Becak Monyet…Hanya Sebagian Potret

Sebut saja namanya bu siti, umurnya sekarang mungkin mencapai 50 tahun. Dia sudah lama bekerja di pulau kembang yaitu sebuah tempat (semacam delta) yang terletak di sungai Barito, Kalimantan Selatan. Pulau Kembang pada akhirnya di tetapkan menjadi hutan wisata pada tahun 1976 dengan luas wilayah kurang lebih 60 Ha. Yang menarik dari pulau ini adalah tempat berkumpulnya kera dengan ekor panjang dan beberapa jenis burung sehingga sering menjadi objek wisata menarik bagi masyarakat lokal bahkan juga luar. Untuk menuju lokasi pulau kembang biasanya menggunakan kapal (kelotok;banjar) dengan biaya kurang lebih Rp.150.000 satu kapalnya. Satu kapal mungkun bisa muat sekitar 5-10 orang.

Kembali ke Bu Siti tadi, ibu ini memiliki dua orang anak, satu sudah menikah dan tinggal satu lagi yang tinggal dengannya. Suaminya sudah lama meninggal sehingga bu siti lah yang harus menghidupi keluarganya dengan bekerja di pulau kembang. “terserah kasih ala kadarnya ding gasan ongkos becak” kata seorang wanita lain. Tentu saja bukan menggunakan becak dan mengendarainya untuk membawa penumpang sampai tujuan, ini hanya istilah yang dilontarkan salah satu ibu, atau mungkin kalau di inggriskan kita sebut saja dengan Tour Guide.

Yup, Bu Siti bekerja sebagai becak monyet istilahnya. Mereka yang mengantarkan wisatawan untuk melihat-lihat pulau kembang dan bercengkrama dengan monyet-monyet ini. Dia membawa batang agak pangjang dalam mengantarkan wisatawan berkeliling, digunakan untuk menghalau monyet-monyet yang tiba-tiba agak nakal dengan wisatawan. Bu siti juga berjualan kacang, yang dijualnya untuk dibawa wisatawan untuk diberikan kepada monyet-monyet ini. Penampilan bu siti sederhana dan suka bercerita kepada yang didampingi, menjelaskan juga bahwa monyet-monyet disini sebenarnya baik-baik (heeee….. sambil menatap monyet-monyet itu.)

Bu siti juga kadang menjaga wisatasan dan memberi nasehat tentang barang-barang yang dibawa, bisa jadi dikira monyet makanan, atau kalau dia marah tiba-tiba di buang ke air (aihh…monyet…lucu sekali kau). Bu Siti bekerja dari pagi sampai siang sekitar jam 14.30. Ongkos setiap harinya dari rumah adalah Rp.20.000 dengan menggunakan kapal dan setiap hari bu Siti membawa kacang yang di jual kepada wisatawan. Jika jualannya habis, dan wisatawan yang diantar cukup ramai, mungkin Bu Siti bisa mendapatkan pendapatan kotor sampai seratus ribu rupiah yang kemudian dipotong modal  kacanng dan ongkos perjalan pulang pergi. Jika sepi kisaran yang dibawa pulang sekitar Rp.15.000-Rp.20.000 setiap harinya. Cukup untuk sehari-hari kata bu Siti, yang penting kerjaannya halal.

Sayang sekali tidak bisa ngobrol lebih lama dengan bu Siti, mungkin akan banyak cerita lagi yang di dapat. Tapi point utamanya adalah “ yang penting halal”. Mereka yang setiap hari berusaha menyambung nasib dengan bekerja, berusaha tidak merepotkan orang lain, juga tidak merugikan dan tidak menambah penggangguran. Potret-potret kecil kekuatan masyarakat  Indonesia yang terus berjuang dengan perannya masing-masing.

Terimakasih sudah memberikan ilmu sederhana Bu Siti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: