Romantis (Pasangan Berpukat Suku Bajo)

 

Romantis (kakek nenek)Nenek dan Kakek Andi… Sebut saja begitu karena saya sungkan menanyakan siapa nama mereka berdua. Andi adalah murid yang mendapatkan perhatian khusus dariku karena kemampuan membaca dan menulisnya yang harus ditingkatkan. Selepas pulang sekolah, pada pukul dua siang, Andi biasanya sudah menungguku di sekolah sendirian, lebih cepat dari murid lain yang rumahnya dekat.  Oh ya, bicara soal Andi, Anak ini pernah datang kurang dari jam dua, jam satu dan yang lebih parah adalah jam 11 pagi untuk belajar,tapi dia selalu setia menungguku yang biasanya datang jam dua siang. Aku kemudian bertanya…Andi, ini jam berapa?? Jam dua enci, (dengan senyum lebarnya), aku kemudian jawab, ini masih jam 11 Andi…. tapi enci, di rumahku sudah jam dua…ternyata Andi hanya membaca jarum panjangnya saja…,ketika jarum panjang ke Angka 2, bergegaslah Andi ke sekolah. Aku kemudian menuliskan jam besar dibukunya, dan mengajarinya membaca jam dua, tanda dia harus pergi ke sekolah. Well, nanti kita sambung lagi cerita soal Andi dan bagaimana banyak cara yang kami gunakan untuk bisa belajar dan mengenal huruf.

Andi adalah sedikit dari suku Bajo yang bersekolah di SD Moilong, di desa ini dua suku terbesar adalah Bugis dan Bajo, kebanyakan suku Bajo tinggal di dusun Loppon dan bersekolah disana. Orang-orang Bajo biasanya mengandalkan hidup dari bapukat (menjala ikan di laut). Begitu juga dengan keluarga Andi. Sejak kecil, ketika orang tua andi bercerai,  Andi hanya tinggal dengan kedua kakek dan neneknya yang usianya sudah diatas 60 tahun.  Selepas les, Andi mengajaku ke rumahnya yang terletak tidak jauh dari bibir pantai. Andi berteriak, nenek…ini enci, ini enci, ini enci… nenek Andi duduk di pelataran rumah dengan ramah menyambutku dan kami akhirnya bicara banyak soal Andi, anak-anak beliau dan kehidupan keseharian.

“Setiap hari saya pergi bapukat enci, Andi biasanya sendirian di rumah”.

Ibu juga ikut?!!”, tegas saya dengan pertanyaan.

“Iya…soalnya kakeknya Andi sudah tidak terlalu kuat, sesak nafasnya, jadi saya bantu mendayung”

Saya mendapatkan kronologis kesehaarian  bahwa dari jam empat sore mereka akan berangkat ke tengah laut sambil menebarkaan jala, menunggu hingga jam tujuh malam, lalu kembali ke tepian…”Dengan mendayung ibu….” (saya merasa bego sendiri mengajukan pertanyaan ini..ya iyalah..).  “Iya, biasanya sampai jam semibilan baru sampai rumah, Andi sudah tidur di tetangga, untungnya tetangga disini baik-baik”

Nenek Andi punya delapan anak, tetapi empatnya sudah meninggal dan hanya tersisa laki-laki. Semuanya sudah berkeluarga dan tinggal terpisah dari mereka. Ada yang di Batui, juga di Pagimana. Nenek kemudian bercerita bagaimana dia bisa tinggal di desa Moilong. “Saya aslinya dari Jayabakti-Pagimana enci, dulu tinggal di desa Tou, lalu pindah ke Loppon, karena disana juga banyak orang Bajo, lalu ada yang menawarkan rumah ini, harganya empat juta, jadi saya beli disini….”

 

Nenek kemudia melanjutkan ceritanya, “ Keluarga kami hidupnya dari bapukat, tapi anak saya sekarang sudah ada yang kerja di energi (maksudnya LNG), bapak Andi dan ibu tirinya di Unit 14, ada juga yang di Pagimana sana”

“ yang mana perahu nenek” tanya saya

“ yang itu enci.. (sambil menunjuk kapal yang terparkir di laut depan rumah). kapalnya sudah tigapuluh tahun itu enci”

Woi, tiga puluh tahun usia kapalnya….awet juga ya, kata nenek kapal itu sudah sering di perbaiki tapi kuat dan gak pernah bocor. “ kemaren pas hujan itu enci, saya lagi di tengah laut sama bapak”. Beberapa hari yang lalu memang desa kami hujan deras plus angin ribut. Lalu saya mengeluarkan pertanyaan bego lagi…”trus bagaimana, tidak apa-apa nenek”, ya iyalah gak papa, orang masih ngobrol sama saya kan ya…”pelan-pelan enci…sampai jua akhirnya”.Nenek bisa berenang”. Pertanyaan saya lama-lama jadi udik begini, ya iyalah bisa…!. “ bisa, tapi tidak pernah tengggelam enci, pakai tangkup airnya dibuang”. Banyak hal yang saya tanyakan kepada nenek, well udiknisme tersendiri karena sebelumnya saya tinggal di kota yang jauh dari nelayan, jadi banyak hal yang ingin saya tahu dari pekerjaan ini. Termasuk kemana ikannya diijual, berapa harganya, kalau tidak laku bagaimana, kenapa harus sore hari tidak pagi saja, larangan menggunakan bom di laut, dan bagaimana juga anak-anak di sekitar pantai ikut menjualkan ikan yang didapat.

Nenek tiba-tiba berseru “Enci….lihat itu….lihat itu, beh…itu ikan semua enci” (he..saya kok hanya melihat air dan ombak ya). “Itu semua di sekitar kapal ikan semua, beh..ikan semua itu….” Nenek senang sekali meliht ikan, seperti dapat hadiah dan kejutan saja, tapi saya sekali lagi tidak liat apa-apa (mungkin karena nenek sudah puluhan tahun pukat ya, jadi instingnya sudah  tajam). Saya kemudian bilang kepada nenek, kalau mau pergi bapukat tidak apa nek, saya cuman mampir sebentar… dan benar saja, nenek langsung masuk ke dalam dan keluar dengan kostum yang berbeda… Kakek sudah di tepi pantai menarik perahu mereka dan menyiapkan jala.  Nenek kemudian segera menghampiri kakek, naik ke perahu dan duduk di bagian depan. Mereka berdua tersenyum kepada saya sebelum pergi mendayung ke tengah laut. Ah, romantis (sambil melow sendiri)…. kakek nenek berdua mendayung untuk berkilo-kilo ikan yang akan di jual. Sudah puluhan tahun mereka begitu. Kehidupan sederhana yang saling melengkapi.

Saya mengambil gambar mereka dengan HP, dan dari kejauhan Kakek Andiberteriak..”enci, nanti kalau fotonya bagus saya beli ya….”

Yuks, selalu menikmati setiap detik yang terus berlalu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: