang makna persahabatan, bagaimana seharusnya kita berteman dan saling peduli kepada sesama, diwaktu lainnya aku melihat anakku berdamai setelah berkelahi satu sama lain setelah kami menonton sebuah film, dan kali ini kami membahas tentang anak-anak yang mulai beranjak dewasa.

“Kalian boleh bertanya apa saja kepada enci, tentang puber dan remaja”, kukatakan begitu kepada mereka. Ada perasaan aneh di mata mereka tentang pertanyaanku. Seolah pertanyaan yang kulontarkan adalah sesuatu yang tabu dan tidak layak untuk dibicarakan. “Bagaimana rasanya jika tiba-tiba kalian tiba-tiba menstruasi, payudara membesar, tumbuh bulu dibeberapa bagian tubuh kalian?” “ tidak mau Enci…” Jawab Fadila kemudian. Anak-anaklain dengan spontanpun mengeluarkan gestur tubuh menolak.

Aku kemudian menjelaskan tentang fase kehidupan kepada anak-anakku ini. Pertumbuhan seseorang yang dimulai dari bayi hingga suatu saat akan menjadi dewasa bahkan lansia. Disetiap fase usia pasti mempunyai ciri-ciri yang akan menandainya begitu juga fase remaja. Aku senang pelajaran tentang pubertas ada di buku IPA kelas enam, sehingga anak-anakku bisa lebih memahami ciri-cirinya saat pelajaran nanti. Sekaligus aku sedih membayangkan ratusan anak-anak di pedesaan lainnya, yang harusnya mendapatkan pemahaman tentang pendidikan seks dan menjadi bekal mereka beranjak dewasa bukan sinetron tak mendidik soal kemolekan berbusana dan hubungan antara lawan jenis yang tak terkontrol. Yah, mirisnya, di desa-desa Kecamatan Moilong, walaupun jauh dari hingar bingar kota, mereka memiliki parabola, yang tontonannya amat jauh dari edukatif. Aku agak curiga, korelasi antara tontotan tak bermutu mereka dengan kecendrungan seksualitas yang meningkat sehingga pernikahan usia dini cenderung direstui oleh si anak sendiri terpelas faktor budaya dan keadaan ekonomi.

Menjadi remaja itu rasanya nano-nano menurutku, mengingat aku pernah remaja dan keilmuanku sering berurusan dengan remaja. Remaja adalah rentang yang paling panjang dari fase perkembangan hidup. Saat kita menjadi remaja, mengutip bahasa anak-anak sekarang, sering terjadi “ fase galau”, yang menurut para pakar adalah fasenya “ strom and stress”. Wajar demikian, mereka dikatakan orang dewasa juga belum, disebut anak-anak juga sudah tidak pantas. Menurut Hurlock dalam bukunya psikologi perkembangan, usia ini harusnya remaja bisa mencapai tugas-tugas perkembangannya yang akhirnya akan menentukan sehat atau tidaknya secara fisik dan psikologis dimasa dewasa.

Aku ingin anak-anakku merima perkembangan fisik mereka sendiri, sebagai sesuatu yang wajar dalam hidup. Itulah yang kuharapkan sebagai bagian dari tugas perkembangan remaja. Nadia terlihat minder dengan postur tubuhnya yang terlalu besar, lebih tinggi dariku, dan paling mencolok di antara yang lain. Anak-anak yang tidak memahami bahwa pertumbuhan adalah hal wajar biasa akan membawa efek ketidakpercayaan diri, dan bisa jadi mengundang diri sendiri atau orang lain untuk menjadi bahan ejekan. Yang bisa kulakukan adalah menjadi pendamping mereka untuk menjelaskan banyak pertanyaan dibenak gadis-gadis kecil ini. “Kalian tau, ketika usia kalian sudah beranjak dewasa, itu tandanya sebagai seorang perempuan kalian wajib melindungi diri sendiri, ketika kalian sudah menstruasi, hati-hatilah dengan sentuhan lawan jenis yang tidak mempunyai hubungan keluarga dengan kalian”. Pendidikan seks menurutku harus dikenalkan kepada mereka sedari dini, agar gadis-gadis yang beranjak ini memahami betapa berharganya mereka sebagai seorang perempuan. Aku tidak tahu seberapa banyak yang mereka serap dari banyak diskusi kami tentang perempuan, aku berharap akan menjadi stimulus untuk mencari bekal yang lebih banyak.

Remaja, setelah penerimaan diri terhadap kondisinya mempunya tugas penting lainnya yaitu menemukan jati diri. Akan menjadi apa saya, nilai apa yang sebenarnya kuanut, lingkungan sosial apa yang kubutuhkan dan aspek-aspek “ ego” atas diri yang kemudian berusaha dirumuskan. Aku tidak ingin anak-anakku terus terombang-ambing dari badai jati dirinya sehingga mengarah kepada perilaku negatif. Fase ini butuh pendampingan dari lingkungan, tidak hanya guru di sekolah, tetapi orang tua dan sekitar remaja itu sendiri untuk menjadikan mereka pribadi yang mampu memaksimalkan potensi. Desaku, desa sederhana yang mempunyai banyak potensi. Kultur Islam yang kental harusnya bisa membantu mendampingi mereka untuk bertumbuh, PRnya adalah bagaimana nilai-nilai tidak disampakan dengan paksaan dan terkesan doktrinasi.

Ini hanya sebuah harapan kecil dari seorang guru bahwa anak-anaknya menjadi remaja yang sehat baik secara fisik dan psikologis, untuk itu mereka harus punya bekal yang cukup untuk hidupnya. Membayangkan, di usia mereka, anak-anakku sudah tau apa yang akan mereka capai dan kejar dalam hidupnya, kemudian menyusun langkah-langkah nyata untuk mewujudkannya.

Seorang guru yang terus ingin berdialog dan mencintai murid-muridnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: