Membalas Surat Dari Dunia Pelangi-Yogyakarta

Saya tiba di Yab sekitar jam 16.05 telat sekitar lima menit dari jadwal, saya mikir gak papa telat dikit karena biasanya mereka masih menyelesaikan pelajaran bahasa inggris sebelum baca tulis.  saya kemudian disambut teriakan anak-anak yang bermain di halaman rumah (well, seperti biasa mereka memang berteriak manja kepada semua guru ya…) dan mereka semi ngomel-ngomel kenapa belum ada guru yang datang (Sodara pengajar..kemanakah gerangan kalian..). Rudy dan Andy lansung bertanya dengan sigap…”ibu…mana balasan surat kami”, saya yang baru menurunkan standar motor saya sudah diberondong pertanyaan soal surat menyurat dari Yogyakarta yang saya janjikan dari minggu kemaren. Di beranda rumah tempat biasanya kami belajar anak-anak sudah siap dengan meja masing-masing.  Saya tidak melihat Najwa dengan seremonial menangisnya, juga beberapa anak terlihat tidak hadir seperti Shifa 1 dan 2, si pemalu Atun, dan yang selalu bikin heboh si Dika.

Saya menceritakan bahwa saya membawa balasan surat yang mereka titipkan ke saya beberapa minggu lalu, spontan mereka beranjak dari tempat duduknya dan menggelilingi saya..” saya mana bu, saya mana…” begitulah kira-kira teriakan mereka kepada saya. Dan saya pun membagikan kepada mereka satu persatu surat yang amplopnya sudah saya perbaharui karena sudah usang dan terlipat-lipat antara tas ransel saya yang penuh waktu itu.

Satu persatu anak-anak dapat surat kecuali Gea yang waktu itu tidak ada, Nova dan Sheila yang memang belum bisa menulis menulis dengan baik. Si kecil Gina mendapat surat dari mbak Shinta dari Yogya karena usahanya menulis dengan metode ditunjukan satu persatu hurup untuk digoreskan lewat tangan mungilnya. Semua kemudian membuka surat mereka masing-masing, di dalamnya sudah ada gelang tali dari Yogya. Dan Yup, Mulailah kehebohan terjadi saudara-saudara. Gina tidak mengerti sama sekali apa maksud tulisan yang didapatnya dan menarik baju saya berkali-kali (melihat polosnya ekpresinya, beneran pengen saya peluk rasanya), Putri meminta gelangnya dituker (padahal bentuknya sama coba), Robi protes kenapa sang pembalas suratnya minta foto segala (haaa…. saya sulit menjawab kalau ini), Icha bertanya Ana itu perempuan atau laki-laki, Rudy bilang “ibu…sulis itu umurnya berapa si,kenapa suka bintang” (hee…mbak sulis tanggung jawab), Dini mengatakan kenapa yang membalas suratnya anak TK (hee…Rara harus kenalan langsung sama mbak dini di Kalimantan ya…), adit dengan polosnya berkata “ ibu…kenapa namanya sakijo” (wah…saya juga kurang tau nak…), lalu Nova dan Sheila protes kenapa mereka tidak dapat surat yang sama kayak yang lain sambil cemberut (bisa membayangkan kan kawan-kawan bagaimana wajah nova yang bunder itu kalau cemberut).

Saya membagikan satu persatu kertas surat kepada mereka dan membiarkan mereka mimilih mau dibalas lagi apa tidak. Robi bilang, “ saya gak mau balas ah bu, soalnya perempuan”. Rudy dengan semangat bilang “ saya mau bikin puisi ya bu…sulis ini sama kaya aku, suka puisi…”. Dini kemudian bilang “ibu, aku harus nulis apa buat rara”. Putri yang masih bingung sama hurup meminta saya mengejakan satu persatu hurufnya, Gina masih sangat penasaran sama isi suratnya, Nova lalu berteriak “ibu ini..kenapa Gina terus..aku mana”, ada sesi dimana anak-anak terus berteriak ibu…ibu..dan ibu…. (haaa..sodara-sodara pengajar yang biasanya agak banyak, hari ini saya jadi merindukan kalian sekali…heee).  Dan Opss…Andy, suratnya sepertinya lupa terbalas dan dia nampak sangat kecewa. Beberapa kali saya bilang maaf dan dia dengan kejamnya meminta saya mengambilkan suratnya ke rumah lalu balik ke YAB (Bruntung jaya-cempaka, lumayan lah yak…). Lalu saya bilang suratnya dibalas sama Kak Hanafi dari Dunia pelangi, kirim surat aja lagi sama dia ya…dia yang awalnya menolak akhirnya meminta dua lembar kertas kepada saya, dan minta di ceritakan bagaimana kak Hanafi itu (poo…yang serius lho balas surat Andy…!!!!)

Senang sekali melihat ekpresi mereka menulis surat balasan hari ini. Sheila yang biasanya susah diajak untuk belajar menulis tiba-tiba ingin di ejakan satu persatu baik huruf di kertasnya. Nova yang mood belajarnya lebih sedikit dari pada becandanya meminta saya menuliskan kata-kata untuk disalinnya kembali “ saya suka ayam goreng” (ha….gak jauh-jauh dari makan…btw, aryo…kok nova rodo mirip sama kamu yak..heee).  Yang paling anteng adalah Usman, Rudy, dan Adit…saya tidak tau apa yang mereka tulis, yang jelas merka asik dengan meja, kertas, pensil dan surat mereka.

Gea yang belum dapat surat, akhirnya saya berikan surat dari Nafi yang belum punya Tuannya. Gea senang sekali menulis surat, dan dia memasukan dua lembar kertas ke amplop lalu menutupnya dengan rapat. Saya kemudian bisa membacakan surat buat Gina… satu persatu saya ejakan kepada anak ini..” mbak sinta ini perawat…Gina cita-citanya apa dan mbak Shinta minta fotonya lho”dijawab Gina dengan polos “ jadi Guru bu..aku gak punya foto..ibu aja yang kasih.” lalu saya bertanya kepadanya, perawat itu apa hayo…”bidan ya bu….” he..saya mangguk-mangguk setuju saja mengingat anak yang lain memanggil saya. Saya kemudian mengatakan lagi kepada Gina, nanti kalau Gina sudah bisa baca suratnya nanti dibalas ya…. dan dengan polos lagi Gina bertanya “ dibalas itu gimana bu…” dan bercoletehlah saya tetang tukang post dan suratnya. Gina kemudian memasukan dengan rapi surat dari mbak Shinta ke Amplopnya lalu menyelipkannya kedalam tas pink yang biasa dibawanya (mbak Shinta….Gina belum bisa balas suratnya sekarang ya…).

Andy terus bertanya kak Hanafi itu sekolah apa kerja, trus dia ngapain aja di Yogyakarta, ada yang nyeletuk “ ibu..katanya di yogyakara…tapi kenapa ini yogya” (hee….sama nak…), lalu beberapa anak protes kenapa dadunk itu perempuan (heeee…mbak dadunk, lain kali harus mencantumkan nama aslinya ya..). . Dini bilang, “ ibu….aku kasih nasehat buat dek rara…gak papa ya”  (pasti dek rara di Yogya senang ya…). Lalu Rudy saking ingin konsentrasinya memindahkan mejanya dekat warung biar gak diganggu keributan anak-anak lain (eh…sodara, Rudy ini kecerdasan bahasanya okey sekali, disalurkan apa yuk…)

Satu persatu surat mereka selesai, dan mereka meminta amplop kepada saya. Saya ingin surat itu spesial antara dia dan sahabat penanya, jadi saya bilang kalau ibu gak akan baca surat mereka, dan di lem yang rapat surat mereka ya…. Anak-anak inipun menuliskan nama mereka dan alamat didepan amplop (biar serius seperti ke pak pos..he). Belum lagi selesai hari ini, diantara mereka sudah bertanya..kapan suratnya dibalas ibu….

Wahh…setiap sesi mengajar pasti punya cerita yang berbeda ya…seperti cerita Aryo dengan relaksasinya atau hebohnya kelas seni dengan maha karya mereka. Hari ini saya merasa benar-benar menjadi fokus perhatian lho (hee…secara ya, kalau banyak pengajar mereka biasa melupakan yang galak sama mereka..), Bagaimana cerita kalian para pengajar lain???. Pasti menyegarkan kan ya, selepas ngadapin dosen galak, tugas menumpuk, perusahaan cuman mengejar laba, ketemu manusia belajar bahasa planet di hutan, ngadapin mahasiswa malas, atau lagi galau lulus apa gak SMPTN, kemudian mengambil jeda sejenak untuk bertemu dengan anak-anak unik ini, dengan segala karakteristik dan kehebohannya. Bagaimana kita tidak semakin sayang bukan….(eitss..sayang, tapi tidak memanjakan… hopely ya…). hari ini juga ada berita bagus kawan-kawan, Andy juara 3 dikelasnya, Putri ranking 4 lho (gak nyangka ya), Adit yang awal-awal agak semaunya, hari ini tadi selesai paling akhir dan dengan sopan membereskan meja yang tersisa setelah belajar.  Dan  Robi yang saya masih bingung kronologis keluarganya, katanya tahun ini sekolah kembali walaupun ngulang dari kelas 3.

Dan untuk teman-teman di Yogya, Surat mereka jangan lupa dibalas ya…., mereka sangat semangat mendengar ada seorang sahabat dari jauh yang bisa saling berbagi sama mereka. Saya tidak tahu apa saja yang mereka tulis, tetapi melihat keseriusan mereka sepertinya mereka beneran ingin menjalin pesabahatan dengan kalian yang menginjak pulau berbeda namun masih sama “ Indonesia”

Jadi Yuk…kita seriusin sahabat pena kembali…biar anak-anak di lingkungan kita tidak hanya tercemari oleh virus face book dan mainan playstation yang kadang seperti candu. Yuk menjembatani mereka untuk saling bercerita dan berbagi, untuk bersama-sama merangkai mimpi dan saling menyemangati….Semoga…. J

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: