Tiga Piala untuk Kwaran Kami (Moilong)

“ Jangan lupa ya…kwaran Moilongnya yang keras, karena kita mewakili kecamatan Moilong”.

(Pak Malky, Guru Olah Raga Slamet Harjo)

tiga piala untuk moilongSurat undangan pesta siaga baru kecamatan terima beberapa hari sebelum lomba.  hasil rapat di UPT, akhirnya diputuskan yang mewakili lomba adalah atas nama Kwaran Moilong, bukan atas nama sekolah. Anak-anak yang terpilih dan berjumlah sepuluh orang akhirnya harus berlatih pagi dan sore walaupun sedang ujian semester untuk bisa meramaikan acara ini. Beberapa guru dan kepala sekolah juga dari UPT ikut datang dan memberi semangat di latihan darurat kami ini.

Yel-yel siaga selalu bergema memeriahkan keceriaan latihan kami:

Selamat pagi semua..salam-salam

Selamat pagi semua..salam-salam

Kami siaga kwaran Moilong, siap datang untuk menang

Selamat pagi semua..salam-salam

Ye…yo…kami siaga

Kwaran Moilong

Datang…untuk belajar, dan mengukir prestasi

Siaga..so pasti…bisa

Moilong…Cerdas berprestasi!!!

 

Ini pertama kali anak-anak siaga kecamatan kami mengikuti lomba tingkat kabupaten, Pramuka di Kwaran Moilong kebanyakan adalah penggalang, jadi untuk siaga belum terlalu tergarap. Banyak lomba yang akan ditandingkan yaitu pasak tenda, pentas seni, yel-yel, melipat baju, simpul menyimpul, pasak tenda, lomba mewarnai, dan parade kostum. “Besok kita latihan lagi ya, jangan lupa belajar juga…”.Ucap bu Yaroh salah satu guru kelas. “ lombanya memang mendadak ya enci, mau bagaimana lagi persiapan kita juga mendadak, mana sekarang lagi ujian semester, tapi anak-anak senang kayaknya”

 

Persiapan maksimal di waktu yang minimal sudah kami lakukan, jum’at sore akhirnya kami berangkat ke Luwuk, membutuhkan waktu sekitar tiga jam dari kecamatan sampai kesana. Kecamatan menyewa dua otto (mobil taxi) untuk sampai ke kabupaten. Biar tidak terlambat, kami sengaja datang satu hari sebelumnya dan menginap di rumah slah satu guru di Luwuk. Beberapa anak ada yang mabuk darat, dan setelah turun terlihat pucat sekali. Eh, itu cuman berlangsung sebentar, setelah makan dan bercerita kembali bersama teman-temannya anak-anak kembali ceria.

 

Di Luwuk kami sempat menikmati lalapan sambil bertukar cerita, orang tua Rukma dan Vanesa juga ikut menemani dan memberikan motivasi. Di perjalanan pulang, anak-anak bernyanyi bersama, bernyanyi lagu terimakasih guru dan lagu daerah Banggai yang akan kami tampilkan di perlombaan besoknya (terharu setiap mereka bernyanyi “guruku tersayang, guruku tercinta, tanpamu, apa jadinya aku…That’s Why Iam Hire). Semangatnya anak-anak itu sungguh menular, di rumah, anak-anak masih berlatih dan berlatih. Beberapa guru yang mengantar, kepala sekolah dan KUPT juga ikut memberikan masukan atas penampilan mereka…lagi dan lagi…mereka terus berlatih…Saya merasa sangat senang melihat semagat mereka (sebuah keoptimisan yang menjalar sekali lagi…)

 

Anak-anak yang muslim kemudian sholat berjamaah bersama saya, dan kami kemudian berdoa bersama untuk kelancaran besok (bahagia itu sederhana ya…. melihat doa tulus mereka adalah salah satu kebahagiaan).Saya akhirnya memilih tidur bersama anak-anak lesahan di lantar dan berbagi cerita bersama mereka. Pagi-pagi sebelum azan subuh berkumandang, mereka sudah bagun dan rebutan kamar mandi lalu segera memakai baju pramuka baru yang khusus dibuat untuk acara ini. Lagi… dan lagi, kami kemudian berlatih untuk pentas seni.

 

Naik angkot kami menuju acara dengan banyak perlengkapan yang dibawa dari Moilong. Bendera untuk upacara, tiang, tongkat, tenda, alat lomba, baju untuk parade dan beberapa makanan untuk anak-anak. Sampai tempat acara, anak-anak bilang kepadaku, enci…enci…takut…bagaimana kalau kita tidak bisa. Pak kepala sekolah Slamet Harjo, pak Nurdin mengakatakan kalian pasti bisa….”lihat piala yang bersusun itu ya…bawa pulang salah satunya ya nak”.  Bu Yaroh kemudian memberikan semangat tambahan. “ kalian sudah latihan, jadi pasti bagus”. Semangat dari orang-orang yang mereka percaya memang sebuah energi, tanda bahwa kepercayaan  mereka mampu itu sangat penting.

 

Benar saja, anak-anakku di Kwaran Moilong melakukan tugasya dengan sangat baik, kami bersahasil memasang tenda hingga berdiri tegak, pentas seni dengan sambutan tepukan, melipat baju hingga final dan memenangkannya, lomba karungpun kami juarai, lomba mewarnai dan simpulpun kami selesaikan dengan baik, begitu juga upacara dan yel-yel. Puncak acara adalah parade dengan kostom yang disiapkan dadakan, untunglah beberapa orang tua murid ikut membantu mencari baju dan mendandani mereka. Cukup jauh kami berjalan, mungkin lebih dari 3 KM, bersama anak-anak dari kecamatan lain.  Banyak lagu kami nyanyikan dari bintang kecil, terimakasih guru, lagu daerah hingga lagu-lagu perjuangan. Saat lelah, kami akan meneriakan yel-yel kami dengan semangat dan anak-anak akan saling mengingatkan sebentar lagi sampai…

 

Dan usaha kami akhirnya tidak sia-sia, kami mendapatkan tiga piala, untuk ketiga kategori. Ada tiga kategori yang di lombakan. Setiap kategori berisi beberapa lomba, misalnya kategori I ada lomba mewrnai, pentas seni, dan simpul sehingga penilaiannya tidak perlomba, tetapi akumulasi dari beberapa skor lomba. Saat menerima piala, sorak kami yang paling keras, bukan berarti karena kami juaraa satu…tapi juara 2 dan 3 untuk tiga kategori…ini tidak jadi soal, karena lelah kami beberapa hari ini terbayar lunas dengan tiga piala ini. Pak Hasbi (KUPT) bilang, “kita baru latihan tiga hari, coba kalau seminggu pasti juara 1”..Kata-kata yang membuat anak-anakku tambah semangat untuk terus latihan pramuka…Pramuka itu bukan hanya panas-panasankan ternyata, tetapi melatih anak bagaimana berompempetisi dan menemukan pengalaman baru yang berbeda…Mengenal dunia luar, bertemu sahabat baru, dan mempunyai keterampilan llebih banyak lagi.

Jadi, saya berjajanji dengan diri sendiri…mari kita hidupkan pramuka…:)

Saya belajar dari proses ini bahwa :

Bahagia sekali ketika setiap proses pendidikan terbangun kerja sama layaknya kami akan mengikuti lomba dan mencoba memenangkannya. Orang tua ikut membantu, sekolah-sekolah yang tidak ikut lomba ikut menyumbang dana, guru-guru membantu dengan caranya (ada yang memasak untuk makan, mengecek barang, atau mencarikan mobil dan melatih), lalu UPT menyatakan dukungannya dengan hadir dan memberikan semangat. Semua orang dalam proses pendidikan punya peran masing-masing, yang jika dijalankan pasti hasilnya adalah optimalisasi kemampuan siswa. Melihat semangat kami di kecamatan, saya semakin optimis dengan “semangat kebersamaan di pendidikan”. Apalagi jika bisa ditularkan ke setiap sekolah yang ada di 17 desa di kecamatan kami. Ketika warga desa, komite sekolah, guru-guru, dan orang tua saling berdiskusi, saling mencari solusi dan turun tangan atas masalah-masalah yang ada di sekitar…Semoga J

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: