Belajar bentuk dengan lilin

kegiatan anak

Satu minggu ini saya menggantikan seorang guru mengajar di kelas satu dengan banyak dinamika dan tantangannya. Berkelahi, merebut alat tulis temannya, lari-larian di kelas, naik keatas meja, sering ke meja guru karena pensilnya patah, menangis kehilangan uang, haus dan ingin minum, atau tiba-tiba bosan dan ingin pergi bermain. Well, sisi menariknya, mereka sangat bersemangat, lucu dan menyenangkan jadi seberapa tinggipun emosi akibat ulah mereka, wajah yang imut-imut itu selalu bikin tersenyum. Berapa menit mereka bisa berdiam? Mungkin kurang dari lima menit, kapan mereka bisa kosentrasi, ketika ada tugas untuk menulis tetapi dengan bertanya di setiap huruf. Selebihnya seberapa seringpun saya bernyanyi dan mengeluarkan tepukan untuk membuat mereka fokus kepada saya, pola yang sama akan terus terulang.

Kali ini, Materi yang ingin saya ajarkan kepada mereka adalah mengenal bangun datar. Tidak muluk-muluk, cukup bentuk yang sederhana terlebih dahulu. Kebanyakan anak kelas satu tidak melalui proses masuk TK sehingga guru di kelas satu menurut saya tidak hanya harus memiliki kesabaran tingkat tinggi tetapi juga memutar otak bagaimana caranya kompetensi yang mereka harus mereka kuasai bisa selesai.

Apa yang membuat anak-anak mampu belajar dengan cepat, jawabannya adalah hal kongkrit dan dekat dengan kehidupan mereka, dan apa yang membuat anak bisa konsentrasi dengan apa yang diajarkan oleh gurunya, jawabannya secara emosi dan diri anak mempunya ketertarikan dengan apa yang diajarkan. Secara sederhana bermakna bahwa jika anak senang, dan yang diajarkan menyatu dengan aktivitas atau kehidupan mereka, maka pelajaran akan lebih mudah dimengerti.

Secara psikologis anak-anak memang jiwanya bermain dan bersenang-senang, ketika saya katakan hari ini kita akan bermain lilin dengan banyak warna, antusiasme mereka naik dua kali lipat, dimana dengan mudah mereka bisa duduk manis di mejanya dan menunggu lilinnya dibagikan. Saya kemudian meminta mereka membentuk lilin menjadi bulatan dengan memutar-mutar di tangan atau diatas meja.  Membuat lilin menjadi bulat adalah hal mudah bagi anak kelas satu, setelah selesai saya meminta mereka menyebutkan barang apa saja yang bentuknya bulat. “kelereng enci, roda, ban, uang enci” variasi jawabannya hanya sekitar itu. Oh iya, anak kelas satu yang saya ajar ini, kebiasaan mengangkat tangan dan menjawab jawaban yang sudah dijawab oleh temannya dan angkat tangan tidak selesi-selesai hingga saya katakan cukup. Saya kemudian menekankan kepada mereka, bahwa bulat di dalam matematika itu disebut dengan lingkaran, dan meminta anak mengulanginya satu persatu. Setelah selesai dengan lingkaran, kami kemudian beranjak ke segi empat. Lilin yang tadinya bulat harus dibentuk menjadi segi empat. “Enci…bagaimana, aku tidak bisa” kata eel, yang di ikuti hampir seisi kelas, kelas menjadi ramai dengan ucapan aku tidak bisa dan aku tidak bisa. Kelas kami kemudian bersepakat mengganti ucapan “aku tidak bisa” menjadi “aku mau mencoba”, keramaian kelas kemudian silih berganti menjadi ucapan “enci…enci….aku mau mencoba”.

Secara motorik halus, adalah hal wajar ketika anak belum bisa membuat persegi empat, persegi panjang atau segi tiga, apalagi ketika anak tersebut tidak masuk TK terlebih dahulu. Pola yang dikenal anak terlebih dahulu adalah coretan garis dan lingkaran. Untunglah saya teringat dengan konsep ini, yang membuat tingkat kesabaran saya menjadi lebih baik. Bulatan yang dibuat anak sebelumnya diraatakan dengan membenturkan ke bagian yang rata seperti meja ke beberapa sisinya, kemudian diratakan lagi dengan tangan, itulah cara sederhana yang saya ajarkan kepada mereka. Setelah semua anak berhasil menyelesaikan segi empatnya, saya meminta mereka membuat segi empat lagi dengan lilin yang tersisa, sehingga menghasilkan dua segi empat. Saya kemudian bertanya kepada anak-anak, bentuk yang telah mereka buat namanya apa? Yang dijawab oleh  salah satu anak dengan “kotak enci…”. Kotak versi mereka kemudian, di tutup dengan penjelasan bahwa namanya adalah segi empat, mengapa demikian, karena mempunyai empat sisi yang panjang dan lebarnya sama.

Percobaan berikutnya adalah menggabungkan dua segi empat menjadi satu. Anak-anak dengan mudah bisa melakukannya. Saya kemudian menjelaskan bahwa menggabungkan segi empat menjadi satu bisa membuat persegi panjang dan meminta beberapa anak membedakan dengan apa yang mereka buat sebelumnya. “lebih panjang enci, jadi dua warna enci, lebih besar enci” kata beberapa anak. Titik point yang ingin saya tekankan sebenarnya sederhana, bahwa persegi panjang berbeda dengan persegi empat, dan letak perbedaannya ada pada sisi atas dan bawahnya yang lebih panjang, dengan merasakan dan membuat langsung, anak-anak akan lebih memahami konsep yang ditanamkan.

Teriakan anak tambah menjadi ketika membuat segitiga “enci…aku mau mencoba, bagaimana!. Enci…enci…enci…” tentu saja ada anak yang langsung bisa membuatnya hanya dengan melihat sekali contoh yang saya berikan. Awalnya saya mengajarkan dengan metode jari telunjuk dan kelingking yang digabungkan membentuk segitiga. Saya membuat segitiga dengan jari-jari ini. Lama kelamaan, akhirnya saya menggambar beberapa segitiga di papan tulis, dan meminta anak yang belum bisa untuk membentuk segitiga di cetakan yang saya buat. Well, cara ini ternyata lebih berhasil, semua anak akhirnya berhasil membuat segitiganya. Anak kelas satu sekarang sudah mempunyai konsep lingkaran, persegi empat, persegi panjang dan segitiga. Saya kemudian meminta mereka menggambarkan dibuku mereka, sambil kami mengeja bersama bagaimana alfabetnya masing-masing bentuk. Tanpa saya sadari metode ini sudah membawa saya kepada dua pelajaran, matematika dan Bahasa Indonesia dengan bonus lain kami semua merasa senang hari ini.

Sesi terakhir belajar bersama kelas satu ditutup dengan membuat bentuk apa saja dari lilin, mereka boleh berkreasi apapun, dan ajaibnya banyak bentuk lucu disana, dari kue lebaran, bunga matahari, penghapus pensil, tikus sedang main bola, cacing, hingga kumpulan batu-batu. Anak-anak itu memang luar biasa ya, kita tidak akan pernah tau hingga kita memberikan kesempatan untuk memacunya.

Ketika kita mengajar, itu berarti kita sedang berlajar….dan salut saya buat semua guru kelas satu yang mampu mengelola kesabarannya di seluruh Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: