Soal pendidikan dan keluarga…:)..Proses belajar seumur hidup

Memang selalu ada yang pertama…. dan kebahagiaan hari ini adalah lewat pekerjaan ini, saya lebih banyak bisa memahami manusia….

Fase saya sekarang telah beranjak rupanya…dari hanya sekedar mendengarkan menjadi memberikan saran secara profesional berdasarkan prinsip ilmu yang saya pegang..dan saya ini, sering sekali memasukan nilai-nilai yang menurut saya benar….(edisi masih berusaha belajar untuk netral)

Pagi ini…. Klien saya adalah sebuah keluarga…Ibu, ayah, dan anak perempuan mereka…terasa aneh sekali ketika saya yang jauh lebih muda dan tidak berpengalaman ini..tiba-tiba harus menggurui bagaimana proses mendidikan anak dengan baik dan benar (hikss…. merasa tertohok dengan nasehat saya sendiri…jadi yan, karena banyaknya masalah yang berseliuran di sekitarmu…kamu harus mengambil hikmah. Dan saya merasakan, menjadi orang tua itu berat ya….

Saya membuatnya tiga sesi…

Sesi pertama bersama orang tua…mata mereka benar-benar tertuju kepada saya…banyak hal yang kemudian kami bicarakan soal anak mereka dan keseluruhan ekpektasi anak kepada orang. Hari ini saya belajar bahwa kadang kala cara khawatir orang tua terhadap anaknya tidak dimengeri secara sempurna bagi sang anak….bahkan kadang diinterpretasi berlebihan dengan “kekangan”. Kadang kala juga kasih sayang orang tua terhadap anak justru membuat anak terlalu diproteksi dan membuat mereka tidak mandiri…yang jelas…. orang tua itu punya cara sendiri untuk mengekpresikan kasih sayangnya….Saya belajar bahwa orang tua itu sebenarnya selalu menginginkan yang terbaik bagi anaknya walaupun dengan cara yang egois bagi sang anak..

Ini pendapat pribadi saya :

Mendidik anak itu memang seperti main layang-layang, kadang harus ditarik kadang harus diulur, kadang harus di dekap kadang juga harus dilepas. Sahabat Nabi, Ali mengatakan bahwa ” didiklah anakku sesuai dengan jamannya, bukan sesuai dengan jamanmu, karena dia hidup dijamanmu”. Jadi menjadi orang tua itu adalah proses pembelajaran seumur hidup, karena dia akan belajar bagaimana mendidik titipan dariNya dengan sebaik-baiknya (semoga suatu saat saya bisa ya Rabb). Mengarahkan anak untuk mencapai prestasi setinggi-tingginya itu memang penting, tetapi yang tidak kalah amat penting adalah ” konsep keseimbangan dalam mendidik”. Tugas orang tua adalah tidak hanya membuat mereka memiliki skor dalam nilai matematika, tetapi juga memiliki nilai 10 dalam hal sosial dan moral. Untuk apa kita punya anak yang jenius luar biasa tetapi justru kemampuannya digunakan untuk mencelakakan orang lain…Konsepnya memang sederhana… tapi pada praktiknya yang luar biasa sulit makanya itu sekali lagi..menjadi orang tua adalah proses pembelajaran seumur hidup.

Sesi Kedua bersama sang anak

Saya menjelaskan kepada sang anak bahwa motivasi berprestasi dan keinginannya untuk maju sudah tidak perlu diragukan lagi…. secara kemampuan dan semua fasilitas yang dimilikinya…dia pasti bisa mencapai apapupun….hanya saja (saya memberi penenakan yang amat tegas pada aspek ini), kita hidup itu tidak sendiri…tetapi juga ada lingkungan sosial dan peran orang lain di dalam hidup. Saya menjelaskan kepadanya bahwa tugas perkembangan remaja itu tidak hanya melulu soal prestasi tetapi juga mulai membina hubungan yang baik dengan lingkungan, peka terhadap sosial, dan mulai menyakini nilai-nilai moral tertentu…jadi hidupnya seimbang. Tugas mu sekarang ada dua kata saya…pertama.. Temukan benar-benar apa yang kamu inginkan…. coba bayangkan apa yang kamu inginkan sepuluh tahun dari sekarang kemudian perlahan-lahan pribadimu akan menemukan langkah-langkah kongkrit untuk mencapainya. Dan tugasmu yang kedua…janganlah hidup sendiri walaupun kamu berada di keramaian… mulailah terbuka dengan lingkungan terutama orang-orang terdekatmu.. karena keterbukaan membuat kita saling memahami satu sama lain, dan meminimalkan prasangka…sehingga akan tumbuh kepercayaan.. Jadi orang tua pada akhirnya akan yakin sepenuhnya dengan kemampuan mu dan tidak ngatur-ngatur yang berlebihan.

Ini pendapat pribadi saya:
Anak yang hanya percaya pada kemampuannya, disatu sisi memang baik, tapi jika terlalu dan tidak terikat secara seimbang cengan lingkungan akan ada dua kemungkinan. Pertama, ketika dia berhasil di dalam hidupnya, terus berhasil seumur hidup…maka ia akan menjadi anak yang sombong dan memiliki ke akuan yang tinggi. Tapi tentu hidup pasti tidak selamanya berhasilkan…pasti ada kegagalan-kegagalan kecil atau bahkan besar yang kita alami. Anak yang cenderung lemah di sosial, ketika ia gagal akhirnya condong merasa sangat bersalah dengan dirinya dan menjadi tidak yakin dengan kemampuannya. Ia sulit untuk menerima kegagalan dan lebih lambat untuk beranjak, bahkan jika terus menerus tidak bisa menerima akan berdampak pada stres atau mungkin depresi.. Catatan yang ingin saya stabilo adalah “HIDUP itu harus seimbang”

Sesi ketiga bersama anak dan kedua orang tua

Saya mempersilahkan anak duduk di tengah di bangku panjang di ruangan kami. Catatan kecil saya adalah ayah memang cenderung dekat dengan anak perempuan dari pada ibunya. Saya hanya menyampaikan soal komunikasi yang berkualitas dan keterbukaan dari kedua belah pihak. Memahami anak sebagaimana pikirannya, dan memahami maksud orang tua sebagaimana pikiran mereka.. tidak ada prasangka dan menduga-duga sehingga saling mengekang secara tidak sadar ” dalam konteks hirarki hubungan anak dan orang tua”.  Suatu saat banyak proses dalam hidup anak akan kembali ke orang tua walaupun hanya sekedar meminta saran atau pendapat…dan keterbukaan keduanya tanpa saling menuntut akan memudahkan proses itu. Dan saya menekankan kepada mereka bertiga…. bahwa mereka ini amat beruntung…. kaya raya dan dari segi materi bisa memenuhi apapun yang bisa dibutuhkan oleh anak ” secara materi tentu saja” tinggal melungkan waktu sisi-sisi yang tidak terbayarkan dengan uang.

Ini pendapat pribadi saya:
Yang membahagiakan hati saya adalah sesi saat sang ayah membelai lembut rambut anaknya dengan senyum dan keterbukaan yang nampak dari sikap…. Sang ayah selalu percaya…bagaimanapun dan apapun pilihan anaknya…. Bertahun-tahun saya juga mencoba memahami bagaimana hubungan keluarga dan anak. Lab pertama saya adalah keluarga dimana saya berada…dan pribadi saya sekarang dengan banyak proses pencariannya berawal dari mula sederhana ” keluarga”.  Akhir-akhir ini saya belajar bahwa memahami orang lain tanpa ekpektasi…dan mendudukan mereka ” hanya sebagai manusia” akan membuat kita jauh lebih terbuka dengan orang lain, jauh lebih bisa menerima keunikan masing-masing, dan lebih bisa ingin berbuat banyak untuk kebaikan orang lain tanpa harapan yang berlebihan. Kadang-kadang ini yang kita lupakan dari hubungan orang tua dan anak.. hubungan itu terlanjur dikatakan sebagai ” hirarki” yang berarti ada jenjang yang akhirnya membuat semakin terpisah.. Prinsip saling menghormati, menyayangi, toleransi dan nilai-nilai positif lain bukankan berlaku secara universal…lalu kenapa dalam hubungan kita harus selalu menonjolkan hirarki ..dengan penekanan ” aku adalah orang tuamu, dan kamu itu anakku”. Hirarki memang dibutuhkan pada kondisi-kondisi tertentu tetapi jika dalam keseharian terus diterapkan…wajar saja ada anak-anak yang terpisah jauh dari orang tua walaupun berdekatan….

Dan mendidik anak itu memang membutuhkan ilmu yang banyak….jadi sekali lagi menjadi orang tua adalah proses belajar seumur hidup.

Hahh….lega sekali di sabtu yang ceria dan hectic hingga tulisan ini menjadi bersambung… tapi sangat menikmati setiap detik yang dihabiskan dengan manfaat….

Jadi yanti…ketika kita ditempatkan dalam suatu peristiwa…pasti adalah takdirNya untuk membuat kita belajar….

Alhamdulillah..atas apapun

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: