Sisi Lain Karyawan Kereta

Saya duduk di nomor kursi 1 C, perjalanan kereta ekonomi AC menuju Madiun, kursi saya ini berdekatan dengan pintu kereta dan mini bar yang menjual minuman ringan hingga pop mie. Banyak aktiivitas di sekitar saya yang menemani perjalanan hampir lima jam saya. Sembarut senja sudah lewat dan berganti dengan gelap malam merangsang hawa kantuk saya yang mulai menguap. Dan aktivitas mereka membawa saya kepada suasana baru yang menyegarkan…kemudian saya bertanya, bagaimana rasanya menjadi mereka, duduk berjam-jam di kereta, melewati kota demi kota dengan seragam kerja yang sama, penanda bahwa mereka adalah petugas kereta, setiap hari betemu dengan banyak manusia yang hanya sekedar lewat entah dengan berbagai rupanya. Bagaimana rasaya jadi mereka yang hari ke hari melakukan yang sama, kemudian tertawa dan bersenda gurau bersama sesama.

Malam ini saya duduk bersama petugas kereta, tidak berbicara, hanya asik dengan laptop dan lagu saya, lagu Frank Silahatua yang berjudul Pancasila Rumah Kita, yah….mereka adalah bagian dari negeri saya, negeri yang berjudul pancasila dengan butir-butir penuh makna, yang setiap insannya sama rasa…yah…seperti kata sang penyanyi ini  “ inilah Indonesia..”

Beberapa karyawan di sekitar saya memasukan barang dagangan ke dus besar dan menyusunnya dengan rapi, menyimpannya ke belakang pintu dan membereskan yang tersisa, sinyal yang kemudian saya tangkap bahwa kereta akan segera tiba… mungkin mereka juga akan berhenti seperti saya, bertemu dengan keluarga lalu sedikit melepas penat dengan berbagi cerita…atau bisa jadi mereka tetap di kereta melanjutkan cerita dengan cara mereka…menyapa riuh berbagai rupa kota dan berjumpa lagi dengan banyak rupa, saya kemudian terus bertanya…bagaimana rasanya menjadi mereka..mereka yang dari hari-kehari terus hidup dari kereta ke kereta.

Seorang karyawan bersandar kepada rekannya, sambil tertawa jenaka mungkin mengekspresikan kita harus bahagia karena kereta akan segera tiba dan tugas telah selesai, di sisi utara saya persis seorang wanita berbaju sama sedang duduk lesu, Handpone ada di tangannya kemudian terus asik dengan dunianya, sesekali hanya bicara singkat kepada rekannya. Mungkin dia sedang merindukan entah siapa, dan seperti saya sangat ingin kereta tiba dengan segera.

Seorang karyawan di sisi saya akhirnya tergilitik juga bertanya…sedang apa dari tadi Mbak… apakah tidak pegal terus menatap layar dan entah mengetik apa “ dari yogya lho mbak kayak gitu” …Semua karyawan di sisi saya kemudian heboh dan bertanya..”.apa ada film mikcy mouse, angling darma atau kartun lainnya yang bisa kami liat mbak”, begitulah beberapa pertanyaan mereka… Kami kemudian tertawa bersama… kemudian ada yang bertanya…mbak penulis, pengarang novel, atau mau kirim cerita ke koran…Saya hanya tertawa ringan tanpa jawaban, dan bisa saja suatu saat  itu menjadi doa mereka.

Akhirnya saya menanggalkan headshet saya dan mulai berbicara dengan mereka, kemudian mendapat cerita dan jawaban dari sekian tanya saya saat memperhatikan mereka. “ kami itu kerjanya di kereta”setiap pagi, sesuai jadwal mereka mereka akan pulang pergi dari Madiun Yogyakarta untuk mengantarkan penumpang ke tujuannya. Saya memastikan, apakah hanya di dalam kereta, maksud saya adalah apakah mereka tidak jalan-jalan gitu…kan seru kalau memanfaatkan waktu untuk menilik kota ini. Jawabannya tidak sempat mbak… paling jedanya cuman 30 menit sampai keretanya jalan lagi, jadi dari pagi sampai malam kami cuman ada di kereta ini. Dua hari di kereta, dua hari libur (Alhamdulilah, cukup manusiawi menurut saya),

Mbak yang tadi bermain Hape kemudian sibuk dengan kertas-kertasnya, menghitung berapa penghasilan jualan di dalam kereta hari ini, kalkulator dan tampang serius tidak lepas dari pandangan matanya. Kereta malam ini sering sekali berhenti. Kata bapak yang mengajak saya ngobrol ini, karena biar tidak slip mbak…jadi harus ada satu yang mengalah, soalnya nanti bisa takbaran, dan yang mengalah tentu saja kereta ekonomi seperti yang kami tumpangi ini. Saya kemudian menceritakan kereta bisnis yang pernah saya naiki dan cepat sekali sampainya. Kemudian bapak ini menambahkan bahwa, iya..benar saja cepat, karena kereta bisnis itu hanya singgah di stasiun-stasiun besar dan jalannya di utamakan, jadi mesti saja cepat sampai.

Saya terus mengamati perilaku mereka, ada bapak yang memijat pundak temannya, kemudian sang kawan menyandarkan diri dipundak sang bapak. Bapak yang ada di sekitar saya kemudian ngobrol lagi dan bertanya asal muasal saya. Mulailah saya sedikit bercerita tentang Kalimantan dan tidak adanya kereta disana (hee…garing banget ya…). Kami kemudian membahas tentang makanan, biaya hidup, kehidupan sosial, pembagian shif kerja di kereta dan beberapa hal lainnya. Mungkin inilah cara sebagian dari petugas kereta, mengenal orang baru dan berbagi cerita yang kemudian menambah catatan pribadi saya bahwa setiap orang pasti butuh berbagi walau hanya sekedar cerita.

Pintu kereta di buka saat kereta berhenti lama, bapak-bapak ini kemudian duduk di depan pintu dan bercengkrama ceria, menjulurkan kaki hampir menyentuh tanah dan menghirup udara malam yang menyegarkan, kemudian mereka bergegas masuk ketika kereta di rel kereta. Terbur-buru masuk sambil tertawa, saya melihat inilah permainan kecil antara petugas kereta dan cara mereka menikmati detik dengan tetap bahagia.

Saya kemudian berfikir, luar biasa ya pekerjaan seorang masinis dan petugas kereta lainnya, membayangkan jika tidak ada mereka, entah bagaimana nasibnya jalur transportasi ini. Dari  hal sederhana, bisa-bisa kereta ini akan sangat kotor, atau bisa jadi jadwal kereta yang terkenal suka telat akan tambah telat bahkan dalam skala yang lebih besar bisa jadi akan banyak penumpang yang tidak terantarkan ke kota tujuannya. Atas jasa-jasa mereka yang terselubung kadang kita lupa untuk sedikit saja berterimakasih kepada mereka.

Di dalam kereta menuju madiun ini saya kemudian berfikir bahwa setiap orang itu mempunyai peran masing-masing, dan tanpa sadar peran kita itu terhubung dengan proses kemudahan atau kesulitan orang lain. Ketika kita tidak melakukan yang terbaik di peran kita, bisa saja bukan kita yang mendapat masalah, tetapi justru orang-orang sekitar kita. Saya membayangan, seandainya petugas kereta ini tidak memberi tahu stasiun apa sekarang yang mereka singgahi, mungkin akan banyak yang kelewatan atau justru salah berhenti stasiun, seandainya petugas kereta ini tidak membersihkan sampah di sekitar tempat duduk kita pasti diantara kita akan banyak yang kesal dan mungkin mencela petugas kereta. Hal-hal sederhana di sekitar kita yang jarang kita hargai padahal kenyataannya perilaku mereka justru jauh lebih bernilai dan banyak memudahkan urusan kita.

Kereta Madiun Jaya

21 Juni 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: