Belajar itu…… (ada dan tiada guru)

 “Hari ini belajar agama enci (panggilan untuk ibu guru)”, ucap Yoga salah satu muridku. Salma kemudian bergegas membagikan buku paket bantuan untuk sekolah kepada anak satu persatu. Membuka halaman kesekian, lalu bersiap-siap menyalinnya. Saya kemudian berkata “apa yang kalian lakukan?”,  dijawab spontan oleh salah satu muridku.. “mencatat ke buku enci, kemaren sudah sampai disini” (sambil menunjuk halaman di buku).  Pengalaman yang sama yang kualami sehari sebelumnya, beberapa anak mengambil buku ke kantor, lalu belajar sendiri dengan memindahkan tulisan dari buku paket ke catatan mereka. Pemahaman pertama yang ku dapat saat datang di sekolah ini adalah kadang kala belajar versi sekolah yang kekurangan guru hanyalah proses memindahkan tulisan dari buku paket ke catatan siswa. Well, apa itu pelajaran agama, pelajaran agama adalah menyalin ayat, mengeja setiap tulisan, kemudian jika murid ada waktu di rumah boleh dibaca kembali, sehingga wajar ketika output yang dihasilkan adalah hafalan yang sama sekali tidak bermakna. Bukankah pelajaran agama seharusnya menjadi internalisasi moral sendiri yang akan menjadi bekal hidup mereka kelak? Bukan sekedar runtutan kata yang sulit dimengerti untuk anak seusia mereka. Jadi, nanti dulu kita berbicara kualitas pendidikan, yang menjadi PR bersama adalah bagaimana jumlah guru di Indonesia yang  katanya paling mewah di dunia, terdisrtibusi dengan baik hingga daerah seperti desa saya sekarang.

Beda lagi soal pelajaran matematika,  murid-muridku disini punya buku pintar, apa itu buku pintar? Buku yang di dalamnya mengandung jawaban perkalian berapapun dari pertanyaan yang ada di buku. Ranggenya dari perkalian 1-100, jadi ketika ada pertanyaan 5X 25, murid-muridku tinggal membuka saja contekan di buku pintar ini, dan menuliskan jawabannya di dalam buku catatan. Jadi yang dimaksud belajar matematika oleh sebagian muridku adalah memindahkan angka dari buku pintar ke dalam buku catatan mereka. Bagaimana dengan kontruks dan cara belajar matermatika dengan baik dan benar, nanti dulu kita bicara hal ini. Bagi sekolah yang secara fakta bermasalah dengan guru, belajar model seperti ini masih dibenarkan.

Di pelajaran IPS murid-muridku secara tertulis sudah tamat tentang fungsi pemerintahan, tugas kepala desa dan bagaimana peran yang dijalankan. Di dalam catatan mereka sudah terlampir lengkap dengan detil satu persatu. “ enci, kami sudah menyalin sampai sini kalau pelajaran IPS, Ucap Salma kepadaku”. Lalu apa peran kepala desa?, kalau kantor kecamatan biasanya mengurus apa saja? Tanyaku kepada mereka yang di jawab dengan ekpresi diam dan berfikir. Wajar bagi muridku jika mereka melupakan apa yang baru beberapa hari mereka tulis, karena memori di otak mereka tidak memberikan kesan apa-apa sehingga mudah lupa pelajaran yang telah disalin. Hemm, nanti dulu kita bicara tentang metode kreatif cantelan untuk menguatkan ingatan, PR kita bersama adalah bagaimana secara faktual guru benar-benar hadir di ruang kelas dan mengajar mereka.  

Semua bersepakat dengan tema bahwa pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama. Saya sedikit tergelitik ketika mendengar urusan pergantian kurikulum dengan usungan tema membangun karakter sementara masalah esensial soal distribusi dan kualitas guru belum terselesaikan, apakah mengganti kurikulum adalah jawabannya??, Ketika olah raga kadang kala semata mempelajari teori-teori yang ada dibuku, atau mendalami IPA sama dengan kumpulan tulisan rumit yang hanya lewat sekilas di kepala anak. Apa itu lempar lembing, apa itu kasti, dan bagaimana aturan bermain voly, cukup dibaca saja dibuku. Lalu buat apa bantuan alat peraga IPA, jika akhirnya menjadi pajangan di belakang pintu semata. Kemudian saya menjadi lebih berfikir, bagaimana kalau sekolah yang kekurangan guru tidak mendapat bantuan buku atau alat peraga???

Dalam sumpah pemuda di jelaskan bahwa bahasa pemersatu kita adalah bahasa Indonesia. Ketika belajar bahasa Indonesia dilakukan tanpa ada pemimbing yang  hadir secara utuh di depan mereka, wajarlah kemudian jika bahasa daerah baik lisan dan tulisan yang digunakan walaupun temanya adalah Bahasa Indonesia. Di sebuah koran saya pernah membaca,  beberapa budayawan mulai khawatir bahwa pengaruh budaya asing akan membuat anak-anak Indonesia tidak bangga lagi dengan Bahasa Indonesia. Well, seharusnya kekhwatiran juga seharusnya disematkan bagi sekolah-sekolah yang ada di daerah terpencil, bagaimana esensi penting bahasa Indonesia adalah membantu anak terhubung dengan Indonesia yang luas untuk saling berkomunikasi dan seharusnya anak mempelajarinya dengan baik dan benar. Sekali lagi, kehadiran guru di sekolah adalah salah satu point penting untuk mewujudkan ini.

Hari-hari pertamaku di desa memberikan pelajaran bahwa sebelum kita bicara kualitas dengan banyak kebijakan yang terkesan sangat mewah untuk sekolah kami, bahwa ada persoalan dasar yang harus benar-benar di selesaikan yaitu tentang keberadaan guru itu sendiri.  Entah di kota ataupun pelosok negeri, anak-anak ini harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk mencapai cita-cita sebagai bagian dari Indonesia….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: