Begini Rasanya menjadi orang baru

“Berapa ibu di bayar jauh-jauh dari Jakarta untuk mengajar di sekolah ini?”, apa ibu guru honorer?, kenapa mau-maunya kesini?”” weii, pasti ibu dibayar mahal ya.., kalau boleh tahu angka pastinya berapa ibu”, “ nanti, bakalan diangkat menjadi PNS seperti itu?” ,“lalu setelah 14 bulan ibu mau jadi apa?”. Tema pertanyaan  menyelidik yang sering diajukan oleh beberapa guru tentang keberadaan pengajar muda di desa saya selain pertanyaan yang bersifat mengakrabkan seperti asal daerah, pendidikan, jumlah saudara atau pengalaman kerja. Lalu apakah ada pertanyaan tentang apa Indonesia Mengajar itu, visi misinya bagaimana, mengapa hadir di desa dan kecamatan Moilong, Luwuk Banggai, atau bagaimana prosesnya pengajar muda ada di desa ini? Sepertinya tidak ada yang penasaran dengan jawaban dari pertanyaan itu. Bahwa ada guru yang jauh-jauh datang dari Jakarta yang nanti akan membantu mengajar di sekolah, pasti di bayar dengan mahal, itu adalah praduga awal dari mereka. Well, menjadi orang baru itu rasanya nano-nano, hemat saya terlalu dini berbicara tentang pengabdian, berbagi di daerah terpencil, atau bagaimana banyak diantara pengajar muda yang akhirnya memutuskan meninggalkan pekerjaannya untuk menjadi guru di daerah terpencil, atau bagaimana sebenarnya Indonesia Mengajar itu…. yang terucap pada akhirnya adalah kata sederhana bahwa saya di sekolah ini membantu kurangnya guru yang memang menjadi fakta keseharian.

Menjadi orang baru itu rasanya nano-nano

Ketika berjalan ada yang menengok dengan alis terangkat dan dahi sedikit berkerut yang menggambarkan pertanyaan “siapa orang ini”, ketika ada kata “oooooo” (dengan nada panjang) setelah penjelasan singkat tentang guru baru dan tinggal 14 bulan di desa mereka, ketika banyak bahasa yang hanya bisa ditanggapi dengan mangguk-mangguk tanpa mengerti apa maksudnya, ketika banyak doa untuk mendapat jodoh yang agak bingung ingin ditanggapi bagaimana, atas permintaan pesiar ke rumah dan mengobrol  yang bermakna masuk dalam list kunjungan bertikutnya. Tiba-tiba pak camat dengan ceria mengabarkan di pertemuan desa ada orang dari Indonesia Mengajar yang disambut celetukan bercanda “ Indonesia Menyapa”. Aha, begini rasanya jadi orang baru, saat sholat di mesjid anak-anak bukannya menghadap kiblat, tetapi justru melirik guru barunya,  disuguhi makan dan minum tiga kali sehari, atau tiba-tiba saja UPTD mengumpulkan guru-guru yang disangka peringatan kepada sekolah akan kinerja yang ternyata hanya sekedar mengingatkan bahwa guru baru ini sudah jauh-jauh dari Jakarta untuk mengajar, jadi mohon dibantu.

Menjadi orang baru itu memang Nano-nano

Dibilang pelupa sama anak-anak karena salah sebut nama (Nak…jumlah kalian banyak lho…), mengajar kelas satu tetapi menjadi tontonan anak kelas 4, 5 atau 6 dari jendela, atau tiba-tiba saja ada anak siswa tambahan yang bukan anggota kelasnya karena ingin mendengar si guru baru bercerita. “ enci…enci siapa?” kenapa di sekolah ini?”….”hei..itu enci baru (beberapa anak berteriak-teriak), “enci..sebentar jam berapa kita boleh kerumah enci”, “enci…kita jalan-jalan kepantai ya”, enci…aku mau belajar”, “enci…enci cantik, enci….kelas kita diajar enci saja sudah..”, “ enci, kelas kita tidak ada guru…hayo enci disini saja”. Anak-anak itu memang hawanya kebahagiaan, tidak perlu perkenalan panjang dan basa-basi soal visi misi, anak-anak selalu mudah terbuka dengan orang-orang baru di sekitar mereka. Memang benar petuah para pengajar muda sebelumnya, dekalitah anak-anak terlebih dahulu, lingkungan sekitarnya akan menyusul kemudian.

Menjadi orang baru itu rasanya nano-nano

 Mungkin ini sisi menariknya menjadi Pengajar Muda di daerah penempatan baru dengan ritme dan tantangan tersendiri. Di kabupaten kami disambut hangat oleh jajaran pemerintah, beberapa protes kecil kenapa hanya 6 sekolah yang dapat Pengajar Muda,  dibuatkan acara yang diisi sambutan oleh bupati dan ditutup dengan beberapa UPTD kecamatan dan kepala sekolah yang minta foto bersama.  Bahwa sekali lagi, ada manusia muda yang repot-repot mau datang untuk membantu mengajar di daerah mereka dengan ucapan spontan “ kok mau”. Merasa menjadi artis ketika acara pramuka kabupaten, berfoto dan diminta kartu nama, lalu salaman dan banyak berbagi cerita tetang bagaimana Indonesia mengajar. Suatu huru hara keceriaan yang harus dibuktikan dengan sumbangsih nyata selama 14 bulan kedepan. Namun, Di desa, saya dan mungkin rekan PM Banggai lainnya harus berjuang lebih keras untuk di kenal penduduk desa. Senyum-senyum sapa di sepanjang jalan,  masuk dan keluar rumah untuk menjelaskan bahwa “bapak, ibu…. saya akan menjadi warga sini selama 14 bulan, bla..bla..blaa”, mengatur list kunjungan ke tokoh masyarakat, peka terhadap semua kegiatan yang ada di desa, ditanya dan menjawab pertanyaan yang sama berulang kali, mengenali banyak karakter orang di desa, berusaha terus mengamati, dan menabung banyak informasi, juga mencari cara tetap merasa bahagia sambil mencari teman diskusi di desa yang bisa diajak bertukar pikiran.

Menjadi orang baru itu rasanya nano-nano, tidak hanya sekedar proses adaptasi diri dengan bahasa, tingkah keseharian, atau budaya yang berusaha dikenali dengan segera, tetapi banyak rasa di dalamnya, senang, deg-deg, penasaran, atau galau gundah gulana karena bebeberapa hal yang harus dikomfromikan. Hingga saya mengambil kesimpulan, bagaimapun proses kedepannya di tempat baru ini… Mari kita nikmati saja

Yuk. Kita nikmati setiap detik yang sangat berarti….Apapun..Alhamdulillah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: