Banggai Yang Berproses dan Berninamika

 

 Apakah kita sudah satu frame dan seiring dalam berjalan? (Ika)

Di dunia ini, tidak ada yang langsung cocok, yang ada adalah proses saling mencocokkan (yanti)

Kita berbeda tapi kita satu tujuan, karenanya kita bersama dan saling memberi warna (Auliya)

Secara organis, kedekatan itu akan terus muncul ketika kita terus bekerja sama (Masyhur)

Ketika aku merasa dekat, mungkin terlihat kejam dalam memberikan masukan, tetapi aku rasa itu untuk yang terbaik (Lilli)

Makan, Nongkrong bareng, dan Menghabiskan Malam bersama adalah cara untuk membuat kita lebih dekat (Luqman)

Berjalan bersama memang membutuhkan kesabaran, tetapi akan lebih indah pada akhirnya. Sendiri itu berproses, apalagi jika kami-Tim Banggai ditakdirkan Tuhan satu kelompok dan berusaha berbuat terbaik di desa kami masing-masing. Lilli, Ika, Luqman, Masyhur, Aulia dan Yanti, kumpulan manusia dengan uniknya karakter masing-masing, yang dalam prosesnya tidak berniat saling menyamakan, tetapi bagaimana menemukan titik toleransi untuk sama-masa mencocokkan diri. Banggai, sebuah tempat yang akan menjadi cerita bagi kami selama 14 bulan ke depan.

Berproses itulah yang kami lakukan….Saat banyak PM lain mengatakan “Banggai adalah perpaduan yang pas”, ada dokter, apoteker, psikolog, astronom, komunikasi, dan aktivitis atau enterpreuner masyarakat. Bagi Banggai, tembok tebal yang tak terlihat pelan-pelan harus diruntuhkan, perspektif ilmu yang berbeda menjadi celah untuk saling belajar, tingginya ego dan dominasi harus dibumikan, proses kenyamanan harus beranjak dari logika menjadi hati, dan proses “ aku” akan berganti menjadi “Kita” dengan frame saling melengkapi dan menyayangi. Sederhana dalam bentuk kata, tapi mungkin jatuh bangun dalam perjalanan perilaku, sebuah makna yang mau tidak mau menjadi PR kita bersama bukan???

Aku orangnya suka lebih santai tetapi selesai?, kenapa kita harus sering kumpul dan ngobrol si?, bagaimana kalau hubungan kerjanya profesional saja?, ah….aku tidak bisa jika bekerja tidak pakai hati!!!, kadang-kadang kita memang berdebat panjang untuk kebersamaan bukan hanya sekedar mencari aman, aku itu orangnya memang keras seperti itu, aku gemes kamu tidak mengekpresikan perasaanmu, aku gak nyaman sama kamu, ngobrol sama dia seperti ada tembok, mau gimana ya.. aku memang orangnya tek-tek dan pengen cepat beres, aku gak mau kalau kita hanya sekedar ngerjain tugas, bisa gak hubungan kita layaknya sahabat yang bisa saling berbagi di penempatan, aku sebenarnya bingung harus menempatkan diri bagaimana, aku lebih mengikuti alur walaupun sebenarnya itu bukan diriku seutuhnya. Oh, banyak sekali kata aku di dalam kosa kata pembicaraan kita. Sebuah refleksi diri ingin dimengerti orang lain, tetapi juga PR bersama bagaimana kita mencari titik tengah agar segala kepentingan bisa terakomodasi.

Luqman berkata, “aku punya cara untuk menyatukan kelompok” dengan makan, kumpul bersama, atau menghabiskan waktu dengan bermalam bareng. Apakah sebagai “Kita” sudah bisa menerima itu. Lilli agak sulit untuk berkumpul di luar jam tidur, bisakah kita menyesuaikannya? Bagaimana dengan Ika atau Aulia yang kadang keteteran dengan barang, bisakah kita saling mengingatkan dengan bijaksana?, Lalu Yanti yang kadang ngeyel soal kesehatan, bolehkah pada akhirnya kita saling menjaga, Atau Masyhur dengan ekpresi flat dibanyak tempat, bisakah kita saling melengkapi?

Sang pengikut alur vs fleksibel, si ekpresif vs si muka datar, Frame eksakta vs sosial, persoalan sederhana vs konsep luar biasa, terencana vs nekad bertanggung jawab, atau tipe dateliner vs time manajemen. Ah, Banggai…bukankah tim kita benar-benar saling melengkapi, dan tambal sulam yang efektif sebagai modal kebersamaan kita untuk berbagi untuk negeri. Lalu kemudian, bagaimana cara kita menjembatani?

Jadi di titik apa kita sekarang? Dari serpihan puzzle kekuatan dan kelebihan kita, ada proses yang kemudian harus dipadukan bukan…Kesediaan untuk iklas menerima masing-masing individu, bukan dengan standar pribadi atas ego tetapi sekali lagi bagaimana kita bisa mengakomodasi semua untuk saling bersinergi atas tujuan besar kita merangkai warna-warni untuk anak kita.

Banggai… akan selalu bangga berBanggai

Purwakarta, 30 Oktober 2012

Fase dimana kami masih menyusun rapi puzle yang berserakkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: