Menyapa Kalian

Sekarang aku disini, di Sulawesi, di ujung dekat pesisir…menjadi gadis pantai dengan cuaca terik menyengat setiap hari (ha..kecuali hujan si ya), sebagai bagian hidup untuk terus berbagi..lebih tepatnya, semakin hari aku semakin belajar dari banyak kesederhanaan dan bagaimana banyak perpektif tumbuh disini. Allah memberikan kesempatan untukku belajar, memahami makna, dan entah dimasa depan seperti apa….jalan ini adalah proses pembelajaran menuju kesana bukan..?!!, bagaimana dengan kalian sobat… semakin menyadari bahwa pertemuan, kehilangan dan banyak peristiwa di dalam hidup kita itu adalah proses mendewasakan jika dimaknai ya (haa…lagi melankolis melow malam-malam ni….)

Hampir dua bulan aku disini, dan hampir empat bulan aku meninggalkan pekerjaan lamaku untuk ini…untuk melihat tingkah dan pola anak-anak ku, untuk dipanggil “enci”  bagi puluhan anak. Dan rasanya sudah selama itukah aku tidak menyapa kalian dengan tulisan geje…. kangen natural, apa adanya dan berekpresi bebas…ha..mulai ngelantur…

Aku ingin teriak, kadang kala…. tapi dunia kecil dan senyum mesra mereka ketika berkata“enci…enci….”… Ketika setiap pagi mereka menarikku ke kelas, lalu dengan caranya mencari ulah agar di perhatikan, membuatku semakin rindu..rindu, dan tak sabar menunggu pagi.

Aku bisa saja mulai pesimis…Ah tidak, kebahagiaan menunggu senja, berjalan ke mesjid, melewati sawah berlatarkan pegunungan dan sapi-sapi lepas di jalanan, lalu berbau aroma pantai…Pemandaangan yang sempurna menurutku, apalagi ditemani beberapa muridku dengan banyak pertanyaan mereka yang menggoda. Kami sholat bersama, mengaji dengan sound di dengar satu dusun, dilanjutkan dengan Isya. Pulangnya, Jika langit sedang cerah, aku akan menunjuk planet Jupiter di langit. Satu-satunya benda langit yang kukenali namanya selain bulan. Itu juga dapat private singkat dari temanku yang astronomi. Ucan kadang bilang…enci, kenapa hanya planet jupiter yang enci tahu..haa…mau bagaimana lagi, jadi guru memang harus belajar, dan aku sering kewalahan dengan banyak pertanyaan cerdas soal perbintangan dari Ucan… (karena memang aku bego soal hal ini…haaa…). Dulu banyak doa pernah ku minta, Ya Allah, aku sangat ingin dekat dengan mesjid, aku mau lihat bulan di jendela berbeda, aku mau rumahku dekat pantai, aku ingin lihat pelangi di pelosok negeri (kok beberapa doaku agak kekanak-kanakan ya, tapi Allah itu ya)….dan Yup….pada akhirnya, di desa ini…mesjid adalah tempat termewah untukku…Bukan soal bagus atau tidak bangunannya, tapi adalah Me time sederhana aku dan Tuhanku…Mengosongkan hati memenuhkan energi. Seperti candu, lagi…dan lagi…tidak sabar aku menunggu senja untuk beranjak pergi kesana…

Akupun ingin marah dan mencaci, lalu hati kecil kemudian bersuara… cukup ungkapkan kepada orang yang kamu percaya sekali, setelah itu beranjaklah pergi… Jadi sobatku sayang…ada edisi aku katarsis emosi itu mohon dimaafkan…dan ingatkanlah aku atas banyak hal yang luar biasa dari hari ke hari menungguku…. Bukankah energi yang kita habiskan untuk marah dan melakukan sesuatu itu sama…jadi mari  kita lakukan. Seperti dulu dan sekarang, tetap saja Qoute favorite ku “ realistis adalah melakukan yang  terbaik di titik dimana kita berada” (sang pemimpi 254 kan bude,,,).

Kalian tahu sobat ku sayang….Bahkan di desa ini, menawarkanku aroma buku-buku yang harus kurapikan, dan perpustkakaan yang harus kuhidupkan kembali…Jadi ingat dulu, merapikan dan menyampul buku di dunia pelangi adalah katarsis ampuh emosi dan tempat kita berkumpul bersama ya….. Dunia pelangi mimpi bersama kita masih selalu dan akan selalu luar biasakan….Kadang dalam kesendirian ku diperpustakaan, aku berfikir, Allah itu apa gak mau aku jauh-jauh dari Buku ya…diatara sekolah teman-temanku sepenempatan, mungkin sekolahkulah  yang ada perpustakaan, dan tentu saja menjadi PR agar buku-buku itu bisa terbaca oleh anak-anak. Membaca dan menulis adalah salah satu kebahagiaan dari banyak kebahagiaan disini.

Ada sepasang kakek nenek yang mengajarkanku kebersamaan dan cinta yang tulus hingga usia senja mereka, ada si kecil yani, indi, rahmi, lala, yang mengajarkanku arti kerja keras dari aktivitas mereka berkeliling kampung untuk berjualan. Riyanti yang setiap pagi menenteng ikan “meneriakan…bale..bale…(ikan)”, untuk membantu ibunya, anakku Aco yang pagi membantu mengangkut pasir, siang sekolah, dan malam mengaji yang menamparku, amanah waktu yang diberikan kepadaku apakah sudah kumanfaatkan dengan baik. Bukan aku yang mengajar mereka, mereka…..jauh lebih dahsyat memberi tahu kehidupan kepadaku.

Aku memang marah dengan kekerasan, dan  aku tidak suka jika agresivitas seolah menjadi selimut dari sistem pendidikan. Tapi bukankah kita tidak bisa langsung merubah dunia….yang kita bisa lakukan hanyalah membuatkanya lebih baik. Seorang bapak pernah berkata kepadaku…Nak, jadikanlah dirimu bermanfaat bagi orang  lain, dan dengan keadaanmu orang lain semakin bermanfaat. Lalu masih terngiang-ngiang, kata lanjutan bahwa walau sederhana, tetaplah konsisten, mulailah dari diri sendiri dan jadilah contoh…kadang-kadang semua terlesaikan dengan contoh…Tidak perlu petuah, apalagi doktrinasi….Mungkin akan bergerak lambat, tapi mulailah dengan ketulusan.. Banyak refleksi yang kemudian meredamkan emosi dan membuat hatiku ceria kembali (haaa…..aslinya si, jatuh bangun juga).

Well, bagaimana kabar kalian sobatku sayang…. Merindukan bermain biang lala dan tertawa lepas bersama, naik sepeda mengitari kota Yogya hingga larut malam, atau makan duren dengan aku yang ngomong sendiri di depan UNY sana. Tersenyum aku mengingat anak-anak YAB dengan surat sederhana “ I Love u Ibu yanti”, memandang foto merapi kita yang beriman dan budiman, dan tertawa geli dengan perjalanan Soroloyo melewati jalan yang sebegitunya hanya untuk tidur di parkiran Motor. Bakso bakar atau Alun-alun menunggu anak jalanan, obrolan lama saling menasehari di mobilmu sis, sporadisnya menjadi relawan dulu, atau ngeteng gila tapi beriman yang sampai kakek nenek tetap akan jadi cerita….Atau rumah pelangi kita, tempat sederhana sesederhananya hidup, bahkan dibilang kandang kan, rindu sok super hero kebanjiran atau kasur angin yang dibawa naik sepeda…Banyak cerita tersimpan manis di blog pribadiku ya…Malang dengan segala pencariannya, Yogya dengan segala jawabannya, Kalimantan dengan banyak aplikasinya….lalu disini, aku semakin memaknai bahwa kebahagiaan itu begitu sederhana…Sekali lagi…Allah itu ya….:)

Allah itu memang tahu apa yang kita butuhkan ya….

Dan sekali lagi….apapun, Alhamdulillah…semoga, dengan cara kita masing-masing masih tetap bisa saling mengajari dan mengingakan.

Love U…….

Yuks menikmati setiap detik yang sangat berarti

Banggai, Sulawesi….

23 Desember 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: