Semoga Anak ini….. akhirnya bisa bermimpi dan berjuang

Di Sabtu ini saya belajar

Kurang lebih jam 9 pagi saya tiba di rumah itu. Rumah yang terletak di gang kecil sempit yang hanya bisa dilalui sama motor atau sepeda. Padang ilalang tinggi berwarna hijau disisi kanan saya, dan tembok besar pembatas rumah di kiri saya. Teman saya memberikan klue sangat jelas sehingga saya yang spasialnya jelek ini bisa menemukan rumah ini “ rumah yang paling jelek ka, rumah pertama dari gang”…dan saya berhenti persis di depan rumah tersebut. Saya clingak-clinguk dan akhirnya keluarlah anak ini. Anak yang pagi ini akan kami masukan ke pesantren karena kebaikan hati seorang dontor yang iba dengan latar belakang si anak dan keluarga.

Saya duduk di depan pintu rumahnya, pintu yang terbuat dari kayu reok yang sudah amat tua. Rumah ini cukup mahal menurut saya, 350 ribu perbulan, dengan dapur kecil yang menyatu dengan kamar mandi, satu ruang kecil dan kamar mini. Tidak ada perabotan layak di rumah ini, mungkin hanya peralatan makan ala kadarnya. Sebuah rumah yang dihuni oleh 5 orang dengan penghasilan ala kadarnya dan kehidupan yang seolah apatis dari hari kehari.  Anak ini terlihat enggan meninggalkan rumah, beberapa kali dia merayu saya untuk nanti saja pergi ke pesantrennya “minggu aja ya bu…atau sore aja habis les”, katanya yang sekarang sudah berusia 14 tahun ini. Beberapa kali saya harus bilang kepada sang anak, kalau bukan dia yang bantu orang tuanya siapa lagi, dan itu semua bisa dilakukan kalau dia pinter, semangat sekolah, biar gampang cari duitnya buat orang tuanya.

“Saya gak punya mukena mbak, kata sang ibu, dulu dijual…ada mukena ndak”, kontrakan ini “kemahalan, masih kurang seratus ribu rupiah” adalah beberapa obrolan kecil kami disela menunggu sang anak mandi. Baju-baju belum satupun dibereskan, dan saya akhirnya satu persatu melipat bajunya, memisahkan yang layak dipakai dan mengumpulkannya menjadi satu. Kami tidak punya tas, sehingga akhirnya memasukan ke kresek, lalu karena banyak akhirnya masuk kedalam kardus. Hati saya terus membantin..”beginikah kemiskinan, pagi sabtu yang cukup menampar saya, saat saya begitu dekat dengan mereka namun belum bisa melakukan apa-apa”. Kardus itu cukup besar untuk diangkat anak ini sendirian, dia masih terlihat malas beranjak dari rumah. Sang ibu mengunci rumah dengan mengikat pintu mengunakan kain. Sambil menggendong adek yang paling kecil sang ibu berjalan mendampingi saya dan sang anak yang bersama-sama mengangkat kardus berisi pakaian.

Di depan gang, teman saya ninuk sudah menunggu dengan taksinya, Ibu dengan gendongan si kecil dan anak ini kemudian terus berjalan melewati taksi yang sempat membuat saya dan ninuk bingung, ternyata mereka ke pangkalan ojek dan pamitan dengan sang bapak. Saya sedikit membantu menjelaskan bagaimana nanti proses di pesantren dengan sang bapak. Lalu kemudian berangkatlah kami menuju pesantren yang jaraknya sekitar 30 menit dari kota.

Kami naik taksi menuju pesantren, saya naik motor sendiri dan ninuk bersama anak juga ibunya berada di dalam taksi. Di sepanjang perjalanan saya berfikir, anak-anak ini bukankah mereka seharusnya mendapatkan pendidikan yang layak, bagaimana soal anak-anak di pelosok negeri, sedangkan di perkotaan saja, berfikir untuk bermimpipun mereka tidak berani, bahkan semangat untuk berjuangpun seolah tertutupi oleh kepasrahan akan nasib. Lalu saya terus bertanya, dimana peran saya..untuk sedikit saja berjuang untuk negeri.

Setibanya di pesantren putri, satu persatu kami menurunkan barang dari taxsi, ternyata ninuk sudah menyiapkan kasur, beberapa baju, dan perlengkapan sederhana untuk anak ini di pesantren. Anak ini masih terlihat bingung dengan lingkungan yang sama sekali asing baginya. Ini pertama kalinya lagi setelah sekian tahun dia menyentuh sekolah. Anak-anak di pesantren ini kemudian bahu membahu membantu mengangkat barang bawaan ke kamar mereka, satu kamar mungkin terdiri dari 8 sampai sepuluh anak. Dari pagi hingga malam akan ada kegiatan rutin bagi mereka yang menjadi murid sekolah ini. Pesantren ini terdiri dari tingkat SMP dan SMA, jadi ketika mereka keluar mereka bisa langsung mendftar kuliah. Jika lancar, donator yang membantu anak ini ingin membiayai hingga perguruan tinggi. Semoga saja, anak ini bisa bertahan dan pelan-pelan menemukan apa yang ingin dia perjuangkan dan capai di masa depan..

Hari ini saya terus belajar dan menemukan siapa saya dan apa yang ingin dilakukan…dan semoga, baik di depan, di belakang ataupun disamping hamba ya Rabb, selalu ada berkah mu…semoga

Alhamdulillah

Sambil bertanya…jika di pelosok negeri, hal apa yang mungkin menunggu hamba ya Rabb

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: