Hari ini ya….Edisi Selalu Banyak Cerita dan Makna (Anak Berkebutuhan Khusus itu tetap Spesial Kok)

  Setelah satu minggu penuh berpetualang, saya akhirnya kembali kedunia nyata…bertemu dengan banyak klien kembali, dan menemui berbagai rupa…Hari ini, Allah mengajarkan saya lagi satu hal…. anak-anak dengan segudang ke unikannya…? apakah ini benar-benar saya…dan proses itu…atas banyak mimpi saya di pendidikan…satu persatu Allah mencicilnya dengan memberikan ilmu…

Total hari ini saya menangani 5 klien anak, 4 diantaranya adalah anak berkebutuhan khusus. Bagaimana rasanya menjadi orang tua mereka ya…pikir saya sepanjang kegiatan bersama kami hari ini. Sangat menguras tenaga saya, ketika satu persatu wajah anak-anak ini saya pegang, saya tepuk pundaknya, saya tatap matanya dan saya pegang tangannya hanya untuk mendapatkan bagaimana sebenarnya kapasitas kemampuan mereka.

Ada anak yang dilahirkan dengan kecendrungan Hiperaktif dan kecendrungan gangguan kekurangan konsentrasi. Klien saya pertama di pagi hari ini…berbadan gempal dengan wajah polos tanpa ambisi, hanya dia dan dunia sederhananya. Usianya hampir 13 tahun dan masih tersimpan wajah ceria tanpa prasangka apapun kepada dunia. Dia memegang jilbab saya, menatatap lingkungan, dan menepuk lembut wajah saya. Sayapun harus menarik badan gempalnya dari shofa panjang kami untuk duduk dan membuatnya fokus kepada saya. Berkali-kali saya memanggil namanya, memintanya menulis nama lengkap, tanggal lahir dan menggambarkan pohon rumah serta manusia.  Sekolah inklusi yang mendidiknya cukup mampu mengajarkan sang anak hingga mencapai kemajuan sejauh ini.  Anak ini menyukai sepak bola….Kata dia suka piala Eropa, dan menjawab seadanya prediksi sepak bola yang saya ajukan, dan beberapa detik saya merasa hopeless saya akan memegang wajahnya dengan kedua tangan saya mendekatkannya ke mata saya kemudian memintanya memberikan jawaban..Saya beberapa kali tertawa ketika ia menanyakan terbuat dari apa jilbab saya, dan kenapa saya tidak pakai dalaman kerudung. Bagaimanapun rumitnya saya memasuki dunia anak sederhana anak ini, tetapi saya merasa senang bisa mengenalnya. Mengingat kebutuhan khusus yang di deritanya, anak ini sepertinya akan selalu mempunyai pandangan anak kecil yang bersahaja dengan mata kecil dan tubuh besarnya berniat mengekplorasi dunia dengan caranya.

Anak kedua yang saya tangangi juga diadiagnosa hiperaktif dengan gangguan utamanya kecendrungan Autis, hanya saja tingkat keparahannya tidak separah anak pertama. Dia bercita-cita ingin menjadi artis dan musisi serta senang dengan hal-hal yang berbau musikal. Matanya jarang menatap saya dan cenderung menunduk ketika menjawab pertanyaan. Tapi sumpah, anak ini ganteng lho..Saya membayangkan seandainya dia beneran menjadi musisi. Sang ibu memperhatikan interaksi saya dan putranya, dan terlihat beberapa kali tersenyum manis ke anaknya. Sesaat saya pun melihat tatapan berharap bantuan sang anak kepada ibunya. Anak kedua ini jauh lebih mudah dibandingkan anak pertama, si gempal manis dengan mata sederhana. Kemampuan verbalnya cukup lumayan, walaupun pada akhirnya saya tetap menemukan angka di bawah rata-rata untuk tingkat kecerdasannya. Well, setiap anak memang spesial, di balik keterbatasan kapasitas intelektual, suatu saat dia pasti akan menemukan bakat apa yang bisa mengantarkan kesuksesan untuknya. Semoga….

            Saya sedikit bernafas lebih lega di anak ketiga, anak dengan kecendrungan lambat belajar saja saya menyebutnya, walaupun saya agak tertohok ketika orang tuanya menyebutnya sebagai anak yang malas..Entah ya, saya agak merasa itu bukan sebutan yang tepat dan cenderung menstigma seorang anak. Anak ini juga sekolah di sekolah yang berkebutuhan khusus.  Pembawaannya kalem dan sepertinya anak ini membutuhkan waktu agak lama untuk mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Walaupun terkesan lama, tapi dari ekpresinya saya tahu kalau kepalanya berputar-putar berfikir mencari jawaban dari pertanyaan yang berikan. Edisi paling lama menghabiskan waktu dengan anak ini, mungkin lebih dari satu jam dan hemat saya orang tua memang harus ektra sabar untuk mengarahkan sang anak agar bisa belajar dengan baik.  Di sekolahnya, anak ini bergabung dengan anak-anak berkebutuhan khusus, saya belum bisa meraba dengan pasti bagaimana dinamika psikologi anak-anak yang bersekolah terintegrasi dengan banyak kebutuhan spesial di dalamnya. Bagaimana empati mereka, apakah terjadi agresi, dan apakah benar justru hubungan sosial antara anak normal dan kebutuhan khusus akan terbangun dengan baik. Mungkin jawaban itu suatu saat akan saya temukan dan menjadi catatan sendiri dari sudut pandang keilmuan psikologi. Semoga Saja…

            Anak ke empat yang saya tes adalah anak tersulit hari ini. Kosentrasinya terhadap sesuatu amat rendah, cepat gusar, cepat beralih perhatian, dan saya harus mencari segala cara untuk membuatnya fokus terhadap saya. Kekuatan anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti hiperaktif dan autis dalam catatan saya hari ini adalah yang berhubungan sensori motorik, namun untuk penalaran, komunikasi, dan hal-hal verbal lainnya harus lebih di tingkatkan lagi. Saya akhirnya membuang banyak pertanyaan verbal untuk mereka dan lebih melakukan tes performance saja. Tidak usah dihitung pun IQ anak jelas dibawah rata-rata, hanya saja saya perlu mendapatkan angka untuk keperluan sekolah mereka. IQ yang rendah bukan berarti sepernuhnya mereka kemampuan intelektualnya terbatas, namun lebih pada gangguan kosentrasi yang di deritanya..Saya jadi bertanya-tanya sendiri, ada gak alat tes yang lebih toleran terhadap anak dengan kecendrungan gangguan seperti ini. Sepertinya suatu saat ahli-ahli psikologi harus merumuskan dengan tepat agar potensi dasar mereka bisa terukur dengan maksimal.

            Tenaga saya benar-benar terkuras habis untuk ke empat anak ini….dan untunglah anak terakhir yang saya tangani adalah anak normal (semacam hiburan tersendiri bagi saya, hee..) Whuaaaa…..walaupun pada dasarnya menyenangkan lebih mengenal mereka, tapi ternyata menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus, lebih dari sekedar ilmu…juga membutuhkan banyak kesabaran. Luar biasa para terapis anak-anak berkebutuhan khusus ini, guru-guru yang ada di SLB dan orang tua yang tetap optimis terhadap perkembangan anaknya walaupun penuh keterbatasan.

Ada pelangi yang berbeda di mata mereka, dan saya tetap melihat “saya” di mata mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: