Cerita Pagi di Sekolah Bawang

Kami hari ini pergi ke sekolah bawang lagi dan janjian sama Pak Zaini. Katanya jam 8 beliau sudah ada disana. Tina, Anet, April, Sony dan temannya, Iva dan saya akhirnya janjian untuk ketemuan di Pasar. Pasar masih agak sepi ketika kami datang, belum banyak aktivias yang padat dan keramaian orang. Seperti biasa kami harus melewati tumpukan karung, penjual kue, dan gang sempit sambil permisi-permisi untuk sampai sekolah ini. Dari jauh kami sudah melihat pak Zaini menurunkan bangku anak-anak dari meja. Hanya beberapa orang anak saja yang baru datang, di luar kelas masih banyak orang yang tidur ngemper di lantai dengan sarung seadanya.

Kami  kemudian ke ruang sebelah dan duduk disana. Hari jum’at adalah pelajaran agama, Pak zaini kemudian mengatakan pamit sebentar ke bawah (pasar) untuk mencari anak-anak yang belum masuk kelas. Selama kami menunggu pak Zaini, ada beberapa anak yang datang kemudian, ada yang pakai sepeda dengan mata kaya habis bangun tidur (sebenarnya saya masih agak bingung, apa anak ini membawa naik sepedanya dari bawah ke lantai atas…naik tangga gitu…he, nanti saya akan cari tahu jawabannya), ada juga yang terlihat segar seperti habis mandi. Ilmi si ketua kelas menyapu di depan kelas dan mengumpulkan sampah yang berserakan. Hari ini bau pesingnya ampun-ampunan, lebih dahsyat dari kunjungan kami sebelum-sebelumnya, dan sepertinya pak Zaini tersenyum melihat saya menutup hidung dengan jilbab saya.

Ada seorang anak  yang mengaku kelas 2 SD selalu mencari perhatian kami, melempar buku, mematikan lampu, mondar mandir, clingak-clinguk dan selalu tersenyum jahil. Dari Pak Zaini kemudian kami mengerti bahwa anak ini adalah korban dari kekerasan ayah tirinya yang merupakan preman yang ada di pasar ini. Dulu bahkan anggota tubuhnya di sundul rokok sama sang bapak, Pak Zaini kemudian menjelaskan bahwa anak ini sebenarnya memiliki kebutuhan khusus semacam hiperaktif kata beliau. Walaupun saya belum melihat sepenuhnya bahwa anak ini punya kecendrungan kesana, hanya saja yang jelas dia memang spesial karena beberapa perilakunya yang mencolok (untuk diagnosa, semoga kita bisa pahami nanti).  Melihat anak ini, dengan keceriaan tawanya, mungkin kita tidak akan pernah menyangka bagaimana sulitnya hidup di posisinya sekarang.  Pa Zaini kemudian bercerita cara beliau mendekati sang bapak agar tidak melakukan kekerasan lagi kepada sang anak. Beliau menjelaskan tentang konsep memberi. “ jadi, kalau mereka meminta (kadang kala ada yang minta uang rokok, dll) kita tidak memberi, tapi ketika mereka tidak meminta kita kemudian memberinya…itu adalah salah satu cara untuk mengakrabkan”. Pak Zaini kemudian berhasil dekat dengan bapak sang anak, lalu beliau sedikit bertanya kenapa si anak badannya ada bekas-bekas gatal (menyamarkan kata sundulan rokok), Pak Zaini kemudian bercerita kepada sang bapak soal HAM sambil pura-pura curhat kepada sang bapak bahwa sekarang ini sulit mendidik anak-anak “sekarang ada HAM ini pak, saya juga kurang mengerti apa itu maksudnya, pokoknya ada tetangga yang suka mukulin anaknya akhirnya di tangkap polisi, padahal kan apa urusan polisi pakai acara nangkap, toh anak sendiri” (begitulah kira-kira cara pak Zaini menasehati sang bapak…memberitahu tapi tidak menggurui, seolah menceritakan orang lain tetapi bermaksud mengingatkan sang bapak). Pak Zaini kemudian menjelaskan bahwa untuk berbicara kepada orang-orang seperti ini, kita membutuhkan cara tersendiri, gak bisa main langsung nasehat, bisa-bisa bakalan dimusuhi. Well, saya rasa saya dapat pointnya.

Mungkin banyak hal yang bisa kami dapat dari obrolan 30 menit bersama  Pak Zaini, masing-masing dari kami yang pagi ini berkunjung ke sekolah bawang pasti punya sensasi yang berbeda (ya kan tin, anet, april, sony, iva, dan sapa lagi yak satunya..ha), karena melihat bagaimana cara beliau berjuang untuk pendidikan benar-benar menginspirasi kaum muda seperti kami. Dalam hidupnya pak Zaini tidak pernah berniat menginspirasi hemat saya, tetapi keinginan beliau untuk melayani sesama utamanya kaum papa yang membuat hidup beliau sangat berarti.

Cerita kami kemudian berlanjut dari seluk beluk sekolah bawang. Sekolah ini sudah 24 tahun (saya membantin..kemana ni pemerintah…24 tahun kondisi sekolahnya masih begini-begini saja, dan itupun di perbaiki atas bantuan seorang sahabat Pak Zaini yang peduli terhadap pendidikan). Sebelumnya beliau pernah bercerita, sekarang sekolah ini udah mendingan, dulu lantainya masih dari tanah dan banyak orang-orang pasar yang tidur di dalamnya. Bau pesing, kotoran, sampah sudah menjadi makanan sehari-hari anak-anak yang belajar disini. Sentimentan sama orang pasar, ribut sama preman bahkan bermasalah sama orang tua yang anaknya  belajar di sekolah Bawang adalah proses yang mewarnai perkembangan sekolah ini. Dulu bahkan sebelum belajar, guru-gurunya harus membangunkan orang-orang pasar yang tidur semaunya di dalam kelas atau setiap pagi membersihkan terlebih dahulu banyak kotoran sebelum memulai belajar. Pernah juga suatu ketika pak Zaini harus mendatangi sebuah lokasi dimana salah satu anak tinggal, dan lokasi itu adalah tempat porsitusi, lalu sempat dipikir “ mau sarapan” dan diatawari wanita di tempat itu.

 Orang tua dari anak-anak sekolah bawang beraneka ragam tentunya, ada yang minta-minta, penjual bawang, preman pasar, dan bahkan dulu ada yang PSK. Bagi orang tua yang mengganggap pendidikan itu tidak penting, waktu belajar di sekolah bawang hanya akan mengurangi pendapatan karena anak bisa bekerja di jalanan dan menghasilkan uang. Saya sendiri membayangkan bagaimana susahnya menyakinkan orang tua dengan pemikiran seperti ini. Orang tua dan anak-anak yang sudah terbiasa hidup hanya dari ke hari tanpa sempat berfikir bagaimana masa depan (jadi begitukah kemiskinan…pendidikan hanya untuk kaum yang berada, bukan mereka yang berlabel papa?)

Sekolah ini hanyalah salah satu fenomena mirisnya negeri ini…dimana anak dari kaum miskin tidak berani bermimpi dan anak kaum berada sulit melek sosial. Saya kemudian mengatakan bahwa mungkin kami tidak bisa bantu dengan uang pak, hanya dengan tenaga. Pak Zaini kemudian bercerita tentang seorang ibu yang berkerja sebagai tukang cuci pakaian yang menyumbang setengah kilo gram gula setiap pagi di pesantren. Mungkin kalau dipikir logika untuk kebutuhan sehari-hari saja terbatas, tetapi toh beliau masih mau berbagi untuk orang lain. Pak Zaini kemudian mengatakan banyak orang mampu di kota ini, tapi orang yang mau peduli itu yang sedikit. Saya suka sekali kata-kata Pak Zaini “untuk menjadi lilin bagi orang lain, sebelumnya kita juga harus menerangi diri sendiri”, maksud yang saya tangkap adalah kita bisa berbuat dan membantu sesama tapi tidak kehilangan cahaya kita, yang berarti berbuat di titik yang kita bisa walaupun mungkin bagi orang lain itu sangat sederhana.

            Lalu apa nikmatnya berbagi…bukankah letih memikirkan orang lain yang tidak ada hubungannya dengan kita… Apakah tidak jenuh menjadi pak Zaini yang selama berpuluh-puluh tahun mengabdikan dirinya untuk pendidikan dan sedikit saja membuat masa depan seseorang menjadi lebh baik, minimal tidak menjadi sampah masyarakat. Pak Zaini kemudian bercerita pengalamannya yang sederhana namun membuat beliau berkaca-kaca. Suatu ketika Pak Zaini naik angkot, dan supir angkot tidak mau dibayar, supir angkot kemudian bilang kalau dia adalah bekas muridnya di pasar lima-sekolah bawang “rasanya bahagia melihat mereka tidak jadi preman atau merugikan masyarakat”. Dari sudut mata beliau yang berair saya bisa melihat bagaimana nikmatnya berbagi untuk sesama. Lelah pasti, marah mungkin sering, jenuh dan ingin pergi pasti pernah terjadi…Hanya saja ada bentuk kebahagiaan tidak terbayarkan oleh segudang materi dan banyaknya harta, karena ketika seseorang menjadi lebih baik atas apa yang kita lakukan, itu adalah makna besar yang tak tergantikan. Anak-anak di sekolah bawang hanya sedikit cerita mirisnya pendidikan bangsa ini. Tapi dibalik banyak paradoks sebuah negeri akan selalu ada orang-orang seperti Pak Zaini, yang berjuang tidak kenal lelah dan mengabdikan dirinya untuk sesama. Untuk apa? Untuk terus peduli kepada mereka yang tak punya, sebagai wujud kecintaan kepada bangsa, untuk menjadi pribadi yang bermakna, dan bentuk ibadah kepada Tuhannya. Mungkin kita tidak bisa merubah dunia, tetapi paling tidak, di titik kita sekarang, kita bisa sedikit saja membuatnya lebih baik.

Yuks…terus berbagi..walau hanya sekedar informasi

Walau hanya koin yang seolah tak berarti

Walau hanya semangat yang mampu memompa diri

Atau hanya senyum setulus hati..

Berbagi itu sederhana kok 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: